Hidayatullah.com– Muhammad Khudori (14), salah seorang santri di Pondok Pesantren Riyadussibat, Sidemen, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa 7,0 Skala Richter, Ahad (05/08/2018), pukul 18.46 WITA.
“Anak saya terluka parah di bagian kepala,” ujar Khairul, ayah dari korban meninggal dunia yang ditemui ketika sedang menangisi kematian anaknya di jalan raya depan Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Mataram.
Khairul mengatakan, anaknya yang baru beberapa waktu duduk di kelas 1 MTs itu tertimpa reruntuhan bangunan saat sedang mengaji.
Khairul sendiri mengangkut anaknya menggunakan mobil warga ke RSAD Mataram dari pondok pesantren yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumahnya.
Kondisi ayah dua anak itu memprihatinkan. Ia muntah-muntah sambil menangis dalam kondisi kedinginan karena hanya menggunakan sarung dan baju dalam.
Saat dilaporkan Antaranews pukul 21.38 WIB, mayat berada di atas mobil ambulans yang terparkir di jalan raya. Tenaga medis rumah sakit sibuk mengurus pasien yang kondisinya sangat serius.
Para pasien RSAD Mataram diungsikan ke jalan raya dan lapangan kantor Gubernur NTB yang tidak jauh dari rumah sakit.
Wartawan Biro NTB kantor berita itu yang melaporkan dari lokasi pengungsian juga membawa isteri dan dua anaknya ke lapangan kantor gubernuran karena ada informasi air laut naik.
Gempa bumi berkekuatan 7,0 SR mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa, Ahad, pukul 18.46 WITA, dengan pusat gempa terletak pada 8,3 Lintang Selatan, 116,48 Bujur Timur Kabupaten Lombok Utara dengan kedalaman 15 kilometer.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami, namun beberapa waktu kemudian, berdasarkan perkembangan terbaru, menyatakan peringatan tsunami itu berakhir.
Baca: Gempa NTB 7 SR, sempat Dinyatakan Peringatan Dini Tsunami
Sementara itu, informasi dihimpun hidayatullah.com, suasana panik dan mencekam melanda saat gempa tersebut terjadi, bahkan dirasakan pula warga dan santri salah satu pesantren di Kota Mataram, NTB.
“Ya, lumayan besar (getarannya), makanya pada panik,” ujar ustadz Pembina Yayasan Al-Iman Hidayatullah Mataram, Ismuji, kepada hidayatullah.com melalui wawancara jarak jauh, Ahad malam.
Malam ini pun warga dan santri terpaksa tidur di luar rumah dan bangunan demi mengantisipasi dampak gempa susulan.
“Malam ini kami tidur segenap warga pondok di halaman,” ungkap Ismuji.*