Hidayatullah.com–Terperangkap antara pandangan tradisional dan tekanan karier, perempuan yang bekerja di Taiwan semakin memilih untuk membekukan sel telurnya di klinik kesuburan akibat menunda menikah dan menjadi ibu.
Perempuan memainkan peran besar dalam angkatan kerja di Taiwan, membuntuti Selandia Baru dan Australia untuk pekerjaan perempuan di antara 14 negara di Asia, seperti disampaikan dalam laporan terbaru MasterCard.
Pada saat pertumbuhan ekonomi yang lambat, telah membuat keamanan kerja menjadi lebih mendesak. Hal ini telah menyebabkan rata-rata usia pernikahan di Asia Timur menjadi 30 tahun saat ini, dibanding 24 tahun pada tahun 1980, sekaligus hal ini mendorong minat mereka membekukan telurnya.
“Saya tidak yakin apakah kondisi indung telur saya akan mulai merosot. Tapi yang pasti saya akan menikah terlambat, namun ingin juga menjadi seorang ibu,” kata Linn Kuo (34 tahun), dilansir The Malaysian Insider, Selasa (27/08/2013). Ia telah membekukan sel telurnya tiga tahun lalu.
Kuo, manajer di Cisco System Taiwan Ltd, memiliki pekerjaan dengan gaji yang baik, sekaligus memungkinkan dia untuk bekerja dari rumah. Sementara kariernya terus naik dengan dengan mulus, namun tidak demikian dalam memilih pasangan pasangan hidup.
Setelah ibunya meninggal, ia menyadari pentingnya memiliki anak-anak di kemudian hari untuk teman hidupnya.
“Saya sudah sampai pada kesimpulan,” katanya. “Saya sudah melakukan pemikiran dan memutuskan untuk membekukan telur saya.”
Lai Hsing-hua, direktur klinik di Pusat Reproduksi e-Stork di kota Hsinchu, mengatakan, ia bisa memahami keinginan banyak pasien yang meminta membekukan sel donor telur akibat pernikahan yang terlambat.
“Kami pikir jika mereka telah membekukan telur lebih awal, dapat mencegah mereka menggunakan sel telur yang jelek pada saat kami melakukan fertilisasi in-vitro,” katanya.
Klinik itu mendapat 100 telepon sebulan untuk permintaan pembekuan telur. Padahal lima tahun hanya melakukan 20 permintaan. Tahun 2011 menangani 70 permintaan. Teknologi yang digunakan cukup memadai, sehingga memiliki tingkat keselamatan tinggi terhadap indung telur yang dibekukan. Proses pengambilan sel telur memakan waktu sekitar 20 menit.
Chen Fen-ling, seorang profesor dalam bidang pekerjaan masyarakat di National Taipei University, mengatakan, tekanan sosial yang menyebabkan perempuan menunda menikah dan memulai kehidupan berkeluarga.
“Perempuan yang sudah menikah seperti lilin menyala di kedua ujungnya,” katanya. “Mereka melakukan dua pekerjaan, mencari uang untuk pekerjaan pada siang hari, tapi ketika kembali ke rumah, mereka mengurus anak-anak dan orang tua mertua. Tekanan ini sering membuat wanita ragu-ragu ketika membuat keputusan tentang pernikahan.”
Kondisi tentang karier, perkawinan, dan menjadi ibu, telah menyebabkan tingkat kelahiran menjadi rendah. Taiwan bersama Hong Kong berada di peringkat ketiga di dunia dalam hal rata-rata jumlah anak yang dilahirkan per wanita. Negara itu berada di atas atas Makau dan Singapura, lapor CIA World Factbook.*