Hidayatullah.com–Menghapal al Quran dan Hadits bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun itu memungkinkan dilakukan. Gambaran tersebut terlihat dalam Musabaqah Hifzil Quran dan Hadits (MHQH) ke-5 tingkat Asia-Pasfik atau Prince Sultan Bin Abdul Aziz Competition on The Memorization of Quran and Sunnah for ASEAN and Pacific.
Para peserta akan mengikuti lomba hafalan dengan cara satu persatu melanjutkan potongan ayat yang diberikan para juri di atas panggung yang digelar di Aula Sakinah, Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Jakarta, 11-14 Februari 2014.
Ada lima kategori perlombaan: empat kategori hapalan Quran dan satu hapalan Hadits.
Empat kategori hapalan Quran terdiri dari hapalan Quran 30 Juz, 20 Juz, dan 15 Juz serta 10 Juz. Masing-masing kategori perlombaan mendapatkan empat soal.
Khusus untuk penghapal Quran 30 Juz dan Hadits, masing-masing mendapatkan lima soal.
“Setelah Syeikh selesai membacakan potongan ayat, peserta diminta untuk melanjutkannya. Soal panjangnya ayat, terserah Syeikh. Bisa setengah halaman. Bisa juga satu halaman,” tutur Ghufran Harun, Staf Atase Agama Kedubes Arab Saudi kepada hidayatullah.com, Selasa (11/02/2014).
Pria yang sudah empat tahun terakhir menjadi penanggungjawab pembuatan soal kompetisi itu mengaku mendapat kiriman ribuan soal dari Kementrian Agama di Arab Saudi.
“Mereka memberikan guidance-nya. Panitia di Indonesia menyusun, ayat mana saja yang akan dirangkaikan. Kalau dua ayat pertama sudah panjang, maka ayat berikutnya dipilih yang lebih pendek,”ucap Ghufran tentang padanan soal yang dibuatnya bersama sesama panitia lainnya.
500 Hadits
Dari 81 peserta, hanya 15 orang peserta hapalan Hadits. Menurut Ghufran, mereka sudah siap tempur dengan hapalan 500 Hadits. Sebanyak 100 Hadits bersanad dan sisanya tidak.
Ghufran mengatakan, dari lima soal yang diberikan pada peserta, hanya dua soal saja yang merupakan hadits bersanad.
“Jangan dikira gampang, lho, menghapal hadits. Apalagi hadits bersanad, mereka harus mengurutkan nama-nama perawinya dengan tepat sampai tersambung pada Rasulullah,”terangnya.
Acara ini akan diuji oleh dua orang juri asal Madinah; Syeikh Abdul Muksin bin Muhammad al Qasim dan Syeikh Abdullah al Jarullah.
Syeikh Abdul Muksin merupakan Imam Masjid Nabawi, Madinah. Sedangkan Syeikh Abdullah merupakan Dewan Juri hapalan Quran dan Hadits Internasional.
Penilaian peserta tidak hanya berdasarkan kebenaran tajwid dan kelancaran melanjutkan ayat dengan tepat.
“Ketepatan memberhentikan ayat dan melanjutkannya kembali, juga menjadi poin penting,”ungkap Ghufran.
Pria yang lima tahun terakhir bekerja di Kedubes Arab Saudi itu, mengatakan, ketepatan menyambung ayat sangat bergantung pada pemahaman peserta terhadap arti per-kalimat.
Dalam pantauan hidayatullah.com pada hari pertama, rata-rata peserta bisa menguasai diri dengan baik di panggung.
Jika terjadi kesalahan hapalan dan panjang-pendek harakat, bel dibunyikan Syeikh.
Berikutnya, peserta langsung mengulangi hapalan yang benar. Jika berkali-kali salah, Syeikh akan membetulkannya, kemudian akan dilanjutkan peserta.*