Hidayatullah.com—Seorang bayi perempuan meninggal pada hari Ahad (22/10/2017) di Kota Kafr Batna karena malnutrisi akibat pengepungan yang terus berlanjut oleh Rezim tentara Bashar al Assad di sebuah pedesaan di timur Damaskus.
“Sagr Dhfdeh, akan dapat diselamatkan jika dia mendapat cukup gizi dan perawatan kesehatan,” ujar wartawan Orient News, melaporkan dari Ghouta Timur.
Baru-baru ini, gambaran tentang bayi yang menderita akibat kekurangan gizi dan Perang Suriah secara cepat menyebar ke seliruh dunia, sekaligus menimbulkan kesedihan banyak orang. Mengingatkan video anak laki-laki Suriah, Omran Daquneesh yang dipenuhi darah dan debu setelah serangan udara Rusia di Aleppo tahun lalu.
Lebih dari 90.000 keluarga berada di bawah pengepungan rezim Bashar di daerah pedesaan Ghouta Timur. Krisis kesehatan semakin memperburuk setiap hari akibat blockade satu-satunya jalan yang tersisa oleh Rezim tentara Bashar al Assad selama lebih dari lima bulan ini.
Harga makanan melambung sepuluh kali lipat. Termasuk harga satu kilo roti sudah mencapai 1.400 SP.
Satu kilo beras mencapai 2000 SP (4,3 $), satu kilo gula mencapai 4300 SP (9,3 $) dan satu kilo garam mencapai 3000 S.P (6,5 $).
Harga yang melonjak ini meningkatkan penderitaan orang-orang di Ghouta Timur, yang tinggal di bawah pengepungan Assad sejak tahun 2014.
“Saya adalah ayah lima anak dan bekerja dengan gaji 100 $. Penghasilan ini memberi kita kebutuhan dasar kurang dari 10 hari,” ujar Abu Ahmad, seorang penduduk setempat mengatakan kepada Orient News.
Harga obat-obatan mengalami kenaikan tajam. Pasien yang menderita diabetes, hipertensi atau penyakit kronis lainnya berada dalam kondisi yang mengerikan.
Menjelang musim dingin, kondisi semakin dirasakan mencekik penduduk setempat karena kenaikan tajam harga bahan bakar dan gas.
Kayu bakar, yang merupakan kebutuhan dasar untuk pemanasan dan memasak, menjadi sesuatu yang langka.
Um Ghassan, seorang janda 3 anak berkata, “Saya tidak mampu membeli kayu bakar. Saya dan anak-anak mengumpulkan potongan kayu, sisa-sisa plastik dari jalanan.”
Orang-orang di timur Damaskus menarik perhatian organisasi hak asasi manusia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengalihkan perhatian mereka pada tragedi yang mereka alami dan menemukan solusi untuk mengakhiri krisis ini.
Perang Suriah selama tujuh tahun dan kekejaman Rezim Bashar menyebabkan ratusan ribu orang terbunuh dan lebih dari satu juta orang Suriah menjadi tunawisma.*