Hidayatullah.com – Cara penanggulangan tindak terorisme saat ini dinilai menjadi masalah, terutama sejak peristiwa 9/11 di Amerika Serikat, dimana Presiden George W. Bush waktu itu melancarkan pernyataan War on Terror yang justru mengambil bentuk dari terorisme itu sendiri.
Hal itu disampaikan Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP), Prof. Din Syamsudin dalam pengajian bulanan Pengurus Pusat Muhammadiyah bertema “Pemberantasan Terorisme yang Pancasilais dan Komprehensif”di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jum’at malam, (08/04/2016).
“War on Terror melahirkan kesalahan fatal terhadap Islam,” ujar Prof. Din melalui pesan video kepada para jama’ah yang hadir.
Dampak dari pernyataan yang merugikan Islam tersebut, menurut Prof. Din, ada tiga. Pertama, mengaitkan terorisme dengan Islam. Kedua, melahirkan generalisasi terhadap kelompok umat Islam. Ketiga, melakukan stigma yang bertujuan merusak Islam khususnya melalui media.
“War on Terror inilah yang menimbulkan reaksi, dan melahirkan islamophobia di kalangan Barat, sehingga muncul reaksi dari umat Islam yang berujung pada aksi,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, terang Prof. Din, War on Terror menemui jalan yang salah. Dan kini “strategi” itu telah diganti dengan istilah deradikalisasi.
Namun, ia menegaskan, deradikalisasi juga tak berbeda dengan War on Terror. Sehingga, lanjut Prof. Din, pemberantasan terorisme haruslah berdasarkan nilai Pancasila sebagaimana tertuang dalam sila pertama dan kedua.
Dan juga secara dilakukan secara komprehensif, yakni tidak hanya melihat dari ranah ideologi saja, tetapi juga faktor lain, yakni faktor non agama seperti kesenjangan, ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik, baik tingkat global maupun regional.*