Hidayatullah.com–Dengan digelarnya deklarasi penutupan lokalisasi maksiat Dolly-Jarak pada Rabu, 18 Juni 2014, oleh Pemkot Surabaya, Tri Rismaharini, kini kawasan pelacuran ini mulai sepi.
“Sekarang sepi mas, setelah Dolly-Jarak resmi ditutup sama Pemkot Surabaya,” ujar Umi, salah satu pemilik warung kopi yang berjualan selama 15 tahun di lokalisasi itu kepada hidayatullah.com, Selasa (09/09/2014).
Menurutnya, para pelacur sudah banyak yang kembali ke kampung halaman. Tetapi ada juga beberapa yang pindah ke Batam, Kalimantan dan Bali.
“Nggak tahu, untuk apa mereka pindah ke sana.” timpalnya.
Sementara itu, pantauan hidayatullah.com di sepanjang jalan Dolly-Jarak terlihat beberapa wisma dan panti pijat yang mulai dijual oleh pemiliknya.
Seperti panti pijat milik Endang yang sudah ada sejak tahun 1975. Pada pamlet yang tertempel di depan bangunan berlantai dua itu, Endang tawarkan dengan harga jual 7,5 M atau sewa 150 juta per bulan.
“Kalau pun Pemkot mau beli tempat ini yah silahkan, kalau tidak juga nggak apa-apa,” katanya di sela-sela perbincangan dengan hidayatullah.com.
Selain panti pijat, ada beberapa wisma lain yang dijual, salah satunya Wisma Asih 2. Di depan wisma terpasang spanduk kecil bertuliskan “Rumah dijual, S.H.M, hub : 081xxx”.
Berbeda dengan Zarkasi, pemilik sebuah tempat jasa parkir yang biasanya disediakan untuk para pelanggan lokalisasi. Ia tidak lagi menggunakan tempat tersebut untuk parkir namun ia alihkan untuk tambal ban.
“Sejak Dolly ditutup nggak ada lagi pelanggan yang berkunjung. Mau nggak mau saya alihkan tempat ini untuk tambal ban, meskipun pemasukan bisa dibilang kurang,” ujar Zarkasi, warga asli Dolly yang baru dua minggu memulai usahanya itu.*/Achmad Fazeri (Surabaya)