HARI itu di Centre Culturel Avicenne (Pusat Kebudayaan Ibnu Sina), Rennes Prancis, diadakan sebuah diskusi dengan tema Pendidikan untuk Anak dengan subtema Bagaimana Berkomunikasi dengan Anak Remaja. Pembicaranya Bendjafer, seorang psikolog spesialis anak dan remaja dari Klinik Therapeutik Ibnu Sina di Paris.
Tema ini menarik bagi sebagian besar keluarga Muslim di Prancis. Maklum, negeri ini menganut konsep Laicité atau negara sekuler, dimana urusan agama dipisahkan dengan urusan negara.
Perbedaan budaya antara sebagian besar orangtua yang dibesarkan dalam suasana keagamaan dengan anak-anak mereka yang lahir dan berkembang dalam sistem sekuler tentu akan membuat suasana komunikasi sering tidak lancar. Tidak sepahamnya antara orangtua dan anak, akan menyulut ketidakharmonisan dalam sebuah keluarga.
Sebelum membahas cara berkomunikasi dengan anak remaja, pembicara memulainya dengan menjelaskan pendidikan kepribadian dan moral kepada anak. Tahapan ini penting dilakukan sebelum anak memasuki dunia remaja. Sebab, keberhasilan pendidikan kepribadian dan moral anak berpengaruh besar saat anak memasuki fase remaja.
Komunikasi
Usia 10 tahun merupakan masa transisi bagi kehidupan seorang anak menuju remaja. Ketika anak tersebut memasuki masa remaja, yang dimulai sekitar umur 12 atau 13 tahun, mereka lebih banyak mengambil referensi ke teman-temannya dibanding ke orangtua mereka. Pada masa ini, remaja akan mencoba melihat sampai batas mana ia boleh melakukan sesuatu. Bisa saja ia mulai mencoba sesuatu ke arah yang tidak benar. Dalam hal ini orangtua harus siap menjadi referensi bila si remaja mempunyai masalah. Dengan cara tersebut, diharapkan terjadi keterbukaan antara orangtua dan anak remaja.
Jika terjadi masalah karena si anak remaja mengambil langkah yang salah, orangtua bisa mengajaknya berdiskusi menyelesaikan masalah tersebut. Bukan menyalahkan si remaja yang berujung dengan pertengkaran.
Ada hal menarik yang diungkapkan oleh pembicara agar remaja mempunyai keteraturan hidup, yaitu membuat perjanjian tertulis antara orangtua dan anak remajanya. Misalnya, yang berkaitan dengan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Dengan adanya perjanjian tertulis tersebut, remaja bisa membaca hal-hal yang telah disepakati dengan orangtuanya sehingga tidak mudah melakukan pelanggaran. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat jadual keseharian yang tetap bagi remaja. Tujuannya membuat remaja mulai belajar hidup teratur.
Namun, orangtua harus tetap berperan dalam pendidikan anak remajanya. Hanya saja keduanya harus memperlakukan remaja berbeda dengan ketika mereka masih anak-anak. Sebagai contoh, jika terjadi perbedaan pendapat antara suami dan istri, sebaiknya tidak ditunjukkan kepada anak-anak. Namun hal ini tidak boleh disembunyikan dari anak remaja karena mereka perlu penjelasan sehingga mengerti permasalahan tersebut.
Hal yang tak kalah penting dilakukan orangtua adalah memberi nasehat dan contoh. Misalkan, jika ingin mengajak anaknya remaja berjilbab, orangtua bisa mengajaknya ketika hari besar-besar Islam. Demikian pula menceritakan kisah wanita-wanita saleh yang mendapat tempat spesial di dalam Islam karena ketakwaan mereka.
Hal penting yang juga perlu dilakukan oleh orangtua di antaranya membuat peraturan di dalam rumah yang harus ditaati oleh semua pihak, termasuk remaja. Peraturan itu penting diterapkan agar remaja memahami arti sebuah peraturan. Namun jika anaknya melanggar, perlu ada penjelasan kenapa hukuman itu harus diberikan kepadanya.
Ketika orangtua memberikan hukuman kepada mereka, hukuman itu harus ditegakkan secara tuntas. Dalam arti tidak diberikan keringanan karena ada hal khusus pada remaja. Tetapi, pada saat itu juga langsung dikomunikasikan kalau hukuman tersebut merupakan ketidaksukaan orangtua pada perbuatannya, tetapi cinta mereka pada pribadi si anak tetaplah ada. Harapannya adalah si anak tidak akan mengulangi perbuatan yang melanggar aturan yang telah digariskan dan selalu berperasaan kalau orangtuanya masih mencintainya.
Dalam kehidupan remaja, tentu tidak selamanya berjalan lancar. Salah satu yang sering muncul adalah nilai pelajaran. Ketika seorang anak remaja mendapat nilai yang sedang-sedang saja padahal sebenarnya ia bisa mendapatkan lebih dari itu. Sebagai orangtua sebaiknya tidak menekan anaknya untuk bekerja lebih keras lagi. Yang perlu dilakukan adalah memberi motivasi seperti mengatakan kepadanya “Saya percaya kamu, saya yakin kamu bisa mendapatkan lebih dari itu”, dan dengan senyuman tentunya. Untuk itu, perlu diatur kalimat yang baik yang membuat anak remaja makin bertambah semangat.
Hindari Kekerasan Verbal dan Fisik
Dalam mendidik anak-anak dan remaja, pembicara sering menekankan untuk menghindari kekerasan secara verbal (kata-kata) maupun fisik. Maksud kekerasan secara verbal di sini yaitu tidak melakukan dengan kata-kata kasar, keras atau teriak-teriak. Tetapi menggunakan kata-kata yang bagus dan lemah-lembut. Kekerasan secara fisik seperti memukul juga agar tidak dilakukan.
Dalam memahami Hadits Rasulullah Shubahanu Wata’ala yang membolehkan memukul anak yang tidak mau shalat harus dipahami dengan baik. Saat anak berumur 7 tahun, orangtua harus memberi contoh terlebih dahulu. Namun, jika orangtua sudah memberi contoh yang baik dan anak tidak mau mengikuti, maka pada usia 10 tahun boleh dipukul. Tetapi yang perlu diperhatikan, antara usia 7 sampai 10 tahun, orangtua harus terus membimbing anak secara terus menerus. Bahkan perlu ada pengulangan-pengulangan sehingga anak benar-benar terbiasa dengan aktivitas itu. Dan harapannya adalah pada umur 10 tahun bisa terhindar dari tindakan memukul di anak.
Orangtua juga harus bersikap adil dengan cara tidak membandingkan satu anak remaja dengan remaja lainnya. Ini karena setiap remaja mempunyai kemampuan berbeda. Dalam hal ini orangtua harus mengarahkan anaknya bahwa orang yang pintar bukan karena ketinggian intelektualnya, namun mereka yang bisa mengendalikan emosinya atau bisa mengendalikan marahnya. Ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh baginda Rasulullah pada 15 abad yang lalu dalam Haditsnya yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Orang yang kuat, kata Rasulullah, adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika dia marah.
Demikianlah beberapa tahapan mendidik anak remaja yang dibahas dalam seminar tersebut, terkait dengan pendidikan remaja Muslim di Prancis. Semoga tulisan ini bermanfaat.*/Luth, PhD, bidang ekologi Universitas de Rennes 1, Perancis