Hidayatullah.com– Majalah ‘Foreign Policy'(FP) 18 April, 2014 melalui wakil editornya, Isaac Stone Fish baru-baru ini menulis sebuah artikel yang membandingkan Partai Komunis Uni Soviet dan Institutional Revolutionary Party (singkatan bahasa Spanyol: PRI) atau Partai Komunis Meksiko, untuk memastikan runtuhnya Partai Komunis China (PKC).
Inilah tulisan Isaac yang ditranslate oleh Ephoctimes Indonesia yang memprediksi, Partai Komunis China (PKC) sebentar lagi bangkrut.
Terlepas berapa tahun PKC masih bertahan, namun gejalanya sudah tampak.
Pertama, PKC dalam pelaksanaan reformasi ekonomi menampakkan langkah yang goyah.
Kedua, Xi Jinping, Sekretaris Jenderal Partai Komunis China, yang akhirnya terpilih sebagai Presiden Republik Rakyat China (Tiongkok) pada Maret 2013 dinilai gagal. Dalam pembasmian korupsi kepemimpinan PKC terjerembak ke dalam ‘lumpur’ yang dalam, memaksa orang lain berpikir tentang apakah Partai akan mampu untuk mengatasinya.
Terakhir, masyarakat Tiongkok sekarang lebih aktif berpikir, mereka makin peduli terhadap masalah polusi, kebebasan berbicara dan hubungan bilateral khususnya dengan negara-negara tetangga (terutama Jepang).
Sejak PKC merampas kekuasaan 65 tahun silam kemudian mendirikan Republik Rakyat China, yang perlu ditegaskan secara khusus adalah, partai dan negara merupakan 2 hal yang berbeda. Negara China telah ada jauh sebelum partai itu lahir.
Isaac Stone Fish berpendapat bahwa runtuhnya Partai Komunis Uni Soviet merupakan pelajaran terbaik bagi PKC.
Partai itu sudah lenyap sejak 1991, pemimpinnya seperti Lenin, Stalin dan Brezhnev telah masuk daftar orang jahat dunia.
Semalam sebelum runtuh Uni Soviet masih sebagai sebuah negara berpredikat ‘raksasa’, masih mampu berperan dalam perlombaan senjata dengan Amerika Serikat dan berperang selama 10 tahun di Afghanistan. Soviet saat itu menjadi miskin, perjalanan internasional dibatasi. Ekonomi terencana ala Moscow menyebabkan barang-barang yang diproduksi dalam negeri berkualitas buruk, tetapi barang impor langka di pasar.
Jatuhnya Partai Komunis Meksiko (PRI) lebih menunjukkan kepada PKC pada sifat tak terelakkannya keruntuhan. PRI telah berkuasa di Meksiko sejak 1929 hingga 2000.
Di bawah pemerintahannya, Meksiko menjadi negara dengan kediktatoran partai terlama di abad 20. Meskipun PRI dengan PKC berbeda dalam struktur dan ideologi, tetapi pengalaman mereka dan situasi mereka memiliki beberapa kesamaan yang menakjubkan. Mislanya, baik Meksiko maupun China sama-sama adalah bagian dari pasar global. Dalam masa belasan tahun terakhir sebelum PRI runtuh, walau sempat mengalami krisis ekonomi di era tahun 90-an, namun ekonomi Meksiko terus berkembang. China bahkan juga demikian.
Setelah Mao Zedong wafat pada 1976, PKC menggunakan sebagian besar waktu secara berhati-hati melakukan upaya demi eksistensi politiknya, untuk memperkukuh kekuasaan Partai. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh PRI antar 1980 – 1990. Berbeda dengan Partai Komunis Uni Soviet yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk melakukan penindasan. Pada tahun 90-an, tak lama setelah Presiden Meksiko Carlos Salinas de Gortari turun dari jabatan, pembasmian korupsi diarahkan kepada saudara-saudara Carlos, selain korupsi mereka terbongkar, juga berhasil mengekspos keretakan dalam tubuh elit politik Meksiko.
Namun, PKC masih memanjakan diri pada perbedaannya dengan Uni Soviet. Mereka kemudian memproduksi sebuah film enam episode berdasarkan kisah sebuah buku terbitan 2012 yang diberi judul ‘Memperingati 20 tahun jatuhnya Partai Komunis Uni Soviet dan Republik Sosialis Uni Soviet’. Film ini telah puluhan kali diputar dalam setiap pertemuan politik PKC baru-baru ini.
Mantan Duta Besar Meksiko untuk Republik Rakyat China Jorge Guajardo berpendapat bahwa PKC masih terobsesi dengan membanding-bandingkan diri dengan Partai Komunis Uni Soviet, ini sebenarnya sudah keliru dalam memilih objek.
Ia mengatakan kepada ‘FP’ bahwa dirinya sudah selama 6 tahun (2007 – 2013) berada di Tiongkok dan merasakan hidup seperti di Meksiko pada masa berkuasanya PRI.
Jorge Guajardo masih teringat ketika diundang ke Tiananmen untuk menyaksikan peringatan 60 tahun berdirinya RRT pada 1 Oktober 2009. Kegiatan dalam peringatan itu condong untuk mempromosikan lamanya kekuasaan dan legitimasi rezim PKC.
Pada kesempatan memeriksa barisan yang terdiri dari 10.000 anggota Angkatan Bersenjata China, Presiden Hu Jintao saat itu menerikkan, “Hidup Partai Komunis China”.*/bersambung artikel kedua