Hidayatullah.com—Bekas presiden Maladewa (Maldives), Mohamed Nasheed, terluka akibat serangan bom di ibukota Male.
Ledakan terjadi ketika Nasheed akan memasuki mobil di luar rumahnya pada Kamis malam, lapor BBC Jumat (7/5/2021).
Media setempat melaporkan bahwa bom rakitan dipasang di sebuah motor yang diparkir dekat mobil Nasheed.
Mohamed Nasheed, 53, merupakan presiden Maladewa pertama yang terpilih secara demokrasi dan merupakan pengkritik golongan Muslim garis keras. Dia memenangkan pemilu 2008, tetapi didepak empat tahun kemudian melalui kudeta.
Nasheed saat ini menjabat ketua perlemen, yang merupakan kekuasaan kedua terkuat di negara yang terletak di Samudera Hindia itu.
Ledakan terjadi pada pukul 20.39 waktu setempat, menjelang pemberlakuan jam malam yang diterapkan guna meredam penyebaran coronavirus.
Ali Azim, seorang anggota parlemen dari partai pemerintah Maldivian Democratic Party (MDP), mengatakan kepada BBC bahwa ledakan itu sepertinya merupakan serangan yang memang menarget Nasheed.
Namun, hingga berita diturunkan belum ada laporan tentang penangkapan tersangka.
Rumah sakit yang merawat Nasheed mengatakan bahwa bekas presiden itu mengalami beberapa luka, tetapi kondisinya stabil.
Empat orang dilaporkan terluka dalam peristiwa itu, termasuk pengawal Nasheed dan orang yang sedang berada di sekitar lokasi kejadian.
Nasheed bukan saja dipandang sebagai ikon demokrasi Maladewa, tetapi dia juga lantang berbicara menolak radikalisme agama.
Nasheed dilarang ikut mencalonkan diri pada pilpres 2018 setelah dia menjadi terdakwa sejumlah kasus pidana.
Dia pulang ke negaranya dari pengasingan setelah partainya memenangkan pemilu 2018 dan kemudian memasuki parlemen.
Maladewa merupakan negara dengan penduduk mayoritas Muslim (Sunni). Negara kepulauan mungil berpenghuni 1.192 orang itu dikenal sebagai tujuan wisata yang menawarkan resor pantai dan laut mewah alami.
Situasi politik di negara itu tidak stabil sejak berakhirnya pemerintahan Presiden Maumoon Abdul Gayoom pada 2008 setelah kalah pemilu. Terjungkalnya Abdul Gayoon dari kursi presiden yang didudukinya selama puluhan tahun menandai akhir pemerintahan otokratis di Maladewa.
Presiden Ibrahim Solih menyebut ledakan tersebut sebagai “serangan terhadap demokrasi dan perekonomian Maladewa.”
Solih mengatakan investigasi sudah dimulai dan anggota Australian Federal Police (AFP) akan tiba hari Sabtu untuk membantu polisi setempat.
Ini merupakan kali kedua otoritas Australia membantu Maladewa dalam penyelidikan kasus percobaan pembunuhan tokoh ternama. Pada 2015, AFP dan dinas intelijen Amerika Serikat FBI membantu nb penyelidikan peledakan kapal cepat milik presiden kala itu Abdulla Yameen.*