Hidayatullah.com–Hari terakhir Ramadhan yang bertepatan dengan 16 Juli 2015 warga Muslim Kabupaten Kaimana sibuk mempersiapkan diri menyambut Idul Fitri.
Para pengurus masjid dari kota hingga pedalaman sibuk mempersiapkan pembagian zakat fitrah dan maal selama Ramadhan. Di Masjid Sabilillah, Kota Kaimana yang merupakan pusat kegiatan ke-Islaman nuansanya cukup sibuk.
Setelah berbuka puasa di hari terakhir puasa, para tokoh umat Islam berkumpul guna memusyawarahkan persiapan final shalat Ied dan proses takbiran keliling malam Idul Fitri.
Setelah shalat isya semua masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah melalui Kemenag RI.
Setiap akhir Ramadhan masyarakat selalu berharap cemas dengan pengumuman hasil sidang isbat pemerintah tersebut. Sebab, waktu di Papua dua jam lebih cepat dari Jakarta yang mengikuti zona WIB. Jika hasil sidang memutuskan puasa digenapkan tiga puluh hari biasanya masyarakat melanjutkan shalat tarawih pada pukul 22. Malam.
Bersyukur tahun ini bisa kompak kembali, pukul 21.30 setelah ada pengumuman resmi dari pemerintah pusat, masyarakat kota Kaimana langsung turun ke jalan berkeliling kota.

Semua mobil dikeluarkan, motor, truk dan angkot turut berpartisipasi takbir keliling. Setelah pelepasan resmi di lapangan taman kota oleh wakil bupati semua perserta takbir keliling berjalan pelan-pelan menuju ke kampung-kampung hingga kilo meter “nol”. Diantara peserta takbir keliling tersebut tidak jarang warga non Muslim ikut berpartisipasi takbir keliling dengan mengendarai mobil atau motor.
Pagi harinya masyarakat berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan tanah lapang guna melaksanakan shalat Id secara berjamaah. Di kota Kaimana, shalat Id dilaksanakan di lapangan Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS), masjid jami’ dan masjid cendrawasih.
Ribuan orang memadati lapangan YAPIS dan masjid-masjid di kota Kaimana. Setelah shalat Id, masyarakat masyarakat berkeliling ke rumah-rumah guna menyambung silaturahim.
Uniknya, mereka yang Nasrani juga berkeliling turut bergembira dengan hadirnya Idul Fitri. Mereka melakukan hal tersebut sebagai muamalah sesama warga Kaimana. Nuansa keakraban dan toleransi yang cukup tinggi.
Pada hari kedua lebaran Idul Fitri, remaja masjid se-kota Kaimana melakukan pawai keliling kota dari pagi hingga sore. Mereka menabuh “hadrah” dan bershalawat keliling kota dan masjid-masjid se-kota Kaimana. Ribuan remaja, anak-anak hingga orangtua turut berpartisipasi dalam shalawat keliling ini.
Hari ketiga Idul Fitri remaja masjid se-kota Kaimana dan sekitarnya menabuh hadrah keliling keluar kota hingga ke kampung-kampung.
Shalawat keliling dimulai dari masjid “Kroi” dan berakhir di ujung kampung Coa kilometer “nol”. Tradisi menabuh hadrah ini terjaga bertahun-tahun.
Bagi masyarakat Muslim yang di pedalaman seperti di Teluk Arguni, mereka melaksanakan hadrah keliling diatas perahu dan boat.
Sembari bersilaturahim antar pulau, mereka menabuh hadrah dan bershalawat diatas boat secara beramai-ramai. Dari kampung seraran distrik arguni bawah terdapat 7 boat yang masing-masing berisi 15-20 orang.
Mereka menabuh hadrah berkeliling pulau menuju kampung-kampung Muslim di distrik yang sama bahkan hingga distrik arguni atas yang berjarak puluhan mil.
Keluarga mereka yang Nasrani datang menggunakan boat ramai-ramai berkunjung ke keluarga Muslim yang merayakan Idul Fitri.
Di Kaimana Papua Barat Kerukunan dan keakraban ini telah terjalin bertahun-tahun lamanya kecuali jika ada pihak-pihak yang menghasut terjadinya kerusuhan dan pertikaian “SARA” yang ingin menjadikan kedamaian di Papua menjadi hilang.*/Muhammad Ilyas (Kaimana)