Hidayatullah.com–Zionis Israel membebaskan 550 tahan Palestina, Ahad (18/12/2011), dalam tahap kedua perjanjian pertukaran tahanan antara Hamas dengan Zionis.
Hampir semua tahanan yang bebas melewati pintu perbatasan di Tepi Barat. Mereka disambut oleh ribuan warga Palestina yang menunggu dengan suka cita di Ramallah.
Walaupun yang melakukan perjanjian pembebasan tahanan adalah Hamas, pemerintah Palestina di Jalur Gaza, namun orang-orang yang menyambut sebagian besar mengibar-kibarkan bendera Fatah, partai Presiden Mahmud Abbas yang menguasai wilayah Palestina di Tepi Barat.
Berbeda dengan tahap pertama, tidak ada satupun tahanan yang dibebaskan dalam tahap kedua ini yang terlibat bentrokan berdarah dengan Zionis, tidak ada yang tersangkut kasus pembunuhan warga Yahudi Israel. Selain itu, anggota Hamas dan Jihad Islam juga tidak ada yang dibeaskan. Sebagian besar dari mereka –disamping sejumlah tahanan wanita dan anak– adalah anggota Fatah.
Dua bus yang mengangkut 41 tahanan ke Jalur Gaza dikawal oleh Palang Merah Internasional. Mereka masuk ke wilayah Gaza lewat pintu perbatasan Rafah. Ratusan orang yang menyambut mereka mengibar-kibarkan bendera berbagai faksi Palestina.
“Perasaan gembira saya bercampur dengan kesedihan, karena kami meninggalkan saudara-saudara kami tercinta, kami berharap mereka semua akan dibebaskan,” kata Samer Aweidat, yang telah menjalani empat dari enam tahun kurungan, karena memiliki senjata dan menjadi anggota sebuah kelompok perjuangan, dikutip Maan.
Prajurit Zionis Gilad Shalit diculik oleh kelompok pejuang Palestina pada Juni tahun 2006, yang berhasil menyergap tank Israel dan membunuh dua rekan Shalit. Setelah dijadikan sandera beberapa tahun lamanya, dua buan lalu Hamas yang menyembunyikan Shalit mencapai kesepakatan dengan Israel untuk menukarnya dengan 1027 tahanan Palestina yang berada di penjara-penjara Zionis.
Menurut pengamat politik di Gaza, Hani Habib, ZIonis Israel menggunakan pertukaran tahanan tahap kedua ini untuk memecah belah kelompok-kelompok Palestina, dengan memilih membebaskan para anggota Fatah –yang selama ini bekerjasama dengan Zionis–dan tidak membebaskan anggota Hamas dan Jihad Islam yang dianggap sebagai kelompok teroris oleh Barat.
“Israel berkepentingan untuk mengubah kemenangan yang telah diraih menjadi ketidaknyamanan dan perpecahan di pihak Palestina, lewat sikap diskriminatifnya,” kata Habib.