Hidayatullah.com–Jenderal (Purn) Leonardus Benyamin Moerdani, yang juga dikenal sebagai tokoh dibalik penembakan misterius (petrus) di tahuan 80-an itu kemarin telah menghembuskan napas terakhirnya di ICU Paviliun Kartika RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Minggu, (29/8), dini hari sekitar pukul 01.15. Diiringi letusan salvo, jenazah tokoh yang selama ini dianggap sebagai peletak modernitas ABRI itu diturunkan sepuluh prajurit ke liang lahat di TMP Kalibata kemarin pukul 13.30. Beberapa tokoh militer nampak hadir. Diantaranya, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, yang memimpin langsung upacara secara militer. Sedangkan upacara keagamaan dipimpin langsung oleh Pastur Suito Panito. Mantan Presiden Soeharto didamping putrinya, Siti Hardiyanti Rukmana juga Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi istrinya, Kristiani Herawati ikuit melayat ke kediaman almarhum. Selian itu, Presiden Megawati Soekarnoputri beserta suami, Taufik Kiemas, menghadiri upacara penghormatan terakhir dan serah terima jenazah mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) itu saat almarhum disemayamkan di Mabes TNI AD. Selain dihadiri kalangan militer, juga datang mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, beberapa pejabat pemerintahan era Orde Baru, seperti Harmoko, Ali Alatas, dan Fuad Hassan. Juga hadir Kwik Kian Gie dan Alwi Shihab. Dari kalangan militer, hadir mantan Panglima ABRI yang juga mantan Wakil Presiden Jenderal (Purn) Try Sutrisno, Jenderal (Purn) Edi Sudrajat, dan kalangan anggota Centre for Strategic and International Studies (CSIS), seperti Harry Tjan Silalahi, Sofjan Wanandi, dan Mari Pangestu. Juga Des Alwi dan Frans Seda. Melukai Umat Islam Semasa hidupnya jenderal bintang empat itu pernah menjadi orang yang paling disegani di kalangan militer. Saat berkuasa, pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, ini disebut-sebut sebagai orang nomor dua terkuat setelah Presiden Soeharto. Benny–begitu L.B. Moerdani disapa– dikenal sebagai penata organisasi intelijen di tubuh militer. Benny juga dikenal sebagai penggagas Badan Intelijen Strategis (Bais) pada 1983 dan orang penting dibalik penembakan misterius (petrus) di tahun 80-an. Pria kelahiran 2 Oktober 1932 ini juga dianggap sukses karena telah mengembalikan Timor-Timur dalam ‘Operasi Seroja’ tahun 1975. Meski dalam karir militer telah mencatat nama besarnya, namun kegiatan penganut Katolik yang taat itu juga telah menorehkan tinta hitam bagi kalangan Islam Indonesia. Diantaranya adalah ‘Operasi Woyla’ tahu 1981 dan “Komando Jidah” yang hingga kini banyak diyakini sebagai rekayasa militer. Bersama Try Sutrisno, Benny juga dianggap sebagai orang penting dibalik insiden berdarah pembantaian aktifis Islam di Tanjung Priok 12 September 1984. Meski pengadilan belum mengungkap, sejumlah saksi menyebut, Benny-lah orang penting yang dididuga ikut bertanggung jawab atas kasus pelanggaran berat hak asasi manusia itu. Meski demikian, hingga akhir hayatnya, keterlibatan Benny dan sejumlah petinggi militer masih tak terungkap. (cha, berbagai sumber)