Hidayatullah.com–Menurut survey AC Nielsen, kosmetik nomor satu di Indonesia adalah kosmetik produk lokal bernama Wardah. Mengalahkan merek-merek dunia lainnya. Bukan saja di tingkat lokal, Wardah juga sudah masuk sebagai pemain tingkat global.
Wardah dirintis oleh seorang perempuan bernama Nurhayati pada 1985. Berawal dari industri rumahan, dibantu oleh seorang karyawan. Pernah jatuh bangun dan nyaris bangkrut. Kini merek Wardah, sudah dipakai jutaan orang.
Nurhayati lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 27 Juli 1950. Ia adalah anak keempat dari delapan saudara dari pasangan Abdul Muin Saidi (almarhum) dan Nurjanah (almarhumah).
Nurhayati mengenyam pendidikan di SD Latihan SPG Padang Panjang, lalu ke Diniyah Putri Padang Panjang. Setelah lulus, melanjutkan ke SMU I Padang, kemudian kuliah di Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tulisan ini dikutip dari majalah Suara Hidayatullah yang menurunkan laporan wawancara panjang dengan Nurhayati. Berikut petikannya:
Indonesia mayoritas penduduknya Muslim, bagaimana Anda melihat peluang ini?
Jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta orang, sekitar 90% adalah Muslim. Ini peluang pasar yang sangat bagus. Cuma usaha apapun harus fokus. Kalau kita kerja keras, ulet, kreatif, dan inovatif, maka kita bisa bersaing. Awalnya kami adalah industri rumahan, ternyata bisa. Mudah-mudahan kami juga bisa menjadi inspirasi untuk yang lain.
Berarti semestinya UKM-UKM Muslim juga bisa berkembang ya?
Bisa. Tapi jangan terjebak dengan kata Muslim. Dulu terkenal istilah “Muslim dengan Muslim”, “dari Muslim untuk Muslim”. Belilah produk Muslim meskipun jelek. Belilah produk Muslim meskipun mahal.
Dalam bisnis tidak bisa begitu. Pengalaman saya, yang namanya sebuah produk, tetap harus berkualitas dan harga bersaing.
Kita lihat ada bank syariah. Kehadirannya hampir sama dengan Wardah (tahun 1990-an). Namun tumbuhnya lambat, padahal sudah dibilangin bahwa bank konvensional itu riba.
Jadi, produk Muslim itu harus berkualitas dan bersaing harganya. Muslim memang mayoritas, tapi kenyataannya seolah bertolak belakang. Contohnya, shampo kami masuk di grup 212 Mart, Kitamart, dan grup Muslim lain. Seharusnya semangat 212 akan memberi dampak berbelanja pula pada sesama Muslim. Tapi shampo apa yang laku di sana? Tetap saja yang laku seperti Pantene dan Sunslik. Produk-produk yang laku yang ada di TV, yang iklannya banyak.
Bisa dikisahkan, bagaimana perjalanan bisnis Anda?
Ya, cukup panjang. Dulu saya pernah bekerja di perusahaan kosmetik di Jalan Raya Bogor. Terus keluar karena waktu itu anak-anak masih kecil. Awalnya, pimpinan saya membolehkan saya kerja paruh waktu, kemudian ada atasan baru yang mengharuskan full time. Akhirnya saya mundur.
Terus Anda mencoba wirausaha…
Ya. Kemudian saya mulai membuat shampoo, karena saya berlatar belakang farmasi. Sedikit mengertilah. Dengan pengalaman sebagai manager quality control di perusahaan di atas, saya sepertinya bisa membuat shampo dan menjualnya.
Awalnya saya tidak sukses. Saya bisa bikin, tapi nggak bisa jual. Ternyata jual shampo itu susah. Saingannya multi nasional. Nah, dalam perjalanannya saya merasa ada pertolongan Allah.
Tetangga saya ada yang kerja di salon. Saya silaturahim. Dia menawarkan diri menjualkan produk saya ke salon-salon. Awalnya saya jual shampo galonan. Saya beri nama Putri, yaitu Pusaka Tradisi Ibu. Alhamdulillah, tidak sampai satu tahun sudah menyebar di wilayah Tangerang.
