KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian belum lama ini menuding lembaga kemanusiaan yang mengirimkan bantuan kepada warga Suriah korban perang sebagai upaya membantu teroris. Aksi Cepat Tanggap atau ACT, lembaga kemanusiaan yang sudah 6 tahun belakangan ikut sibuk menanggulangi persoalan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik berbagi cerita kepada hidayatullah.com.
“Banyak juga bantuan lembaga internasional seperti UNHCR yang malah jatuh ke tangan pasukan rezim. Apakah berarti PBB dukung Assad?” demikian petikan wawancara Bambang Triyono. Manager Media Network Development Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Sejak kapan ACT menjalankan Misi Kemanusiaan ke Suriah?
ACT sudah sejak konflik di sana pecah di tahun 2011 lalu. Sejak itu kami punya kampanye untuk warga Suriah yang menjadi korban konflik itu menggunakan hashtag kampanye #LetsHelpSyria, sekaligus global respons dengan tajuk Sympathy of Solidarity (SOS) for Syria.
Sejak tahun 2011 lalu sampai tahun 2017 ini Tim SOS Syria yang sudah berangkat implementasi langsung sudah yang ke-12 (SOS Syria XII).
Maka bisa dilihat dari angka, selama kurang lebih enam tahun terakhir ini, rata-rata dalam setahun ACT memberangkatkan Tim sebanyak 2 kali. Tim ini bekerja bersama mitra-mitra lokal di Turki maupun di Suriah sendiri.
Bantuan apa saja yang diberikan?
Kami memberikan bantuan pangan, kesehatan, bantuan sandang untuk menghadapi musim dingin, bantuan pendidikan, dan sebagainya. Meski dalam setahun sampai 2 kali ada Tim yang langsung terjun ke sana, ACT juga meneruskan amanah donasi publik rakyat Indonesia dengan bekerja sama melalui mitra-mitra di Turki dan Suriah.
Sejauh mana manfaat bantuan dari lembaga-lembaga seperti ACT untuk mereka di Suriah?
Ya tentu saja bemanfaat. Sejumlah bentuk implementasi bantuan yang saya sebut di atas itu, sebelumnya berdasarkan asesmen atau laporan dari mitra atas kebutuhan para penerima manfaatnya. Singkatnya, sesuai kebutuhan mereka.
Kalau di Indonesia sendiri lembaga yang menyalurkan bantuan ke Suriah ada berapa banyak?
Ada Rumah Zakat dan lembaga lain seperti Dompet Dhuafa, dan lainnya.
Bagaimana dengan tuduhan penyaluran bantuan ini juga kepada “teroris”?
Kami adalah lembaga kemanusiaan. Kami tentu saja selalu mencari tahu peta konflik di sana. Mana saja wilayah atau provinsi yang dikuasai pihak-pihak yang berkonflik.
Berkaitan teroris, sekarang berpulang kepada pihak penuduh itu, apa arti “teroris” bagi mereka?
Dalam melihat problem yang tejadi di Suriah, tentu kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa mereka yang menjadi opisisi atau warga suriah yang menginginkan perubahan adalah “teroris”. Seperti halnya di Indonesia, apakah kelompok yang menginginkan perubahan bisa kita sebut “kelompok makar” atau separatis?
Apakah kemungkinan ada bantuan yang nyasar?
Ini juga seperti tuduhan beberapa waktu lalu, bahwa ada satu lembaga di Indonesia yang bantuannya “nyasar” ke markas pihak oposisi. Bantuan nyasar tidak serta merta disebut sebagai bantuan untuk “teroris”. Ini tuduhan gegabah. Kalau ACT, sejauh ini, penerima bantuan adalah warga sipil, baik yang berada di kamp-kamp pengungsian di Suriah maupun di Turki, maupun juga warga sipil di daerah rural kota Aleppo atau Idlib.
Baca: Ketua FOZ: Lembaga Kemanusiaan Salurkan Bantuan ke Suriah untuk Korban Perang
Persoalan bahwa ada bantuan nyasar ke (katanya) markas kelompok perlawanan tertentu di sana, ya tidak bisa serta merta dianggap membantu “teroris”. Sudut pandangnya apa dulu. Kenapa saya bilang nyasar? Saya kira lembaga itu tidak bodoh (kalau memang niatnya) menyalurkan bantuan untuk kelompok perlawanan lalu mencantumkan dengan jelas identitas lembaganya di kemasan bantuan.
Jadi menurut Anda, mengapa lembaga kemanusiaan ini bisa dituduh membantu “teroris”?
Pertanyaan itu cocoknya ditanyakan kepada mereka yang bersemangat menuduh, plus kepada aparat yang dalam beberapa hari ini malah lugas mengaitkan lembaga kemanusian dengan ISIS. Konyol ini.
Setahu saya, karena memang kami cukup tahu bagaimana jalur sebuah lembaga resmi, yakni lembaga yang punya identitas jelas, punya legalitas, dan sebagainya. Lembaga-lembaga Indonesia yang ingin menyalurkan bantuan untuk warga Suriah selalu bermitra dengan lembaga atau NGO di Turki. Adanya banyak NGO, salah satunya IHH. Sama halnya dengan lembaga asing yang mau memasukkan bantuan ke Indonesia.
Kalau ACT sendiri dalam misi kemanusiaan Suriah apa ada hubungannya dengan Ustad Bachtiar Nasir?
Belum pernah ada. Sampai kemudian sekarang muncul berita soal lembaganya dan sosoknya yang sekarang sedang diframing ini.
Hubungan ACT untuk isu bantuan bagi warga Suriah, selama ini hanya dengan publik atau donor dari individual (yang sebagian besar muslim). Kami belum pernah ada kerjasama dengan lembaga lokal (Indonesia) kalau yang dimaksud saat implementasi atau menyalurkan bantuan.
Baca: IHR Akui Difitnah Sejumlah Media Pro Rezim Bashar di Indonesia terkait Bantuan ke Suriah
Kalau ada berita yang mengaitkannya dengan ISIS, bukan cuma teroris. Itu gegabah dan kurang berdasar. Tapi peran media (yang mengutip) perlu kita cermati juga. Kadang media juga suka memelintir.
Apakah menurut Anda mengaitkan bantuan kemanusiaan ke Suriah dengan teroris adalah bentuk politisasi?
Sebagian besar publik saya yakin mengatakan iya. Ini pandangan pribadi. Menurut saya, pasca gerakan umat berseri itu (Aksi 411, Aksi 212 dst) kita bisa melihat siapa mereka-mereka yang berdiri berseberangan dengan umat. Kelompok atau bahkan aparat.
Kita dan banyak lembaga kemanusiaan membantu siapa saja yang perlu bantuan, dari Rohingya, Suriah, sampai Tolikara. Bukankah akhlaq Islam mengajarkan itu? Jadi apa yang salah? *