Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Kisah Mantri Muslim “Menjaga” Kesehatan Masyarakat Pedalaman Papua [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Agustus 2016 08:47 8:47 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Agustus 2016 10:00
Bagikan
Anugrah, perawat Muslim di Kaimana, Papua Barat sedang bertugas mengobati pasien.
Bagikan

Sambungan dari kisah pertama

MEMILIH mengabdi di tanah Papua berarti siap dengan segala risikonya. Selain alamnya yang terkenal ekstrem, Anugrah juga harus siap kekurangan pasokan makanan.

Bukan cuma itu, listrik dan jaringan telepon juga tidak ada. Awal-awal betugas di Papua, Anugrah merasa berada di dunia lain.

Anugrah bukan mantri biasa. Selain bertugas mengobati pasien, membantu persalinan, Anugrah juga seorang guru mengaji.

Jika tidak ada pasien, Anugrah memanfaatkan waktunya untuk mengajar anak-anak dan orang dewasa mengaji. Jika masuk waktu shalat, Anugrah lebih sering menjadi imam. Bahkan dia kerap tampil sebagai penceramah dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti Maulid Nabi, khutbah Jumat hingga khutbah Id.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Anugrah dikenal total dalam bertugas. Dalam melayani pasien, ia tidak membedakan suku dan agama. Tidak heran jika pria kelahiran 16 November 1986 ini sangat disenangi masyarakat bahkan di usianya yang masih muda.

Anugrah pun telah dipandang sebagai tokoh. Jika ada pertemuan-pertemuan, tidak lengkap rasanya jika tidak mengundangnya.

Di Kaimana, Anugrah bertugas melayani tiga pulau. Jarak pulau yang satu dengan pulau yang lain, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan laut untuk menempuhnya.

Setiap kali mengunjungi pulau lain, tawakkalnya harus mantap, berserah dirinya kepada Allah harus total. Mengingat jalur yang dilewati adalah Tanjung Nabima yang dikenal sangat ekstrem dan telah menelan banyak korban.

Namun baginya, meninggal dalam keadaan tugas merupakan syahid, dan itu merupakan cita-cita tertinggi orang Islam.

Anugrah (peci putih) bersama warga Kaimana, Papua Barat. [Foto: IST]
Anugrah (peci putih) bersama warga Kaimana, Papua Barat. [Foto: IST]
Tercebur dan Kehabisan Obat

Selama bertugas di Teluk Etna, Kaimana, Anugrah mengalami banyak sekali pengalaman. Ini salah satu pengalaman yang tidak pernah ia lupakan.

Ketika sedang bertugas mengunjungi sebuah kampung, perahu yang ia tumpangi tiba-tiba terbalik. Semua peralatan medis basah. Ia pun harus berenang sambil menarik tali perahu ke pinggir.

Anugrah juga pernah kedatangan pasien dari desa tetangga. Pasien ini cukup parah akibat terserang wabah malaria. Bahkan ia harus ditandu karena tidak mampu berjalan.

Setibanya di kediaman mantri Anugrah, pasien itu minta segera diobati. Anugrah kalang kabut. Persediaan obatnya benar-benar sudah habis, karena baru saja di desanya terserang wabah malaria.

Anugrah tahu betul watak orang Papua. Sehingga, jika ia mengatakan obat habis dan menyuruh sang pasien pulang, sangat tidak mungkin. Bisa-bisa masalahnya semakin rumit.

Anugrah tidak putus asa. Dia terus mencari cara agar pasiennya bisa tertangani. Di rumahnya tidak ada apa-apa kecuali air mineral. Diam-diam ia mengambil spuit (alat suntik), lalu memasukkan air mineral ke dalamnya, dan segera menyuntikkannya ke pasien.

Anugrah sadar, ia bisa dituntut. Karena mungkin dianggap telah melakukan mal praktik, jika pasiennya semakin parah akibat menyuntikkan air mineral dalam tubuhnya. Kenyataanlah yang memaksanya begitu.

Tapi Anugrah tak asal “mengobati”. Sebelum menyuntik pasien, ia terlebih dahulu membaca surah Al Fatihah, sambil memberi sugesti bahwa bukan obat yang menyembuhkan, melainkan Allah.

Ajaibnya, pasien tersebut benar-benar merasa sehat dan pulang dengan berjalan kaki. Masya Allah! La haula wala quwwata illa billah!

Anugrah bukanlah sosok kacang lupa kulitnya. Apa yang ia rasakan saat ini, tidak terlepas dari hasil pembinaan ustadz-ustadznya di Yayasan Al-Bayan, Bumi Tamalanrea Permai, Makassar.

Tiga tahun lamanya menjadi santri di Al-Bayan, sudah sangat cukup untuk membentuk karakternya. Lewat pembinaan ala pesantren itu, mental Anugrah sangat teruji.

Setiap kali mendapatkan tantangan di tempat tugas, dia selalu mengingat cerita ustadznya ketika mendapatkan tantangan dalam berdakwah.

Pengalaman dakwah dai Hidayatullah yang begitu berliku sering ia dengar lewat ceramah-ceramah, membuatnya selalu termotivasi dalam menjalankan tugas. Anugrah seakan menjadi anugerah kemerdekaan RI yang sudah ke-71 tahun ini.* Arvah Bandule, pegiat komunitas menulis PENA Makassar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bidanmedisMuslimPapuapendetapengabdianperawatpersalinan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Mantri Muslim “Menjaga” Kesehatan Masyarakat Pedalaman Papua [1]
Tulisan selanjutnya Budak Pun Bosan dengan Makanan Khalifah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?