Hidayatullah.com– KH Cholil Nafis turut berbelasungkawa atas meninggalnya mantan presiden Mesir Dr Mohammad Morsi di pengadilan di Mesir, Senin waktu setempat.
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Depok, Jawa Barat, ini pun mendoakan almarhum yang merupakan tokoh penting dalam Ikhwanul Muslimin dan presiden pertama yang terpilih secara demokratis dalam sejarah modern Mesir itu.
Kiai Cholil secara tidak langsung menilai bahwa almarhum adalah sosok pejuang di jalan Allah dan pejuang di jalan Allah akan berpulang dalam keadaan berjuang.
“Orang akan meninggal sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Orang yang berjuang di jalan Allah akan meninggal saat ia berjuang,” ujar Kiai Cholil lewat kicauannya di Twitter, Selasa (18/06/2019) dan telah dikonfirmasi ke hidayatullah.com, malam ini.
Baca: Inilah Reaksi Internasional atas Meninggalnya Mantan Presiden Mesir Mohamad Morsi
Pemilik akun @cholilnafis ini pun menuliskan doanya dalam berbahasa Arab untuk Morsi:
“…غفر الله لك ياالمرحوم محمد مرسي واجعل الجنة مثواك. كَتَبَهُ اللّهُ منَ الشُهَدَاءِ وَأَدْخَلَهُ جَنَّتَهُ الفِرْدَوْسَ .. آمِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ”
Dalam terjemahan bebas, lewat doa tersebut, Kiai Cholil berdoa semoga Allah mengampuni Almarhum Mohammad Morsi dan berharap Allah menjadikan surga tempat kembali almarhum. “Semoga Allah menjadikannya bagian dari syuhada dan memasukkannya ke dalam surga firdaus-Nya. Amin Ya Rabbal alamin.”
Masih dalam satu twit itu, Kiai Cholil juga mengunggah sebuah foto Morsi yang sedang berdoa di atas sajadah.
Waganet menanggapi doa yang disampaikan Kiai Cholil untuk Morsi tersebut.
“Yai NU mendoakan tokoh IM itu sesuatu banget. Salam takzim Yai??,” tulis akun @syahruzzaky membalas twit Kiai Cholil.
“Semua mempunyai ijtihad untuk memperjuangkan keyakinannya. Selama itu niat dan melalui upaya yang benar Insya Allah menjadi amal baik,” Cholil menanggapi balik akun tersebut.
Baca: Mantan Presiden Mesir Mohammad Morsi Meninggal Usai Persidangan
Sebelumnya, mantan Presiden Mohammad Morsi yang digulingkan meninggal mendadak hari Senin di pengadilan setelah berakhirnya persidangan dalam gugatan spionase.
Mohamed Morsi sebelumnya telah meminta untuk berbicara dan hakim memberinya izin, lapor Extra News dikutip egypttoday.com.
TV pemerintah pada Selasa melaporkan bahwa Morsi tidak sadarkan diri setelah sesi pengadilan dan meninggal tidak lama setelahnya.
Mohammad Morsi (67) merupakan anggota gerakan Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam paling ditakuti hampir semua rezim Mesir, terpilih menjadi presiden secara demokratis pada tahun 2012 setelah demonstrasi Arab Spring 2011. Sekaligus menjadi akhir dari kekuasaan 30 tahun rezim otoriter Hosni Mubarak.
Baru satu tahun menjabat, dari masa jabatan empat tahun, Morsi kemudian digulingkan dalam kudeta militer pimpinan Jendreal Abdul Fattah al Sisi pada Juli 2013. Sementara organisasi ia berasal, Ikhwanul Muslimin, sejak itu dilarang.
Morsi, telah kehilangan kesadaran selama sebelum dia meninggal di persidangan yang dia hadapi untuk sejumlah tuduhan sejak dia digulingkan dan dipenjara, kutip Anadolu Agency.
Baca: Presiden Mursi Menghadapi ‘Kematian’ Perlahan Karena Penyiksaan
Ada enam dakwaan terhadap mantan presiden Mesir ini setelah militer mengambil alih kekuasaan berdarah. Termasuk tuduhan pembunuhan, mata-mata untuk Qatar, mata-mata untuk Hamas dan Hizbullah, menghina pengadilan dan keterlibatan dalam terorisme.
Pengadilan Kriminal Kairo telah menunda pengadilan Morsi dan 23 orang lainnya dalam kasus “berkolaborasi dengan Hamas” untuk besok.
Pada November 2016, Pengadilan Kasasi juga membatalkan hukuman seumur hidup Morsi dan 21 orang terdakwa lainnya, termasuk beberapa orang yang dijatuhi hukuman mati, dalam kasus yang sama, dan memerintahkan pengadilan ulang.
Pada bulan Ramadhan 2019 ini, Morsi telah melewati Ramadhan ke-6 di penjara tanpa diketahui kondisi penahanannya.
Pihak keluarga Morsi sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan tertulis mengungkapkan kekhawatiran tentang kondisi penahanan dan kondisi kesehatannya.
Keduanya ditahan di sel isolasi di Penjara Tora di selatan Kairo.
Pihak keluarga mengatakan, kondisi penahanan dan kesehatan Morsi sama sekali tidak diketahui.
April 2019 lalu, Jenderal militer Tel Aviv, Aryeh Eldad secara mengejutkan mengatakan, Israel dalang di balik kudeta terhadap Mohammad Morsi tahun 2013 melalui militer Mesir.
Hal ini diungkap Aryeh Eldad, dalam sebuah artikel di surat kabar Israel, Maariv terkait kudeta militer itu.
“Pecahnya revolusi Januari bertepatan dengan penilaian keamanan Israel bahwa Presiden terpilih Mohammad Morsi, seorang pria Ikhwanul Muslim, bermaksud untuk membatalkan perjanjian damai dengan Israel dan mengirim lebih banyak pasukan militer Mesir ke Semenanjung Sinai,” tulis Eldad.
Baca: Mantan Presiden Mesir Mursi Habiskan Ramadhan ke-7 di Penjara Isolasi
Kabar meninggalnya mantan presiden Mesir Dr Mohamad Morsi yang sangat mendadak saat siding di pengadilan, mengejutkan dunia internasional. Mantan presiden berusia 67 itu meninggal setelah pingsan di pengadilan Kairo saat diadili atas tuduhan spionase, menurut pihak berwenang.
Sarah Leah Whitson, Direktur Eksekutif Human Right Watch Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara hari Senin menyebut kematian mantan presiden pertama yang terpilih secara demokratis di Mesir itu “mengerikan tetapi sepenuhnya dapat diprediksi”, mengingat kegagalan pemerintah (Mesir) memberinya perawatan medis yang memadai.
“Apa yang telah kami dokumentasikan selama beberapa tahun terakhir adalah kenyataan bahwa ia berada dalam kondisi terburuk. Setiap kali ia muncul di hadapan hakim, ia meminta perawatan medis pribadi dan perawatan medis,” kata Whitson kepada Al Jazeera.
“Dia kekurangan makanan dan obat-obatan yang memadai. Pemerintah Mesir telah mengetahui dengan sangat jelas tentang kondisi kesehatannya yang terus menurun. Dia telah kehilangan banyak berat badan dan juga pingsan di pengadilan beberapa kali.*