SALAH satu anugerah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang kerap disalahgunakan adalah kehidupan. Kelihatannya, seiring berkembangnya manusia dalam teknologi dan sains, penyimpangan antara cara hidup kita dan cara hidup seharusnya berdasarkan fitrah juga meningkat.
Meski kini klaim atas kemenangan teknologi dan kecanggihannya yang tak pernah ada sebelumnya dalam sejarah, kita masih berjuang menghadapi depresi, meningkatnya angka bunuh diri dan perceraian yang mengkhawatirkan.
Bahkan sebagai seorang Muslimah, sangat menyedihkan saat kita menjadi wanita yang senang chatting, berolahraga di atas treadmill, dan sekedar meng-klik waktu yang seharusnya untuk keluarga dengan memberi like, share, atau komen di postingan media sosial yang tidak berguna. Kita berpura-pura menjadi orang lain untuk mencari perhatian orang yang tidak kita suka, dengan uang yang tidak kita miliki, untuk alasan yang tidak kita ketahui.
Dari menjadi seorang Muslimah yang anggun terbalut dalam kesederhanaan dan kehormatan, kita telah mengubah diri kita menjadi gantungan baju dengan merek-merek ternama.
Eksistensi kita menurun, yang semula merupakan Hamba Allah, berubah menjadi hamba nilai mata uang, yaitu uang yang kita terima setiap bulan yang sayangnya tidak kita gunakan untuk memperoleh identitas kita sebagai seorang Muslimah.
Bukankah sudah waktunya kita belajar untuk memprioritaskan peran kita sebagai Muslimah di atas hal-hal yang lain? Hidup selalu penuh dengan godaan, dan rintangan yang akan selalu mencoba untuk menjebak kita untuk mencuri waktu berharga dan iman, dengan menjadikan kita eksis dibawah angan-angan indahnya menjadi orang kaya lagi penting.
Inilah saatnya untuk menegaskan identitas kita yang sebenarnya di bawah cahaya Islam dan firman-Nya. Hidup tentu saja adalah sebuah perjuangan; pilihannya yakni hanya ada dua, apakah kita berjuang di jalan Allah atau menyimpang dari jalan itu.
Kita harus berhenti berusaha untuk ‘membaur’ ke dalam kehidupan dunia ini; karena ia sebenarnya bukanlah milik kita. Kita diturunkan ke dunia ini dalam waktu singkat untuk mempersiapkan tempat tinggal abadi kita, yaitu Jannah, insyaaAllah.
Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan identitas kita sebagai Muslimah dalam dunia sementara dan konsumtif yang tampaknya telah menjerat sebagian besar dari kita saat ini?
- Pertahankan keimanan dan berhenti menyalahkan orang lain
Beberapa dari kita mungkin masih mengakui gaya hidup yang salah, namun anehnya tidak mau berjuang melawan hal itu. Kita menerima begitu saja keniscayaan malapetaka yang kita hadapi tanpa ada perlawanan sama sekali. Karena itu, untuk menghindar dari rasa bersalah karena tidak mengambil alih atas perbuatan kita sendiri, dan dengan mudahnya menempatkan tanggung jawab pada “tangan tak terlihat” yang membentuk dinamika masyarakat kita.
Pertama-tama, kita harus mengakui bahaya yang mengintai keimanan kita yang terlihat dari gaya hidup masyarakat modern sekarang, kemudian memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk mengklaim kembali iman dan kehidupan kita.
- Kendalikan hidup dengan al-Qur’an
Kita harus mengambil kendali dari setiap menit yang lewat dalam kehidupan kita dengan mengembangkan gaya hidup, baik secara fisik, intelektual, dan emosional yang sehat. Gaya hidup sehat menuntut apapun yang kita lakukan, untuk melibatkan semua indera kita secara maksimal agar bisa melakukan aktifitas.
Agama kita telah menguraikan dengan jelas apa saja yang diharapkan terhadap kita dan sejarah kehidupan para Muslimah hebat di masa lalu, lebih lanjut menunjukkan kita bagaimana caranya untuk mendapatkan ridha Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, bukannya merasa tak tahu arah dan tujuan, namun kita harus menggunakan perisai iman dan al-Qur’an untuk melawan semua pengaruh buruk di sekitar kita. Kita, –para Muslimah–, sepenuhnya mampu, cerdas, dan maju, jika imannya benar, maka ia telah terlatih untuk mempertahankan dirinya sendiri dari berbagai serangan, baik secara psikologis, fisik, emosional, juga spiritual. Jadi, ambil langkah pertama dalam hidup Anda dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an, cara hidup yang diberikan oleh Sang Pencipta dan mempelajari din (agama)-Nya
- Berbuat dengan tujuan dan hasil yang Jelas
Kita harus tahu tujuan dari perbuatan kita dan memperjelas hasil apa yang kita inginkan. Ini sangat penting untuk tetap mengecek dalam aktifitas keseharian kita. Jika kita membuka mulut, usahakan itu karena kita memiliki sesuatu yang baik untuk diucapkan dan bukan hanya karena kita punya paket telepon gratis untuk ngobrol di ponsel semalaman.
Jika kita makan, usahakan itu untuk memuaskan rasa lapar dan menutrisi tubuh, bukannya hanya sekedar untuk memuaskan lidah dan mengisi perut kita semaunya. Saat kita berpakaian, usahakan itu untuk menutupi aurat dengan sederhana, bukan memamerkan status finansial kita. Pertanyakan diri sendiri sebelum melakukan sesuatu dan pilihlah suatu tindakan terbaik untuk diri anda sendiri di setiap aspek kehidupan.
- Banyak Berdzikir dan Menjaga Pola Makan (Sehat dan Halal)
Ketika kita hendak memulai hari, bukannya berdzikir kepada Allah, tetapi justru kebanyakan dengan secangkir kopi. Setiap hari, kita mengkonsumsi makanan sintetis dengan perasa buatan dan pengawet yang tidak sehat lalu menutup hari dengan obat tidur. Dan ironisnya, setelah penggerusan berkelanjutan terhadap fitrah dan sistem saraf, ternyata kita masih tertipu, mengganggap diri lebih cerdas dan maju ketimbang nenek moyang kita.
Dalam obat-obatan tersebut ada pelarian diri dan rasa lega sesaat ketika menghadapi tantangan hidup, tetapi kehidupan itu sendiri mesti dijalani, bukan malah melarikan diri. Cobaan dalam hidup mengajarkan kita pelajaran penting atas pentingnya bersabar. Jika kita tidak menghadapi ujian-ujian ini, kita tidak akan pernah mencapai nilai-nilai kemanusiaan yang harus dimiliki setiap Muslim. Obat-obatan anti depresi, obat tidur membuat kita hidup dalam ilusi dunia yang sempurna, padahal Rasulullah Shalallahu’alayhi Wa Sallam dan al-Qur’an itu turun kepada kita untuk menghentikan ilusi tersebut.
Dzikir, yaitu mengingat Allah dan mengingat akan pahala yang diberikan oleh-Nya atas setiap amalan kebaikan yang kita lakukan, adalah obat anti depresi seorang Muslimah. Singkatnya, segalanya akan terasa berbeda, bahkan cobaan ini akan membuat kita semakin dekat kepada Rabb kita dan akan membuka kesempatan untuk mengamalkan apa yang akan membantu kita pada hari kiamat nanti. Ia adalah tawakkal (menggatungkan semua masalah kepada Allah,red).*/ Artikel merupakan tulisan Farah Mehboob di jamiat.org.za [BERSAMBUNG]