Sambungan dari kisah keenam
ASYIK tapi tegang. Mungkin ini salah satu rasa yang muncul bila berwisata di Eropa Barat. Bangunan-bangunan bernuansa pedesaan atau yang bercorak gotik tentu sangat memanjakan mata, ditambah pertanian hijau yang dijumpai di sebagian besar perjalanan.
Tak lupa jalanan dan tempat wisata yang bersih -setidaknya lebih bersih dari tempat yang sama di Indonesia- semakin memanjakan para wisatawan.
Wajar bila banyak orang Indonesia yang masih menjadikan Eropa sebagai destinasi wisata utama mereka.
Baca juga: “Saya akan Menolak Tinggal di Eropa…”
“Di momentum lebaran, bisa sampai 1.000 grup yang berwisata ke Eropa” terang seorang tour leader yang biasa membawa rombongan ke Eropa, saat mengobrol dengan kami dalam perjalanan Italia-Swiss-Jerman, Agustus 2017. Perjalanan dari Indonesia dimulai sejak pertengahan bulan ini.
Kalau saja 1 grup berjumlah 20 orang -seperti batas minimal grup yang penulis ikuti-, maka setidaknya ada 20.000 orang Indonesia berwisata ke Eropa di waktu yang sama.
Bahkan copet di Eropa lebih canggih dan lebih halus dari copet di Indonesia. Usia dan gender pun tak jadi halangan untuk mereka jadi pencopet.
Baca juga: Terhibur oleh Islamic Center Zurich di Swiss
Dalam beberapa kasus, pelaku copetnya justru seorang nenek-nenek. Atau juga anak muda dengan penampilan necis dan berdasi.
Pokoknya harus hati-hati deh, keluhnya. Barang jangan pernah lepas dari jangkauan mata. Karena pencopet Eropa sudah sangat terlatih untuk aksi-aksi seperti itu. Wah, wah, wah…!* Bersambung/Diceritakan untuk hidayatullah.com oleh Naspi Arsyad, peneliti LSIPP, penulis buku “The Dome of The World”