Hidayatullah.com | Membutuhkan mental dan ketelatenan yang tinggi untuk menguasai seni olah raga menunggang kuda. Sebelum belajar menunggang kuda, ada baiknya jika menjalin hubungan terlebih dahulu dengan kuda dan mengetahui karakter kuda yang akan ia tunggangi, karena kuda juga mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda.
Sebagian dari mereka ada yang lebih cerdas dibanding yang lain. Begitu pula sebagiannya lebih kuat dan berani, dan sebagiannya perlu dilatih agar tidak takut dengan busur panah, bendera, warna mencolok dan air. Sebagian kuda juga ada yang bandel dan pemalas, bahkan ada kuda yang jujur dan ada pula yang ‘berbohong’ yaitu ketika kontrol yang berubah secara tiba-tiba, berbelok kanan atau kiri tanpa sepengetahuan penunggangnya sehingga sangat membahayakan penunggangnya.
Karakter kuda hampir mirip dengan manusia. Kita akan semakin bisa mengenalnya, jika banyak terjalin komunikasi dan muamalah dengan kuda tersebut. Bahkan seluruh tabiatnya akan keluar, jika kita melakukan safar dengannya.
Di sisi lain, tahu cara yang sudah diterapkan pelatih atau pemiliknya dalam memberikan perintah kepada kuda. Ada standar yang sudah baku dan ada yang punya cara sendiri. Di antaranya dengan menggunakan ketukan tumit kaki (kick) yang diarahkan ke sisi samping tubuh kuda di belakang kaki kuda bagian depan.
Beberapa pelatih menggunakan besi spur (sejenis besi tambahan) yang diletakkan di belakang tumit kaki pelatih. Ia seperti kuku jalu pada ayam. Penunggang hanya perlu menempelkan besi tersebut pada bagian perut atau lebih maju untuk memberi perintah kuda berjalan. Semakin kuat menekan besinya, kian kuat pula kuda berlari dan cara ini yang paling standar di dunia equestrian, tanpa menggunakan suara hentakan atau alat bantu yang lain.
Sebagian pelatih lain ada yang menggunakan cambuk (whip) atau suara cicak (ck ck ck), bahkan suara dzikir (bismillah, Allahu Akbar, dan lainnya) untuk memberi isyarat dan perintah kepada kuda yang ia latih.
Groom atau Aktivitas Merawat
Salah satu rahasia agar terjalin komunikasi antara kuda dan penunggangnya adalah dengan groom atau aktivitas merawat, membersihkan dan menyiapkan kuda untuk ditunggangi. Maka alangkah baiknya seseorang penunggang ikut serta dalam aktivitas groom, yaitu turut serta mengeluarkan kuda dari kandang, lalu memasukkannya ke tempat grooming dan mulai dengan menyikat dan mengeroknya dengan kerokan besi ke seluruh tubuhnya. Kemudian membersihkan kuku-kukunya dari tanah maupun kerikil yang masuk. Tidak lupa membasuhnya dengan air pada bagian kepala, leher, kaki, perut, dada, kemaluan dan menyekanya dengan handuk. Dan terkadang dimandikan dengan sabun atau shampo sesuai kebutuhan. Lalu ia memulai memasangkan bridle dan pelana dengan menyetingnya sesuai ukurannya.
Mengenai aktivitas merawat kuda ini, dalam Kitab Muwattho’ Imam Malik, dijelaskan bahwa Rasul pernah mengusap dan membasuh bagian wajah dan kepala kuda dengan selendang beliau, lalu sahabat bertanya “Apakah harus dengan selendang engkau, wahai Rasulullah? Beliau menjawab إِنَّ جِبْريلَ عَاتَبَنِي فِي الخَيْلِ “Sungguh (tadi malam) Malaikat Jibril menegurku mengenai kuda (karena aku meremehkannya).”*/Iqbal Azhar Aziz, pembina Solo Berkuda