Kenapa menjual shampo susah?
Karena harus bersaing dengan perusahaan besar dan multi nasional. Mereka mungkin sudah menguasai pasar 90%. Mereka memproduksi jutaan botol, tentunya harga botol lebih murah, bahan baku lebih murah, jadi bisa dijual murah. Coba lihat harga shampoo, tidak ada yang mahal. Yang laku yang harganya terjangkau.
Kemudian Putri mengalami kemajuan. Namun tahun 1990 kami mendapat musibah. Pabrik dan rumah terbakar. Habis, sampai minus. Saya punya utang, sementara piutang tidak dibayar karena faktur tidak ada.
Waktu kejadian itu saya berpikir, kalau tutup juga tidak apa-apa, kan suami masih bekerja. Gajinya lebih dari cukup. Suami bekerja sebagai CEO di perusahaan pabrikator terbesar kedua di Indonesia. Saya dapat bantuan dana dari suami. Kalau saya memikirkan diri sendiri, lebih baik tutup waktu itu. Tapi saya mikirin utang. Meskipun kena musibah, saya tetap harus bayar utang. Dan mikirin karyawan yang saat itu jumlahnya sekitar 20 orang.
Alhamdulillah, suplayer masih percaya karena selama ini saya selalu bayar. Saya minta utang diundur. Kemudian ada kenalan yang mau minjamkan tempat. Ini lagi-lagi pertolongan Allah. Kok ada orang yang mau minjamkan rumah, padahal saya baru kebakaran. Waktu itu bulan puasa. Setelah dua minggu berjalan, tunjangan hari raya (THR) sudah bisa terbayar.
Alhamdulillah, saya bisa bangkit. Tidak sampai satu tahun sudah bisa teratasi. Waktu itu ada kebijakan kredit usaha kecil dari Bank Indonesia (BI). Saya pinjam Rp 50 juta dikasih Rp 150 juta. Saya berpikir ini bentuk pertolongan Allah lagi.
Bagaimana dengan kisah merek kosmetik Wardah?
Nah, ini ada kaitannya dengan Hidayatullah. Waktu itu tahun 1995. Berawal dari tetangga saya, namanya Pak Fathoni (almarhum) yang menyambungkan dengan Hidayatullah. Idenya dari Pak Dadi, dari Hidayatullah Bandung. Katanya, kenapa saya tidak buat produk khusus Muslim? Dibuat oleh Muslim, dijual oleh Muslim, dan hasilnya juga untuk Muslim.
Saya diberi tiga pilihan nama untuk produknya, salah satunya Wardah yang artinya bunga mawar. Akhirnya saya setuju, lalu mendaftar ke kantor yang ngurus merek dagang. Saya memproduksi Wardah dan dijualkan oleh jaringan Hidayatullah yang luas. Ada shampo, body lotion, dan bedak. Ternyata saat itu belum berhasil. Tentu banyak faktornya.
Anda jera?
Tidak. Justru saya merasakan manfaat setelah banyak bergaul dengan Hidayatullah. Banyak pelajaran yang saya ambil. Misal jiwa kepedulian teman-teman Hidayatullah sangat tinggi, itu juga mendorong saya ingin membantu banyak orang.
Akhirnya Anda bisa bangkit lagi…
Kami bangkit lagi setelah ramai multilevel marketing. Saat itu ada Ahadnet, MQnet, dan sebagainya. Kami tumbuh signifikan. Namun kemudian mereka turun dan rontok. Tentu produksi dan penjualan kami juga ikut turun.
Alhamdulillah, anak saya yang pertama dan kedua pada tahun 2001 dan 2002, bergabung dan memperbaiki penjualan bersama timnya. Kami jual Wardah lagi ke toko-toko.
Apa yang membuat konsumen tertarik pada Wardah?
Kalau hanya dilihat dari kehalalannya, seharusnya kami sudah jadi raja besar dong. Tapi kan baru sekarang majunya. Berarti konsumen tertarik karena kualitasnya, kemasannya, penampilannya, dan promosinya. Jadi, banyak faktor.
