Senantiasa mengadukan segala permasalahan hanya kepada-Nya. Bantuan dari arah yang tak terduga pun turun seketika
Hidayatullah.com–Medan menuju daerah binaan “memaksa” Ustadz Ulil Albab Habibullah Lubis supaya lihai bersepeda motor. Dia harus melewati jalan berbatu, menghindari kubangan air dan lumpur, mendaki bukit, menuruni lembah, serta menembus zona kawasan hutan lindung.
“Waktu itu, motor saya hampir setiap minggu masuk bengkel. Jatuh dari motor juga sudah sering. Jadi makanan sehari-hari. Bahkan, istri saya sering menangis karena bolak-balik lewat jalan seperti itu,” kenang Habib—panggilan akrabnya, sambil terkekeh.
Daerah binaan itu terletak di Kampung Lau Gedang, Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara. Di sinilah, Habib bersama sang istri, Irmawati, istiqomah dalam mensyiarkan syariat Islam.
Lau Gedang termasuk kampung yang berada di zona Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), diapit dua kabupaten yakni Kabupaten Langkat dan Kabupaten Karo, dan terdapat sekitar 75 Kepala Keluarga (KK). Ketika Habib pertama kali menginjakan kaki di kampung ini, penduduk Muslimnya ada 20 KK. Tiga tahun setelah kehadirannya pun bertambah menjadi 45 KK.
Menjalin Silaturahmi
Bagi Habib, mengabdikan diri untuk mendakwahkan agama Islam di Kampung Lau Gedang sama halnya dengan meninggalkan “zona nyaman”.
Setamat dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pesantren Hidayatullah Depok (tahun 2013), ia ditugaskan ke Purwakarta. Tidak lama berselang, ia kembali ke Depok, bahkan sempat mendakwahi para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
“Setelah mendapat pengalaman berdakwah, saya diminta kembali ke kampung halaman di Medan. Sempat mengajar. Kemudian diajak survei ke Kampung Lau Gedang ini,” katanya membuka cerita.
Waktu itu, dalam benak Habib tak pernah terpikir akan ditugaskan di daerah tersebut. Sebuah kampung yang belum terjamah oleh dakwah Islam dengan baik, tidak ada listrik karena akses untuk pemasangan tiang serta kabel-kabel listrik cukup berat mengingat akses jalan yang esktrim, apalagi sinyal telepon maupun internet.
Setelah survei, Persaudaraan Da’i Indonesia (PosDai) Sumatra Utara ternyata langsung meminta Habib untuk berdakwah di kampung Lau Gedang. “Dengan memohon petunjuk Allah Azza Wa Jalla, saya menyanggupi amanah tersebut,” tegasnya mantap.
Silaturahmi kepada tokoh masyarakat setempat pun jadi langkah awal Habib dalam memulai dakwahnya. Termasuk juga, menjalin hubungan baik dengan warga. Seraya silaturahmi untuk mengenalkan diri, ia juga mempelajari kultur, adat istiadat, hingga kebiasaan penduduk setempat.
Ketika itu, sudah ada sebuah masjid di kampung Lau Gedang. Hanya saja lama terbengkalai. “Saat pertama saya datang itu sekitar tahun 2017, mohon maaf, jarang terdengar adzan, karena memang tidak ada takmir ataupun ustadznya di kampung ini,” ungkap Habib
Secara perlahan, Habib mengajak warga Muslim untuk kembali memakmurkan masjid di sana. Ia mulai menggelar kegiatan, mulai dari shalat 5 waktu, belajar mengaji, pengajian, buka puasa bersama di bulan Ramadhan, hingga qurban di hari raya Idul Adha—menjadi penyembelihan hewan qurban yang pertama.
Kehabisan Bahan Makanan
Di manapun lokasinya, selalu ada tantangan serta rintangan dalam berdakwah. Selain medan yang sangat sulit, ia mengaku tantangan yang cukup berat yakni bagaimana menjaga spritualitas diri.
Selain itu, tentu ada masalah lain yang harus ia hadapi. Mulai dari biaya hidup sehari-hari keluarga hingga operasional dakwah. Tetapi problematika itu justru membuat Habib merasa lebih dekat dengan Allah Ta’ala.
“Sebab kepada siapa lagi kami bisa berharap kecuali dari Allah semata. Untuk komunikasi dengan keluarga ataupun ustadz-ustadz pembimbing kami di Kota Medan sangat sulit karena tidak ada sinyal. Jadi, jika ada masalah sepenuhnya kami serahkan serta adukan kepada Allah semata. Alhamdulillah, dari situ kita memohon, Allah turunkan bantuan dari arah yang tidak terduga,” papar Habib.
Ia bercerita pernah suatu saat kehabisan bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Tak ada sama sekali sesuatu yang bisa dimakan. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang mengantarkan beras ke rumah. MasyaAllah…
Selain itu, tantangan dari masyarakat setempat, yakni tingkat pendidikan yang rendah. Faktor penyebabnya karena mereka masih tertutup dengan dunia luar. “Mohon maaf, masih banyak warga Lau Gedang yang buta tentang ilmu agama ataupun umum,” kata Habib merasa prihatin.
Warga Lau Gedang bisa menerima Habib, sebab tutur dan perilakunya mampu memperlihatkan wajah Islam yang sesungguhnya, yakni lembut dan membawa rahmat di sekitarnya. Pun warga Muslim maupun non-Muslim mengenal Habib sebagai sosok yang baik.
“Banyak dari mereka yang tertarik dengan Islam karena melihat umat Islam ini kok pembawaannya tenang. Kita berbuat baik kepada siapapun, tidak pandang agamanya apa. Seperti qurban. Orang-orang non-Muslim yang kita beri daging qurban itukan tidak merayakan, tetapi tetap kita kasih juga,” jelas Habib.
Tak hanya berjuang mendakwahkan dinul Islam, Habib juga sukses mendirikan pesantren Hidayatullah dengan dua kampus yang lokasinya berbeda. Pertama, di Jalan Juma Lau Tengah, Desa Jaranguda, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di sinilah Habib tinggal bersama keluarga. Lalu kampus kedua, ada di Kampung Lau Gedang.
Habib bersama sang istri juga mendidik dan merawat anak yatim muallaf dari Kampung Lau Gedang. Ia mengajarkan Islam selayaknya santri kepada mereka sejak dini. Bahkan beberapa orangtua yang beragama Non-Muslim menitipkan anaknya untuk dididik Habib dan diajari tentang syariat Islam.
Mereka juga merawat serta membesarkan belasan anak muallaf dari Kampung Lau Gedang. Kebutuhan sandang dan pangan didapatnya dari bantuan donatur serta swadaya masyarakat Muslim Kabupaten Karo dan sekitarnya.*