GUYURAN hujan masih membekas di atas dedaunan taman, pagar, dan beberapa batang pohon. Hiruk- pikuk kendaraan yang melintasi Jalan Ngagel Surabaya tak membuat kenyamanannya terganggu. Ia duduk santai di atas kendaraan roda tiganya, sambil sesekali menengadah ke atas melihat cerahnya langit pagi yang sedikit tertutupi oleh pekatnya awan cumulonimbus.
Pagi itu belum membuatnya memulai beraktivitas. Becak miliknya masih terparkir diam di dekat pagar pembatas antara sungai dan badan jalan. Di atas pagar besi yang bulat itu, ada baju kos, celana, dan hem yang masih tergeletak basah, miliknya. Pemandangan kehidupan sederhana di pinggir Sungai Kalimas di Jalan Ngagel seperti ini bisa dilihat sehari-hari.
“Saya mandi, mencuci di sungai Kalimas ini setiap hari,” demikian ucap Parman. Menurut pria berusia 79 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak ini, menarik becak adalah sumber kehidupan satu-satunya yang bisa Ia jalani sehari-hari.
Tak ada tempat tinggal yang tetap baginya, rumah atau kos tak bisa ia sewa, karena pendapatan dari menarik becak hanya bisa di gunakan untuk makan.
“Dari narik becak, kadang dapat sepuluh ribu, dua puluh ribu, cukup untuk buat makan saja, ” katanya kepada hidayatullah.com, Sabtu (19/05/2013).
Parman yang asli Pasuruan ini mengaku sudah menjadi penarik becak sejak usia 20 tahun. Ia mengaku sudah tak memiliki keluarga lagi. Meski demikian, hidup di bawah garis kemiskinan ia terima dengan lapang dada. Di wajahnya tak terbesit sedikit pun kekecewaan terhadap hidup yang lagi Ia jalani sekarang.
Tetap Halal
Hidup di Kota Surabaya yang padat dan susah mendapat pekerjaan, membuatnya mustahil memiliki sebuah tempat tinggal. Karena itu, becak adalah rumah berjalan baginya. Becak juga menjadi tempat tidur empuk untuk membaringkan punggung tuanya.
“Jika lapar ya cari makan, cari nafkahnya yang halal,” ucap Parman kalem.
Suka dan duka menjadi penarik becak di Surabaya telah melebur menjadi satu dalam hidupnya. Baginya, tak ada bahagia, tak ada kesedihan. Baginya, hidup ini cukup mengerjakan yang wajib dilakukan dan mencari nafkah yang halal, untuk bekal menghadap Sang Khalik.
Hidup di atas roda seperti ini, menjadikannya memiliki kegiatan rutin menghindar dari kejaran petugas. Ia berkisah, sering harus kejar-kejaran dengan aparat Satpol PP jika yang sedang razia. Menurut Parman tukang becak dianggap sebagai “penoda kota” yang mengganggu pemandangan dan harus dibersihkan. Ia mengaku kurang memahami sikap orang cerdik-pandai yang tidak pernah mempertanyakan, mengapa ia dan teman-temannya (para penarik becak, red) menjadi seperti ini.
”Hidup di pinggir sungai ini tidak boleh, tapi bagaimana lagi sudah terjepit keadaan. Kalau Satpol PP datang saya pergi, dan kembali lagi setelah mereka pergi,” ungkap, bapak tiga anak ini.
Garis mukanya yang tegas, terpancar ketegaran dalam menjalani dan menghadapi hidup. Meski serba terbatas, sosoknya tak mudah goyah oleh keterbatasan dan kemiskinan. Baginya, ketiadaan materi tak membuatnya keluar dari koridor prinsip mencari yang halal dalam mencari nafkah.
Ia mengaku tidak sendiri dalam menjalani hidup seperti itu. Masih banyak orang-orang seperti dirinya memegang prinsip hidup dengan kuat. Karena bagi mereka hidup ini hanya perjalanan sebentar sebelum meniti perjalanan hidup yang abadi.
“Hidup di dunia ini hanya tempat persinggahan sementara sebelum menetap kekal dalam kehidupan akhirat. Hidup ini bukanlah tempat memungut materi semata, karena ketika meninggal hanya amal yang bisa dibawa, bukan harta hasil korupsi,” tambahnya.* /Samsul Bahri