Hidayatullah.com–Bertempat di Clarion Hotel Istanbul Turki dari hari Jumat – Sabtu malam (13 -14 April 2018), IRED, sebuah organisasi pemuda tingkat dunia menyelenggarakan forum Al Quds Internasional bertama adalah “Al Quds is The Red Line” yang dihadiri perwakilan berbagai Negara.
Para peserta konfrensi yang hadir datang dari beragam negara Diantaranya; Arab Saudi, Mesir, Suriah, Palestina, Yaman, Chad, Al jazair, Maroko, Malaysia, Indonesia dan beberapa negara lainnya.
Tidak kurang 60 peserta asal Indonesia ikut hadir mewakili beragam lembaga atau institusi.
Mereka adalah kalangan yang punya perhatian terhadap isu-isu Palestina seperti; MIUMI, Spirit of Aqsha, FPI, DDII, Persis, Parmusi dan beragam kalangan lainnya.
Di antara nama delegasi yang menghadiri konfrensi internasional relawan Al Quds ini adalah Ustad Bakhtiar Nasir, Ustad. Zaitun Rasmin, Jeje Zainuddin, Sobri Lubis, Tamsil Linrung dan beragam tokoh lainnya.
Sementara dari negara-negara lain, khususnya dari negara-negara Timur Tengah ada Dr. Wisam al Uraibi, Dr. Ahmad Asyur, Dr. Rif’at Misri, Dr. Ahmad Audah, Dr. Ibrahim Minsi, Dr. Samir Said, Dr. Nawaf Takruri, Dr. Nuruddin Nabati, salah satu pejabat AKP Turki yang sekaligus memberi kata sambutan acara ini.
Baca: Al-Quds Diabadikan Sebagai Nama Jalan Protokol di Ankara
Penghargaan
Yang menarik, dalam forum ini, panitia meminta delegasi dari Indonesia, Ustad Bakhtiar Nasir (UBN) untuk memberikan sambutan terakhir.
Dalam orasinya, UBN, begitu ia akrab disapa, mengajak kepada beragam komponen termasuk para pemimpin Dunia Arab untuk peduli kepada Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha serta mengimbau agar seluruh ummat ini bersatu dan jangan berpecah belah.
“Musibah terburuk umat saat ini adalah perpecahan. Kekalahan dahulu cukup sudah menjadi pelajaran, kini saatnya bersatu,” tegas UBN.
“Kita tidak akan surut dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Kami memang datang dari jauh. Tapi kemenangan itu sangat dekat,” ungkap pria yang videonya saat Aksi Bela Palestina di Jakarta 17 Desember 2017 yang viral di masyarakat Palestina ini.
Dalam acara ini, UBN juga menerima pernghargaan atas usaha bersama para ulama Indonesia memperjuangkan pembebasan Palestina.
Saat Sekjen MIUMI itu dipanggil menaiki panggung, dia memanggil semua ulama dan tokoh Indonesia yang hadir untuk juga ikut naik panggung bersama.
Demikian juga dengan Zaitun Rasmin yang tampil dengan membawakan sebuah nasyid tentang Palestina dan al Aqsha.
Dalam acara itu juga ada pernyataan yang menarik dari salah seorang tutor seputar wawasan tentang Masjid Al Aqsha yaitu Syaikh Samir Said. Dimana beliau menyampaikan ada empat hal yg perlu dilakukan oleh umat Islam dan secara spesfisik para dainya:
Pertama, mengajak mengenalkan, mmenyadarkan dan membekali ummat pengetahuan seputar al Aqsha. Kedua, mengkondisikan umat perihal al Aqsha. Ketiga, mendukung proyek-proyek seputar al Quds dan Al Aqsha. Keempat, pada akhirnya yang perlu dilakukan kaum muslimin adalah membebaskan Masjid al Aqsha dari cengkraman penjajah kalangan Yahudi dan Zionis.
Demikian juga yang dinyatakan oleh salah seorang tokoh Mesir Dr. Ra’fat Mishri yang menyatakan bahwa ada tiga hal yang dapat dilakukan dalam rangka meraih kemenangan untuk mengembalikan al Aqsha kepada pangkuan kaum muslimin.
Pertama, membuat perencanaan yang matang dan menjalankan perencanaan tersebut dengan baik, kedua, menanamkan kepada hati ummat untuk memuliakan masjid al Aqsha, ketiga, menjadikan al Aqsha dirindukan oleh ummat Islam dan salah satu caranya dengan melihat keutamaan-keutamaan yang dimiliki al Aqsha,” ujarnya.
Dalam orasinya, Raf’at Mishri, juga menyampaikan sebuah ungkapan indah, dimana, menceritakan ada orang-orang Palestina yang berkunjung kepada Syeikh Ali Tanthawi. Dalam pertemuan itu, Seaikh Thantawi menyatakan, “Kalian adalah orang-orang yang paling kuat. Namun Allah kirimkan kepada kalian sosok yang paling lemah (maksudnya Syaikh Ahmad Yasin, seorang pejuang yang hanya duduk di kursi roda dan hanya mampu menggerakan lehernya saja) untuk melawan penjajahan sebagai pelajaran bagi kalian. Bagaimana kalau yang melawan itu adalah kalangan yang kuat?”.*/kiriman Anung Al Hamat, delegasi MIUMI DKI Jakarta dari Ankara