Hidayatullah.com | DAGING kambing adalah salah makanan yang banyak digemari orang. Rasulullah mengatakan hewan kambing dinilai banyak kebaikan dan ada keberkahan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
اتخذوا الغنم فإن فيها بركة
“Peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing kerana di dalamnya terdapat barakah.” [HR Ahmad]
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda;
ما بعث اللهُ نبيًّا إلا رعى الغنمَ . فقال أصحابُه : وأنت ؟ فقال : نعم ، كنتُ أرعاها على قراريطَ لأهلِ مكةَ
“Tidaklah seorang Nabi diutus melainkan ia menggembala kambing. Para sahabat bertanya, apakah engkau juga?”. Beliau menjawab, “iya, dahulu aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Al Bukhari, no. 2262).
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu (RA) berkata, “Makanlah daging, karena daging dapat membersihkan warna kulit, mengecilkan perut, dan memperindah tubuh.” Selain berhaji, syariat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam (AS) yang tetap dihidupkan umat Islam adalah berkurban saat Idul Adha. Kisahnya terdapat pada surat ash-Shaffat [37] ayat 107.
وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS: Ash-Shaffat: 107)
Makanan Penduduk Surga
Daging adalah makanan istimewa, karena ia makanan penduduk Surga. Hal ini telah difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sebagai berikut;
وَأَمْدَدْنَٰهُم بِفَٰكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ
“Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (Ath-Thur [52]: 22).
Baca: Ada Berkah pada Daging Kambing
Sementara dalam hadits sahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan, Rasulullah ﷺ pernah dihidangi daging. Lalu bagian lengan daging itu diberikan kepada beliau. Beliau ternyata amat menyukainya.
Abu Hurairah r.a. berkata: “Suatu ketika dihidangkan ke hadapan Rasulullah ﷺ semangkuk bubur dan daging. Maka beliau mengambil bahagian lengan (dari daging tersebut), dan bahagian itulah yang paling disenangi oleh Nabi Muhammad ﷺ.” (HR. Muslim)
Ibnu Qayyim pun dalam kitab Thibbun Nabawi menegaskan bahwa Nabi ﷺ menyukai daging. Daging yang paling disukai beliau bagian lengan dan punggung. Jika Rasulullah ﷺ suka menyantap kambing kenapa umatnya justru antipati?
Kenyataannya, secara umum daging memang memiliki banyak manfaat, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib RA, “Makanlah daging, karena daging dapat membersihkan warna kulit, mengecilkan perut, dan memperindah tubuh.”
Manfaat dan efek negatif spesifik setiap jenis daging memang berbeda-beda, sebagaimana diuraikan Ibnu Qayyim. Daging domba adalah panas tingkat kedua dan lembab tingkat pertama. Artinya, menurut klasifikasi daging ini kaya nutrisi. Jenis daging domba terbaik saat berumur satu tahun. Menurut istilah di Inggris atau Kanada, daging ini disebut lamb dan hogget (di atas satu tahun).
Ibnu Qayyim menjelaskan, daging domba muda bisa menghasilkan darah yang baik jika dicerna dengan baik. Daging jenis tersebut cocok untuk orang yang memiliki temperamen panas atau dingin dan beraktivitas olah raga berat di daerah dingin. Selain itu, bermanfaat untuk orang yang bermasalah dengan empedu hitam, ditambah menguatkan akal dan daya ingat. Namun, daging domba tua, yang kurus tidaklah bagus.
Daging domba yang terbaik berwarna gelap dari hewan jantan. Lebih ringan, lebih gurih, dan lebih bermanfaat. Juga gaging domba yang dikebiri lebih baik dan lebih bermanfaat.
Maka tak salah, Islam membolehkan kurban dengan hewan yang dikebiri karena ia tak termasuk dari 4 cacat yang membatalkan keabsahan kurban. Dari A’isyah dan Abu Hurairah RA, “Bahwa suatu ketika Nabi ﷺ ingin berkurban, kemudian membeli dua ekor domba yang besar, gemuk, bertanduk, berwarna putih bercampur hitam, dan dikebiri. Kemudian ia menyembelihnya.” (Riwayat Ibnu Majah).
