Oleh: Meyra Kris Hartanti, SKM
TELINGA kita akhir-akhir ini terganggu dengan istilah asing yang tidak membawa kemaslahatan, bahkan lebih mencemaskan pada anak-anak kita.
Sebut saja istilah cabe-cabean. Fenomena gadis cabe-cabean adalah istilah bagi para remaja wanita ‘nakal’ yang didentikan sebagai penghibur wanita di balapan liar. Fenomena ini belakangan marak di Ibu Kota Jakarta, yang utamanya terjadi pada kelompok ABG (Anak Baru Gede). Belakangan lahir lagi istilah baru namanya terong-terongan (khusus untuk cowok).
Dari mana istilah ini berasal dan siapa yang pertama kali mencetuskan itu tidaklah terlalu penting. Hanya fenomena ini jelas menambah pekerjaan rumah kita semua. Maklu, cabe-cabean sudah pasti identik dengan remaja putri yang “nakal” dan berani menjajakkan dirinya baik itu untuk ajang pertaruhan maupun hadiah bagi sesama pembalap motor.
Tak jarang sebagian dari mereka tak hanya menemani pembalap atau sebatas tongkrongan di sekitar arena balap, namun lebih jauh mereka berani untuk memberikan tubuhnya kepada pemenang balapan tersebut. Apakah ini bukan sebuah “pelacuran gaya baru” sedang terjadi?
Fenomena Pesakitan
Fenomena cabe-cabean tidak lepas dari pengaruh adanya interaksi sosial yang ada dalam masyarakat kita. Adanya interaksi sosial membuat seseorang pada akhirnya harus memilih satu di antara dua pilihan; mempengaruhi atau dipengaruhi, berdiam diri atau ikut beraksi, menjadi bagian atau tidak menjadi bagian dari satu perkumpulan/komunitas, disanjung atau dicibir oleh yang lain.
Semua terjadi bermula dari interaksi sosial. Interaksi sosial yang landasannya baik, maka hasil dari interaksi sosial yang terjadi di dalamnya akan baik dan sebaliknya jika buruk landasan interaksi sosialnya, maka yang interaksi sosial hanya akan membawa pesakitan bagi orang-orang yang ada di dalamnya, bahkan di sekitarnya.
Kebanyakan cabe-cabean atau remaja yang berkeinginan menjadi bagian dari cabe-cabean labih cenderung karena faktor sosial atau pengaruh dari lingkungannya (teman, kakak kelas, pacar dll.). Keinginan menjadi orang yang sedikit “dilihat” atau diakui eksistensinya menjadi faktor pendorong sebagian dari mereka. Selain itu ada yang disebabkan oleh masalah keluarga hingga pada akhirnya mencari “pelarian” atau pelampiasan stress pada hal-hal yang negatif. Di sinilah pentingnya kedewasaan pada diri remaja saat menghadapi segala sesuatu dan keikutsertaan peran orangtua.
Bagaimanapun kunci utama hal ini adalah pengetahuan agama dan kesadaran akan keluhuran moral yang senantiasa harus dijaga sangat diperlukan. Dan itu pada orangtua pihak yang pertama kali mengawal dan mendampingi putra/putrinya agar tidak terserat fenomena rusak ini.
Pilar Utama Pendewasaan Remaja
Dari sini menunjukkan agama menjadi pilar utama dalam penanggulangan segala kerusakan moral, menjadikan manusia lebih berhati-hati dalam melakukan segala perbuatan dan menjadikan manusia lebih bijak dalam mengambil keputusan dalam hidupnya.
Tidak sekedar pengetahuan agama, namun pemahaman agama yang benar-benar merasuk ke dalam hati manusia hingga ia benar-benar bisa selalu merasa diawasi oleh Allah ta’ala.*/bersambung artikel berikutnya