Sambungan artikel PERTAMA
SEDIANYA umat Muslim di seluruh dunia patut malu. Sebab rakyat Palestina telah berjasa demi kehormatan umat Islam sedunia. Mereka rela menumpahkan darah dan meregang nyawa demi menjaga Masjid al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam.
Padahal, semestinya umat Muslim di seluruh jagat raya (termasuk kita para Muslimah di Indonesia), berkewajiban sama dengan mereka, menjaga Masjidi al-Aqsha tercinta.
Sekian lamanya perang berkecamuk, sekian banyaknya darah yang tumpah, nyawa yang syahid, namun tidak habis juga perlawanan dari rakyat Palestina.
Sepertinya pasokan tenaga, jiwa, dan senjata, terus menerus ada. Bantuan Allah tentu tidak ada habisnya. Subhaanallah.
Tumbuhkan Anak-anak kita
Pertanyaannya, mengapa dijajah puluhan tahun, selalu tumbuh dari mereka pribadi-pribadi tangguh? Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang kuat, pemberani?
Pertama, tumbuh dengan Al-Quran
Sebagaimana diketahui, di Palestina (khususnya di Gaza), semua orang berusaha menghafalkan Al-Quran. Ada tradisi di Gaza di mana malu jika ada keluarganya tidak hafal Al-Quran. Gaza banyak melahirkan ribuan hafidz Qur’an.
Faktor lingkungan memberikan dukungan besar bagi anak untuk bisa sempurna dalam menghafal al-Qur’an.
Namun, peran ibu sangat besar kedudukannya dalam hal mengasuh dan mendidikan untuk menanamkan nilai moral dan spiritual pada anak-anaknya.
Janganlah sebut keadaan konflik di negara mereka sebagai alasan. Sebab ribuan hafidz dan hafidzah lahir di Palestina bahkan di usia yang sangat muda, 1,5 tahun!
Apa yang dilakukan oleh banyak anak di negara-negara aman seperti kita? Sempatkah menghafal Al-Quran? Atau sempatkah membaca saja? Mampukah anak-anak kita menghafalkan hadits-hadits dan do’a?
Para wanita Gaza dan Palestina, mereka berlomba-lomba mendidik anaknya untuk menghafal al-Quran sedari dini sebab mereka percaya bahwa keimanan dan hafalan Al-Qur’an sajalah yang dapat menolong mereka.
Al-Quran dapat menjadi syafaat bagi mereka beserta keluarga. Mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan itu dapat membantu mereka menjadi pemenang.
Ya, hari ini memang mereka belum dimenangkan Allah. Itu adalah bagian dari takdir yang diinginkan Allah subhanahu Wata’ala. Tapi mereka telah tumbuh menjadi pribadi yang tidak pernah takut. Bahkan dengan senjata seadanya, hanya melemparkan batu.
Lihatlah kejadian-kejadian paling mutakhir, dalam sepuluh hari terakhir ini. Sungguh tidak masuk akal dari segi alat, wanita dan anak -anak Palestina hanya berbekal batu, melawan tank-tank Zionis-Israel dengan senjata yang hebat, bantuan Amerika Serikat.
Keberanian anak-anak Palestina itu sebagian besar mereka dapatkan dari al-Quran. Dan itulah yang ditakuti oleh penjajah Zionis.
Kedua, gila belajar
Palestina sudah dijajah oleh Zionis Yahudi sejak puluhan tahun lamanya. Apakah sekolah-sekolah lantas bubar? Apakah perguruan tinggi ditutup? Jawaban tidak!
Sekolah dan perguruan tinggi memang harus diliburkan jika kondisi sedang darurat. Anak-anak masih belajar, hatta, melewati pos-pos militer yang digaja ketat oleh tentara Zionis.
Perang tidak memutuskan semangat belajar mereka. Di manapun, kapanpun. Senjata-senjata musuh tak membuat anak-anak Palestina berhati ciut.
Sepertinya 24 jam mereka sibuk belajar. Tak ada waktu untuk bermain, berjalan-jalan, nongkrong, menggosip, memperhatikan fashion artis. Bahkan fashion diri mereka saja tidak mereka perhatikan. Bedakan dengan di tempat kita. Di mana-mana sibuk selfie.
Lihatlah kondisi remaja wanita kita. Coba kita renungkan, jika kondisi Muslimah di Indonesia dihadapkan dengan situasi perang di Palestina. Dapatkah kita menerka, apa yang akan terjadi?
Lantas masih perlukah kita bertanya, apa yang membuat mereka seperti itu? Masih perlukah kita bertanya seperti apa para ibu yang mendidik mereka? Wallaahu a’lam.*/Rizky N. Dyah, seorang guru, tinggal di Melak Kutai Barat