BERTANYALAH pada diri sendiri secara jujur, mengapa spirit ibadah kita kendor atau melemah?
Boleh jadi, karena kita lupa, tujuan utama dari Allah menciptakan manusia,yakni diri kita sendiri sebagai makhluk-Nya untuk senantiasa beribadah penuh pasrah hanya kepada-Nya.
Fenomena kurang makmurnya masid di negeri mayoritas Muslim ini, kemiskinan dan kebodohan, termasuk praktik korupsi dan bencana alam yang cukup sering melanda negeri ini, sudah cukup untuk dijadikan sebagai sinyal bahwa, kaum Muslimin di negeri ini mesti kembali mengingat tujuan utama diciptakannya manusia.
Jika tidak, maka seluruh fenomena keburukan, keprihatinan dan kesusahan yang terjadi di negeri ini akan sulit diatasi. Sebab, perbaikan mustahil terjadi, manakala manusianya tidak kembali kepada hakikat penciptaannya, yakni mengabdi kepada Allah Ta’ala.
Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman
مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ و
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariya [51]: 56).
Ayat tersebut secara gamblang memberikan penjelasan bahwa, hidup manusia akan berada pada kebenaran dan pasti akan berolah keberuntungan manakala memang lajur utama kehidupannya berada tegak di atas rel ibadah kepada Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, perintah beribadah kepada Allah ini diulang-ulang pada ayat yang lain. Misalnya, “Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (QS. 21: 92). Dan, masih cukup banyak ayat lain yang senada. Ini berarti, bahwa perintah beribadah kepada Allah tidak bisa dianggap sebelah mata.
Tajamkan Ilmu
Lantas mengapa banyak di antara umat Islam yang terkesan ringan dalam menjalani ibadah kepada-Nya? Sebagian justru abai dan tampak kurang peduli.
Satu di antara sebabnya ialah karena mereka tidak bersungguh-sungguh mempertajam ilmunya, sehingga menjadi lalai dan abai. Ibadah kepada Allah memang tidak bisa dilakukan hanya dengan bekal semangat, warisan, apalagi ikut-ikutan.
Seorang Muslim akan mampu beribadah dengan sungguh-sungguh hanya apabila ada kekuatan ilmu di dalam akal dan hatinya. Itulah mengapa, perintah pertama kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad adalah perintah membaca, Iqra’.
Disamping itu, pada ayat lain, Allah menegaskan secara eksplisit bahwa beribadah kepada Allah mesti menggunakan ilmu.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad [47]: 19).
Fakhruddin Al-Razi dalam kitabnya Ajaibul Qur’an mengatakan bahwa, seorang hamba wajib mengetahui (memiliki ilmu) dzat Allah dengan setajam-tajamnya, barulah kemudian memohon ampun kehadirat-Nya. Artinya, tidak mungkin akan ada seorang Muslim memohon ampunan kepada Allah Ta’ala dengan kesungguhan dan konsistensi tinggi, manakala ia tidak mengetahui dzat Allah Ta’ala.
Untuk itu, seorang Muslim kata Imam Ghazali dalam kitab “Minhajul Abidin” mesti benar-benar memikirkan ecara serius semua petunjuk dan bukti-bukti tentang Allah. Jika tidak, maka sulit seorang Muslim akan memiliki spirit ibadah yang baik. Karena menurut Imam Ghazali ibadah itu merupakan buah dari ilmu.
“Ilmu dan ibadah itu sangat pokok. Dengan sebab keduanya terjadilah apa yang engkau baca dan engkau dengar, baik berupa tulian, pengajaran, nasihat-nasihat, maupun penelitian. Bahkan, lantaran keduanya (ilmu dan ibadah) kitab-kitab suci telah diturunkan kepada para Rasul, termasuk penciptaan langit dan bumi,” demikian tulis Imam Ghazali dalam kitab Minhajul Abdidin.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan seseorang yang tidak mengantarkan pada ketaatan dalam beribadah kepada Allah, maka ilmu yang dimilikinya hanyalah sia-sia. Ia tidak memperoleh manfaat hakiki dari ilmu yang dimilikinya.
Imam Ghazali memberikan ilutrasi yang sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa ilmu itu laksana pohon, sedangkan ibadah adalah buahnya. Pohon tanpa buah, apalah gunanya. Memang benar, kemuliaan itu memang milik pohon, karena ia menjadi asal buah. Tetapi, kita mendapat manfaat dari pohon itu dengan merasakan buahnya.
Oleh karena itu, masih dalam kitab yang sama, Imam Ghazali mengutip perkataan Hasan Al-Bashri, “Tuntutlah ilmu tanpa melalaikan ibadah. Dan, taatlah beribadah tanpa lupa menuntut ilmu.”
Terkait dengan pentingnya ketajaman ilmu ini, menarik apa yang disampaikan oleh Sayyidina Ali yang dikutip Imam Ghazali. “Aku tidak merasa senang jika aku meninggal saat masih bayi, lalu aku dimasukkan ke dalam surga hingga aku tidak sempat besar dan mengetahui akan Tuhanku. Sebab, manusia yang paling mengetahui tentang Allah itu adalah yang paling takut dan paling banyak ibadahnya, juga paling baik nasihatnya mengenai Allah.”
Ilmu yang Bermanfaat
Dari uraian di atas sangat jelas bahwa ilmu yang mesti ditajamkan adalah ilmu tentang Allah, karena itulah ilmu yang bermanfaat. Dengan ilmu itulah, para ulama zaman dahulu mampu menguasai banyak bidang ilmu. Pada saat yang sama mereka juga ahli ibadah yang sangat luar biasa.
Sekedar untuk mengingatkan kita, Imam Syafi’i, pakar fikih yang tidak pernah tidak menghatamkan al-Qur’an, lebih-lebih di bulan Ramadhan. Fakhruddin Al-Razi adalah pakar banyak bidang yang tidak pernah melewatkan malam untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan, Imam Bukhari, tidak menulis satu hadits, kecuali telah sholat dua rakaat.
Ini menunjukkan bahwa, ilmu yang bermanfaat ini akan mengantarkan seorang Muslim pada kesempurnaan kecerdasan, bukan saja ilmu yang bersifat saintis dan mengabaikan moral, seperti ilmuwan Barat. Tetapi ilmu saintis yang semakin mendorong spirit beribadah. Inilah yang nampaknya belum diupayakan dengan penuh kesungguhan.
Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendorong seorang Muslim taat dan total menjadikan kehidupannya ini sebagai ladang menuju akhirat dengan semangat ibadah hanya kepada Allah Ta’ala. Inilah ilmu yang mesti diutamakan agar spirit ibadah umat Islam tetap terjaga dan tentunya lebih menggairahkan dan menggerakkan.*