Hidayatullah.com–Rekan saya Yadin Burhanudin, telah lima tahun mengidap penyakit gangguan ginjal. Dua kali seminggu harus melakukan cuci darah. Dia bersyukur biayanya didapatkan dari Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas. Setelah sekian lama menjadi reporter di dua stasiun radio swasta, kini ia bekerja sebagai divisi penjaulan di MQFM, radio milik Aa Gym di wilayah Gegerkalong Girang, Kota Bandung.
Jumat pagi itu, dirinya hendak bekerja dan biasanya menggunakan motor. Sekitar 45 menit ia pergi menuju tempat kerjanya. Karena kondisi tubuhnya yang tidak sesehat seperti dulu, ia pun biasanya menjalankan motor tidak begitu cepat. Katanya, yang penting sampai dan bisa menjalankan aktivitas hariannya. Tetapi apa yang terjadi, motornya tiba-tiba mogok.
Melihat kondisi demikian, ia langsung menelepon sahabatnya yang bekerja sebagai montir. Tidak lama orang yang dia panggil datang untuk membawa motor. Yadin tentu saja tidak mungkin bekerja karena kalaupun menggunakan angkutan kota, tentu saja ia akan terlambat. Maka ia putuskan minta izin kepada pimpinan di tempat kerjanya. Ia tak mengeluh walaupun tentu saja untuk mengusir ketidak pastiannya, ia harus melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Dulu, sesungguhnya Yadin adalah penulis yang cukup produktif, namun karena mengidap gangguan ginjal maka kebiasaan itu ditinggalkannya dan selama lima tahun itu tak pernah menyentuh komputer untuk menuangkan pemikirannya.
Tapi pagi itu, ia ingin mencoba menulis lagi. Dirinya terpacu dengan ucapan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin, bahwa banyak persoalan bangsa di negeri ini dan umat Islam sebagai mayoritas ternyata belum mampu mengatasi persoalan tersebut. Saat itu adalah beberapa hari menjelang Muktamar Persatuan Islam (PERSIS) XIV di Tasikmalaya. Pikirnya, mengapa tidak menuliskan Muktamar itu dan solusi mengatasi masalah bangsa.
Tiba-tiba sebuah SMS masuk ke handphone saya. Isinya, ”Kang Deffy, kalau kirim naskah ke media terbesar di Jawa Barat baiknya dikirim langsung ke redaksinya atau via email?” Saya membalasnya dengan singkat, ”Email saja melalui alamat…”. SMS baru masuk lagi. ”Syukron, Kang.”
Persahabatan saya dengannnya cukup akrab karena pernah sama-sama menyusun buku. Akan tetapi karena sakit, ia tak pernah menulis lagi. Dia pun saya kenal sebagai dosen di Sekolah Tinggi Islam Persatuan Islam (STAIPI) di Ciganitri, Kabupaten Bandung. Sehingga tentu saja daya analisanya masih kuat. Walaupun sudah lama tidak menulis,Yadin memberanikan diri mengirimkan tulisannya di rubrik opini agar dapat dibaca oleh khalayak.
Alhamdulillah, menjelang akhir Muktamar PERSIS di Tasikmalaya itu, tulisannya dimuat dan ia pun mengirim SMS. “Kang seratan Abdi dimuat. Nuhun bantosanana,” (Kang tulisan saya dimuat. Terima kasih atas bantuannya) Saya yang menerima kabar itu mengucap alhamdulillah sebab sejak lama saya selalu mendorongnya untuk menulis tetapi tak pernah dilakukannya karena sakit ginjal yang dideritanya itu.
Saat saya bersilaturahmi dengannya, Yadin mengatakan dua hal yang saya dapatkan dari peristiwa itu.
Pertama, kepada Allah kita tak boleh suudzon dengan apa yang diberikan oleh-Nya kepada kita dan kedua, hikmah dari motor yang mogok ternyata mampu mendorong dirinya untuk menulis dan ternyata tulisannya baik sehingga dimuat di sebuah media yang banyak dibaca oleh warga Jawa Barat.
Yadin sadar, masih banyak cita-cita yang harus dicapainya terlebih saat ni ia sudah dikarunai satu orang puteri yang duduk di kelas 1 SD. Walaupun dengan sakit seperti itu, tak menyurutkannya untuk terus berjuang. Kami berdua selalu menebar optimisme sebab perjuangan kami belum berhenti untuk menjemput rezeki Allah dan mendapatkan hikmah dari segala ketentuan-Nya.*/Seperti diceritakan Yadin Burhanudin kepada Deffy Ruspiyandy
Suara Hidayatullah Edisi Desember 2011