Hidayatullah.com– Pemerintahan baru Kolombia yang disokong Amerika Serikat, hari Kamis (24/9/2026), mengatakan telah memutus hubungan diplomatik dengan Iran.
Presiden baru Kolombia dari sayap kanan, Abelardo de la Espriella, mengubah aliansi negara itu sejak mengambil alih kekuasaan dari pendahulunya politisi kiri Gustavo Petro pada 7 Agustus dengan sokongan penuh dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sebelum dilantik, De la Espriella juga mengumumkan rencana untuk memutuskan hubungan dengan pemerintah aliran kiri di Kuba dan Nikaragua, meskipun belum dilakukanya.Pemerintahannya hari Kamis mengatakan bahwa pemutusan hubungan dengan Iran berlaku mulai 19 September dan diambil berdasarkan pertimbangan “keamanan nasional secara menyeluruh”.
Pemerintah Kolombia menuding pemerintah Iran memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok “narco-terrorist” yang mengancam keamanan negaranya, tanpa memberikan bukti-bukti pendukung tuduhan tersebut.
Menanggapi hal itu Kementerian Luar Negeri Iran, hari Jumat (25/9/2026), menyebut tuduhan itu sebagai “klaim tidak berdasar”.
“Jelas sekali bahwa tidak satu pun dari klaim yang diajukan oleh pemerintah Kolombia untuk menjustifikasi keputusan ini yang valid atau logis, dan keputusan ini dibuat semata-mata di bawah pengaruh rezim Zionis [Israel] dan Amerika Serikat.”
Iran menuding pemerintah Kolombia sendiri yang jelas-jelas berada di bawah pengaruh kartel-kartel narkoba.
Bogota juga mengkritik Iran karena memblokir rute maritim di Selat Hormuz dan menyerang negara-negara lain di Timur Tengah dalam peperangannya dengan Amerika Serikat dan Israel.
Meskipun memutus hubungan diplomatik dengan Teheran, pemerintah Kolombia mengatakan pihaknya akan tetap membuka hubungan konsuler dengan Iran, lansir AFP.*