Baca: Manfaat Daging Kambing untuk Kesehatan Tubuh Pria dan Wanita
Menurut Ibnu Qayyim, daging merah dari domba gemuk lebih ringan dan lebih bernutrisi, sementara dada kambing kurang nutrisinya dan mengapung di lambung. Hanya saja orang yang bermasalah dengan penyakit kolik (penyumbatan saluran cerna), akan kena efek negatif tetapi itu bisa dinetralisir dengan manisnya gula. Sementara bagi orang yang menderita mual, sebaiknya memasak daging domba dengan kuah yang asam.
Ibnu Muflih berpendapat, mengonsumsi daging sapi terus-menerus bagi yang belum terbiasa bisa menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan empedu hitam seperti kudis, panu, kusta, lepra, penyakit gajah, kanker, was-was, demam quartan, dan berbagai macam inflamasi. Efek buruk daging sapi tersebut bisa dinetralisir oleh bawang putih, kayu manis, lada dan jahe (sebagai bumbu), sebagaimana disebutkan dalam kitab Adab Asy-Syariyyah.
Daging dan Solusi Darah Tinggi
Ibnu Qayyim mengatakan, “Ketiga jenis makanan itu (daging, madu dan manisan) adalah jenis makanan terbaik dan paling bermanfaat untuk tubuh, hati dan anggota tubuh. Menyantap makanan seperti itu amatlah bermanfaat dalam menjaga kesehatan dan stamina. Tidak berbahaya, kecuali bagi penderita penyakit tertentu.”
Dalam Thibbun Nabawi, darah tinggi dibagi menjadi dua jenis. Pertama, darah tinggi karena kelebihan temperamen dingin dan kering, dan kedua karena kelebihan temperamen panas dan lembab. (Traditional Roots of Medicine: h. 148-149).
Maka solusi darah tinggi jenis pertama mengurangi garam dan perbanyak sayur serta buah. Minum air hangat setiap hari, berpuasa setidaknya 2-5 hari setiap bulan. Hindari produk yang terbuat dari susu dan sapi, gorengan, kopi, rokok dan alkohol. Konsumsi daging domba sekadarnya dan rutin berbekam atau fashdu pada pembuluh vena basilica maupun vena mediana.
Sedang untuk jenis kedua serupa dengan yang pertama, ditambah upaya mengurangi berat badan, cukup tidur dan menjaga kesehatan saat cuaca panas dan kelembaban tinggi. Ibnu Qayyim berpendapat, daging terbaik adalah yang terjauh dari tulang, bagian kanan lebih lunak dan lebih baik kualitasnya untuk lambung.
Daging leher juga lezat dan baik. Daging lengan lebih ringan dan lezat, lebih lembut dan terbebas dari kotoran, di samping juga paling cepat dicerna. Daging punggung amatlah bergizi, bisa menambah darah bersih.
Sementara Adz-Dzhahabi dalam Thibbun Nabawi menguraikan, limpa dagingnya jelek dan mengakibatkan sakit empedu. Sedangkan hati yang paling bagus dimakan dengan cuka dan kazbarah (ketumbar), lalu disantap dalam kondisi dingin bersama karaaya.
Al-Farzdaq berkata, “Ambillah daging bagian depan. Hindarilah kepala dan perut, karena keduanya adalah sarang penyakit.”
Namun demikian perlu dihindari makan daging berlebihan, karena Umar bin Khaththab RA berkata, “Hindarilah daging, karena sesungguhnya daging itu mengandung zat yang ganas seperti ganasnya khamer.” (Imam Malik dalam Al-Muwaththa). Wallahu a’lam.*/Joko Rinanto, ahli farmasi tinggal di Bekasi, Jawa barat