Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Karena Sering Didiskriminasi, Muslimin Terpelajar di Prancis Memilih Hijrah ke Luar Negeri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Februari 2023 21:33 9:33 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Februari 2023 10:00
Bagikan
Protes Islamofobia di Prancis
Bagikan

Sebuah studi tahun 2016 juga menunjukkan, sebanyak 1/5 dari semua diskriminasi Islamofobia di Prancis terjadi di tempat kerja

Hidayatullah.com | Natasa Jevtovic, 38 tahun, meninggalkan Paris menuju London pada tahun 2020. Dia merasa akan mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik sebagai seorang Muslimah muda. Dan dugaan itu ternyata benar.

Sejak pindah ke London, karirnya berkembang pesat. Dia beberapa kali mendapat promosi jabatan dan sekarang berpenghasilan dua kali lipat daripada ketika di Paris.

Jevtovic percaya, hal itu tidak akan terjadi jika tetap tinggal di Prancis. Sebabnya, ia seringkali menjadi sasaran aksi Islamofobia saat bekerja di sebuah bank Prancis terkemuka.

“Orang-orang sering menggunakan istilah rasis. Saya berusaha menghentikannya, kemudian teman-teman kerja mengabaikan saya,” Jevtovic berkisah kepada Bloomberg News, Rabu, (15/02/2023).

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Manajernya bahkan mengancam posisinya di perusahaan, karena Jevtovic dianggap telah menuduh rekan-rekannya melakukan diskriminasi.

Islamofobia Institusional

Natasa Jevtovic adalah bagian dari gelombang Muslim terpelajar yang tidak lagi merasa nyaman di Prancis, terutama di tempat kerja. Mereka kemudian menyalurkan keahliannya ke tempat lain yang dirasa lebih menghargai potensi dan eksistensinya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Profesor Olivier Esteves dari Universitas Lille, mengungkapkan bahwa sejumlah Muslim –mayoritas karyawan berpendidikan tinggi– meninggalkan Prancis. Hal ini turut berkontribusi pada semakin sulitnya kondisi ekonomi terbesar kedua di zona euro itu.

Esteves menyurvei 1.074 Muslim yang meninggalkan Prancis. Lebih dari 2/3 mengatakan mereka pindah agar bisa menjalankan agama dengan lebih bebas, sementara 70% tak ingin lagi mengalami insiden rasisme dan diskriminasi.

Menurut Esteves , banyak di antara mereka adalah kaum Muslim profesional berbakat dengan keterampilan yang sebenarnya amat dibutuhkan. Namun mereka merasa muak dan akhirnya memilih pindah.

“Ironis, (dulu) Prancis membiayai pendidikan orang-orang ini, namun kemudian kehilangan bakat yang sangat terampil itu karena Islamofobia institusional yang merajalela,” kata Esteves .

Bloomberg News mewawancarai profesional Muslim yang telah pindah ke negara-negara seperti Inggris, Kanada, AS, dan Dubai. Beberapa mengungkapkan keinginan agar karirnya lebih baik. Dan semua tidak lagi ingin merasakan tekanan dan menyembunyikan keyakinan mereka. Salah satu masalah yang menjadi perhatian khusus bagi wanita adalah tentang hijab.

Sebagian besar narasumber tidak ingin menggunakan nama asli, karena takut hal itu dapat merusak karier mereka atau menimbulkan pelecehan online.

Pengakuan adanya diskriminasi di tempat kerja menguatkan temuan Esteves. Sebuah studi tahun 2016 juga menunjukkan, sebanyak 1/5 dari semua diskriminasi Islamofobia di Prancis terjadi di tempat kerja. Calon pekerja yang punya nama identik dengan Arab, peluangnya 32% lebih kecil untuk diterima bekerja. Ini menurut laporan pemerintah tahun 2021.

Seorang lulusan sekolah bisnis dengan nama Arab harus berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan wawancara ketika melamar pekerjaan sebagai konsultan di Paris. Istrinya, yang mengenakan hijab, harus wawancara berkali-kali untuk posisi pemasaran, dan tidak pernah terdengar kabar lagi setelah putaran pertama seleksi.

Suami-istri itu kemudian pindah ke London pada Oktober 2020. Dalam beberapa bulan, si istri bisa bekerja di sebuah perusahaan pemasaran dan suaminya bekerja di Deloitte.

“Ada kebangkitan Islamofobia yang sangat jelas di Prancis, tidak seperti tempat lain di Eropa,” kata Karim Ridwan, seorang aktivis lembaga nirlaba Collective for Countering Islamophobia in Europe, yang melacak berbagai insiden terhadap Muslim. “Kawasan Anglo Saxon jauh lebih ramah.”

