Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Langka, Pesantren Ini Santrinya para Lansia

Bambang S
Terakhir diupdate: 3 Februari 2021 08:36 8:36 am
Bambang S
Dipublikasikan 3 Februari 2021 08:36
Bagikan
Bagikan

Awalnya dicibir, “Lansia kok disuruh belajar agama, mana mau?”

Hidayatullah.com–Seorang wanita lanjut usia (lansia) tampak terbata-bata mengeja deretan huruf Hijaiyah di papan tulis. Sesekali ia mengalihkan fokus pandangannya ke mulut Ustadz Winarno, memastikan agar bacaannya tidak salah.

Itulah pemandangan sehari-hari di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang (Jateng). Arti kasepuhan kurang lebih sama dengan lansia.

Kegiatan itu dimulai selepas shalat Shubuh. Para santri tampak tekun mengaji. Ada yang memulai dari alif-ba-ta, namun ada pula yang sudah lumayan lancar. Pesantren ini memiliki santri lansia mukim 35 orang, non-mukim 60 orang, dan yang tinggal di rumah-rumah ada 160 orang.

“Sebagiannya warga Gedong. Tetapi lebih banyak yang berasal dari luar kota, bahkan luar pulau seperti Jambi, Solok, Samarinda, Balikpapan, dan Sulawesi. Usia mereka rata-rata di atas 60 tahun,” terang Winarno, pendiri pesantren lansia.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Bagi santri yang tinggal di rumah masing-masing, pihak pesantren melakukan kunjungan rutin. Dilakukanlah pembinaan spiritual, pemeriksaan kesehatan, dan penyaluran bantuan biaya hidup.

Mualaf

Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat terletak di daerah pegunungan. Jalannya sempit, berkelok-kelok, penuh tanjakan dan turunan tajam, berikut bibir jurang yang rawan. Namun keindahan alamnya sungguh mempesona.

Pak Win—panggilan akrab Winarno—merintis pesantren ini pada akhir tahun 2017. Ia merasa prihatin melihat begitu banyak lansia yang tak terawat, baik fisik maupun ruhaninya.

“Harus diakui, selama ini kita mengabaikan pendidikan agama bagi kaum lansia. Anak-anak muda di kampung setidaknya masih bisa mengakses pengajian UAS, Aa’ Gym, dan lain-lain dari Youtube. Tapi bagaimana lansia? Siapa yang peduli terhadap kehidupan spiritual mereka?” ujarnya.

Pak Win lantas tercenung dengan Surat al-Ahqaaf ayat 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya ialah tiga puluh bulan, sehingga bila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku…”

Sebelumnya, Pak Win berkarir di Jakarta, merantau sejak usia SMP. Lantas karir itu ditinggalkannya.

“Saya putuskan untuk meninggalkan seluruh kemewahan hidup di Jakarta, lalu full tinggal di kampung sembari menemani ibu yang sudah uzur,” ucapnya.

Tentu saja banyak tantangan yang harus dihadapi atas pilihan ekstrem ini. Tapi, Pak Win yakin, Allah akan memberikan jalan dan mengganti semua kenikmatan yang ditinggalkan, dengan ganti yang lebih baik.

Apalagi memang kampung halamannya amat membutuhkan sentuhan dakwah. Pemeluk agama Islam hanya kisaran 50%, sisanya non-Muslim dan penganut aliran kepercayaan.

Pak Win sendiri mengaku baru memeluk Islam ketika usia 15 tahun. Sebelum itu ia pernah dididik sebagai pengkabar Injil. Itulah sebabnya dirinya cukup faham tentang strategi kristenisasi.

Dia kemudian memilih metode dakwah yang soft (lembut). Namanya kental nuansa Jawa, memakai kata kasepuhan. Sementara nama yayasannya adalah Pitutur Luhur.

Kegiatan pesantrennya disebut Olah Rogo, Olah Jiwo, Olah Roso. Harapannya, nama itu bisa lebih mudah diterima masyarakat setempat yang memang teguh menggenggam falsafah leluhur Jawa.

Olah rogo adalah kegiatan menjaga fisik agar tetap sehat. Setiap pagi, para lansia dibimbing untuk berolah raga ringan di ruang terbuka. Juga pemeriksaan kesehatan secara rutin dari puskesmas setempat.

Olah jiwo adalah kegiatan ruhani, misalnya mengaji, shalat, serta mempelajari dan membiasakan kembali dasar-dasar ibadah keislaman.

Olah Roso adalah kegiatan mengasah kepekaan sosial kemasyarakatan.

Berbagai Kendala

Awalnya, Pak Win memanfaatkan tanah pekarangan milik ibunya yang juga mualaf. Seluruh biaya pembangunan berasal dari kantong pribadi.

“Saya gadaikan mobil dan utang kepada mitra bisnis. Namun alhamdulillah sebagiannya sudah terbayar. Ndak masalah. Inilah perjuangan” katanya dengan mimik santai.

Banyak yang mencibirnya, “Lansia kok disuruh belajar agama, mana mau?”

Pernah pula ada sekelompok warga non-Muslim yang menghalangi niat mulianya. Akses jalan ke pesantren ditutup. Namun Alhamdulillah, dengan pendekatan persuasif, rintangan-rintangan tersebut dapat dilalui.

Kini kendala yang sangat terasa adalah soal dana. Pesantren sedang berikhtiar membangun masjid al-Karimiah di atas tanah wakaf seluas 2000 meter persegi. Rencananya di sini akan dibangun semacam kompleks pemukiman buat lansia. Proses pembangunan masjid baru mencapai 30%.

“Alhamdulillah, meskipun tersendat-sendat, kami sudah bisa melakukan pengecoran atap lantai satu. Insya Allah dalam waktu tak berapa lama lagi, lantai satu sudah bisa digunakan untuk shalat.”

Berbagai upaya penggalangan dana dilakukan. Pak Win terus mengajak para dermawan untuk menyisihkan sebagian harta dalam rangka menyelesaikan pembangunan masjid.

Pak Win bercita-cita agar Desa Gedong kelak menjadi pusat pembinaan lansia. Terbukti banyak lansia yang ingin mendalami agama, karena selama hidupnya terkesan abai dan sibuk mengejar dunia.

“Ada beberapa santri yang dulunya pengusaha sukses. Menjelang usia lanjut, mereka merasakan kekosongan batin dan kegersangan spiritual. Ada beberapa yang berencana membangun rumah di sini, menyambut husnul khatimah di kampung ini,” terang Pak Win.

Berkat komunikasi yang baik, berbagai komunitas kini mendukung aktivitas Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Misalnya dari Sahabat Babinsa, komunitas yang beranggotakan pemuda-pemuda desa binaan Badan Pembina Desa.

Ada lagi komunitas Sayur Barokah, yang terdiri atas para petani sayur di daerah tempat wisata Kopeng, Salatiga. Juga komunitas Sego Jumat yang biasa berbagi konsumsi di masjid-masjid seusai shalat Jumat.

“Kami sering bertemu, saling berbagi, saling menguatkan. Meskipun hanya komunitas kecil, jika saling berjalin dalam tali ukhuwah, insya’Allah ikatannya akan kuat,” kata Anita, pendiri komunitas Sego Jumat. *MD Aminuddin/Hidayatullah.com

 

 

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Pesantren Kasepuhan Raden Rahmatpesantren lansiaUstadz Winarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jack Ma Tidak Lagi Masuk Daftar Tokoh Terkemuka Pengusaha China
Tulisan selanjutnya 92 Rekeningnya Dibekukan, Pengacara: Semua Rekening FPI adalah Dana Kemanusiaan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?