Sejak awal hingga sekarang, kami selalu menjaga kualitas produk. Banyak non-Muslim yang beli Wardah. Orang bilang halal itu aman. Istilahnya rahmatan lil ‘alamin. Alhamdulillah, silakan bisa lihat testimoni pemakai Wardah di blog kami.
Anda sering mengatakan ada pertolongan Allah. Apa yang membuat pertolongan Allah itu datang?
Saya juga sedang merenung, kenapa kok banyak sekali pertolongan Allah? Soal amalan ibadah, saya juga tidak rutin puasa Senin-Kamis. Namun yang saya rasakan, mungkin dari rasa kepedulian terhadap orang lain, sehingga Allah juga peduli kepada kami.
Sebagai rasa syukur, mulai tahun 1995 dana yang kami keluarkan tidak 2,5% tapi 10%. Menurut saya, jika kita memberi tidak boleh hitung-hitungan. Kalau seperti itu kesannya Allah diatur oleh kita. Ikhlas saja karena Allah. Kerjakan saja apa yang diperintahkan oleh Allah. Kami terus berdoa mudah-mudahan terus maju, berkembang, dan banyak memberi manfaat.
Wardah ini telah mendapat tempat di hati masyarakat luas…
Sebetulnya semua produk dalam ilmu pemasaran tidak lebih dari prinsip marketing mix. Yaitu 4P: product (mutu bagus), price (harga bersaing), place (distribusi, lokasi), dan promotion (promosi). Tapi kalau saya tambah P satu lagi (5P), yaitu Pertolongan Allah.
Sekarang Wardah dikembangkan generasi kedua, anak-anak saya. Tim kami membuatnya lebih modern. Misalnya tahun 2009 relaunching Wardah. Logo, desain, dan warnanya diganti. Saya lihat banyak pejabat, pemuka agama, tokoh masyarakat yang secara ikhlas mempromosikan kosmetik Wardah. Jadi, dibantu dari mulut ke mulut.
Tahun itu hijabers sedang booming. Mereka banyak yang berasal dari kalangan menengah atas. Satu-satunya kosmetik yang bisa menjawab hijabers saat itu ya Wardah. Nah, momentumnya pas. Ada peluang langsung kami tangkap.
Kami percaya bahwa tidak ada kejadian tanpa seizin Allah. Saya meyakini, intinya itu pertolongan Allah. Kita ikhtiar terus, berjalan terus, kita tidak tahu peluang itu kapan datangnya.
Selain momentumnya tepat, ada faktor lain?
Jangan lupa kami kerja keras sejak tahun 2001. Anak saya menawarkan barang sampai ditolak-tolak di Pasar Atom di Surabaya. Dibilangin macam-macamlah. Kami terus memperbaiki lagi produknya, akhirnya toko itu mau menerima karena ternyata ada permintaan.
Jadi, kalau kita mau sukses, banyak kok ilmunya. Harus banyak belajar. Tidak instan. Kami saja sampai sekarang masih terus belajar.
Baru-baru ini kami belajar family business insead di Perancis. Alhamdulillah, dapat banyak ilmu.
Apakah pertolongan Allah itu ada kaitannya dengan value perusahaan Anda?
Ya. Makanya nilai-nilai perusahaan kami poin kesatu adalah ketuhanan, kedua keteladanan, ketiga kekeluargaan, keempat tanggung jawab, kelima fokus pada pelanggan, dan keenam inovasi. Itu semua kami sosialisasikan kepada karyawan.
Keteladanan, tentu saya harus memberi teladan pada anak-anak saya, lalu anak-anak memberi teladan pada stafnya. Sekarang kampanye kosmetik Wardah adalah “cantik dari hati”. Juga bagaimana menyebarkan senyum kebaikan.
Mohon doanya, ini mimpi dari tim dan keluarga bahwa perusahaan ini terus berlanjut ratusan tahun. Kalaupun pemiliknya sudah tidak ada, perusahannya masih ada.