Hidayatullah.com–Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu membuka perayaan 70 Tahun Pendirian ‘Negara palsu’ ‘Israel’ sebagai negara merdeka saat matahari terbenam hari Rabu (18/04/2018) yang dibuka dengan upacara obor.
Dalam pidatonya Netanyahu memperingatkan Iran, sekaligus menawarkan kerjasama kepada negara-negara Arab yang ingin ‘berdamai’.
Netanyahu mengklaim, ‘Israel’ telah menghadapi “penghasutan terus-menerus oleh tetangga-tetangga kami, banyak dari mereka menolak untuk berdamai dengan eksistensi kami”. Dia memperingatkan, “siapa pun yang mengangkat tangan melawan kami tidak akan selamat.”
Benjamin Netanyahu pada saat yang sama memberi sinyal, “Tangan kami direntang dengan damai untuk semua tetangga kami yang menginginkan perdamaian,” ujarnya dikutip laman Deutsche Welle.
“Pengakuan terhadap ‘Israel’ akhirnya menetes ke negara-negara Arab. Di sini, saya percaya, terletak benih nyata untuk perdamaian,” katanya.
Baca: Gerakan ‘Kembali ke Palestina’ yang Terjajah telah Dimulai

Presiden AS Donald Trump secara khusus mengucapkan selamat kepada ‘Israel’ di Twitter dan mengatakan, dia berharap untuk memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem (Baitul Maqdis) bulan depan.
Rencana pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem menyulut protes internasional dan kemarahan warga Palestina yang dijajah.
Palestina Merdeka
Peringatan pendirian ‘Negara palsu Israel’ ke-70 disambut warga Palestina dengan aksi unjuk rasa sejak beberapa minggu terakhir.
Dalam bentrokan yang terjadi dengan pasukan penjajah Israel, 34 warga Palestina tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Aksi protes dimulai pada 30 Maret lalu.
Penjajah menuduh pejuang Hamas berada di balik aksi protes tersebut,y ang sering berakhir dengan bentrokan.
Pihak Palestina menyebut rangkaian protes yang disebut sebagai “Great March of Return” adalah penyambutan 70 tahun “Nakbah” – istilah bahasa Arab yang artinya malapetaka. Ketika ‘Negara palsu ‘Israel’’ dideklarasikan tahun 1948 dengan dukungan Inggris, sekitar 750.000 warga Arab Palestina terpaksa terusir dari kampung halamannya. Namun ketika mereka ingin kembali, penjajah menyiapkan para penembak jitu (sniper) dan membunuhininya dengan kejam.*