Di Inggris, misalnya, ruang multiagama sering terlihat di mal, rumah sakit, dan lingkungan perusahaan, termasuk London Stock Exchange dan banyak bank. Pada era 1980-an, hal seperti itu juga berlaku di Prancis, tetapi sekarang jarang, kata Esteves.

Fatihah Zeghir, 44 tahun, yang tumbuh di pinggiran Paris, juga pindah ke Inggris. Sebagai asisten eksekutif sebuah perusahaan media, dia mengatakan karirnya jauh lebih sukses sejak pindah. Dia pergi satu dekade lalu dan tidak pernah ingin mengenang masa lalunya.

Ketika tinggal di Paris, dia mengaku tidak bisa menyewa apartemen atas namanya. Itulah sebabnya, dia meminta teman sekamarnya yang non-Muslim untuk menandatangani kontrak sewa untuk mereka berdua.

“Di Inggris, saya akhirnya bisa menjadi Muslim. Ini sangat melegakan,” katanya.

Para pekerja tahu bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya lepas dari sentimen anti-Muslim di Barat. Tetapi mereka mengatakan bahwa diskriminasi lebih menonjol di Prancis, dan situasinya semakin buruk.

Pembatasan Simbol Agama

Islamofobia semakin meluas di Prancis, yang merupakan rumah bagi populasi Muslim terbesar di Eropa. Serangan teror tahun 2015 di Paris, yang diklaim oleh ISIS, memicu permusuhan terhadap penduduk Muslim, yang kemudian dikobarkan oleh kelompok sayap kanan. Pemerintah Emmanuel Macron sejak itu mengeluarkan serangkaian kebijakan yang diklaimnya untuk mengekang “terorisme Islam radikal”, yang menurut para kritikus telah melahirkan budaya permusuhan.

Akibat kebijakan itu, sekitar 42% Muslim mengaku telah mengalami diskriminasi agama di Prancis. Demikian menurut jajak pendapat tahun 2019 yang dilakukan oleh lembaga riset Ifop.

Banyak undang-undang yang menurut umat Islam telah membatasi sebagian kebebasan beragama. Misalnya undang-undang yang diperkenalkan pada tahun 2016 yang membatasi pemakaian simbol-simbol agama yang terang-terangan —seperti hijab— di tempat kerja.

Pada 2017, pemerintah Macron mengesahkan undang-undang yang menempatkan pengangkatan imam di bawah pengawasan ketat pemerintah. Pemerintah juga menutup beberapa lembaga Muslim, seperti masjid, badan amal, dan organisasi nirlaba, termasuk Collective Against Islamophobia in France. Berbagai pihak mengatakan kebijakan semacam itu telah berkontribusi pada munculnya Islamofobia.

Media massa juga menghadirkan pandangan yang lebih negatif terhadap Muslim, kata para akademisi. Kondisi ini didukung selama kampanye presiden 2022 oleh kandidat sayap kanan, Marine Le Pen dan Eric Zemmour, yang kerap berpidato tentang “bahaya Islam”.

Ibrahim Bechrouri, seorang peneliti berusia 32 tahun, meninggalkan Paris menuju New York pada Desember 2019. Penyebabnya, para pendonor mengatakan hanya akan mengucurkan dana jika dia mengalihkan fokusnya ke radikalisasi Islam. Dia juga mengatakan, beberapa akademisi terhambat penelitiannya karena tidak mau mengangkat isu anti-Muslim sebagai topik penelitian.

Bechrouri semakin khawatir setelah melihat apartemen rekan-rekannya digerebek polisi. Ia juga mengaku dijauhi teman karena beberapa kali mengadopsi teori konspirasi anti-Muslim. Kata salah satu temannya, “Setiap Muslim berpotensi menjadi teroris.”

“Hal-hal di Prancis setelah 2015 menjadi semakin buruk, sampai pada titik di mana saya merasa tidak dapat bekerja dengan baik,” kata peneliti yang sekarang berbasis di Washington DC.

“Di AS, tentu ada tantangan, tapi setidaknya Anda bisa melakukan pekerjaan yang Anda inginkan dan mengekspresikan ide Anda dengan bebas,” ujarnya.*/Pam

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:diskiminasi MuslimislamofobiaMuslim PrancisPrancis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya gender Berganti Gender di Spanyol Menjadi Mudah Tanpa Diagnosis Medis
Tulisan selanjutnya Ingin Terapkan Istilah Gender Netral, Gereja Inggris akan Ubah Panggilan Tuhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?