Hidayatullah.com–Islam sejatinya tidak pernah menimbulkan masalah. Eropa seharusnya belajar demokrasi dari Islam. Dalam implementasinya, sikap demokratis umat Islam di Indonesia, misalnya, tidak melahirkan kendala yang besar.
Hal itu diungkapkan tokoh Katolik dan budayawan Indonesia Prof. Dr Franz Magnis Suseno dalam acara seminar EU-Indonesia: “Islam In A Globalising World” di Hotel Intercontinental Jl. Jenderal Sudirman Jakara Pusat, Rabu (30/6).
Dikatakan Prof Magnis, sejauh yang dia ketahui, Islam tidak pernah melahirkan kendala dalam demokrasi.
Namun, penerapan tentang isu Hak Asasi Manusia (HAM) umat muslim memang belum bisa dikatakan baik.
“Di bidang HAM, memang belum secara terbuka. Tapi memang kebebasan beragama adalah suatu isu yang sangat sensitif,” katanya.
Justru, lanjut dia, masalah yang muncul seringkali berasal dari muslim kalangan akar rumput (awam). Tak jarang juga malah ada yang memanfaatkan untuk kepentingan politik.
Seringkali, kata dia, perda-perda syariat banyak diusung pendukung partai nasionalis, bukan dari partai yang memiliki basis Islam yang kuat. Ini disebut Franz Magnis sebagai opportunisme politik.
”Untuk menghadapi globalisasi dunia saat ini, para cendekiawan muslim memiliki peran penting untuk melakukan diskursus intelektual. Apalagi sekularisme Eropa, terkadang menimbulkan kesan yang tidak baik,” kata Franz Magnis.
“Terkadang ada kesan berdebu, kuno, dalam sekularisme Eropa ini,” ujar dosen filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini.
Dia mencontohkan, pada mayoritas masyarakat Eropa masih mengganggap Islam sebagai ancaman, terutama karena propaganda media. Terjadi ketidakpercayaan terhadap Islam.
“Eropa terkesan tidak mau membuka dialog. Ini menjadi tanggung jawab para cendekiawan untuk membuka diskursus intelektual yang baik,” katanya memungkasi. [ain/hidayatullah.com]