Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Antara Rohingya dan Disfungsi Jama’ah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Agustus 2012 08:28 8:28 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Agustus 2012 08:28
Bagikan
Bagikan

SEORANG kawan memberikan perumapaan tentang sebuah kerusakan sistem; “Jika banyak nyamuk di kamar, tengoklah mungkin kasanya robek. Alih-alih sibuk memukuli nyamuk, lebih baik kita memperbaiki kasa.”

Kasa yang robek, dan bukan keberadaan nyamuk itu sendiri, adalah akar masalahnya. Ia memberi contoh yang lebih riil. Jika terjadi kecelakaan kerja di sebuah lokasi pekerjaan, besar kemungkinan ada kesalahan prosedur, atau ada langkah-langkah prosedural kerja yang tidak diaati. Ringkas kata, sistem menjamin keberlangsungan sebuah proses menuju tujuan. Sebaliknya, kerusakan sistem, atau sebut saja disfungsi sistem—biasanya karena faktor manusia (human error)—adalah akar dari terjadinya sebuah masalah.

Mari kita tengok umat ini. Pembantaian umat Islam di Rohingya, Myanmar, sudah menempati daftar kesekian belas dari kejadian serupa. Nomor-nomor di atasnya adalah Afghanistan, Iraq, Kashmir, Ambon, Moro, Patanni, Palestina, bahkan jauh sebelum itu adalah inkuisisi kaum Muslim di Andalus, Spanyol pada abad ke-15.

Ibaratnya, nyamuk-nyamuk terus menyedot darah umat Muslim. Mengapa ini terus terjadi, padahal sederet aksi umat Islam telah dikerahkan, dari mulai bantuan kemanusiaan hingga perlawanan milisi?

Persoalannya ada pada sistem atau prosedur jamaa’h. Ambil contoh begini; ketika kaum Muslim Rohingya dianiaya, siapa yang mau mengeluarkan statemen kecaman untuk membela atas nama perwakilan umat Islam sedunia?

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Ini penting. Tidak adanya suara marah dari 1,5 milyar umat Islam telah melenyapkan rasa takut dari junta militer yang berkoalisi dengan kaum buddist. Kedua, siapa yang bisa mewakili kaum Muslim mengeluarkan ancaman serangan balik, jihad atau mempertahankan diri jika aksi genosida ini diteruskan? Setidaknya kedua hal ini adalah prosedural standar dari sistem jama’ah umat Islam yang telah dilegitimasi oleh Allah SWT sebagai satu kesatuan tubuh. Maka, jika ada nyamuk menggingit lengan kiri, lengan kanan harus segera memukul nyamuk itu. Begitu sebuah jamaah bekerja.

Keadaan berkata lain. Kecaman hanya muncul dari ormas-ormas Islam yang hanya mewakili sekian ribu pengikutnya masing-masing, bukan umat Islam keseluruhan.

Penguasa negeri Muslim malu-malu untuk bertindak atau sekedar mengeluarkan statemen kecaman. Dengan segan pemerintah akhirnya akan membawa masalah ini agar dibahas di OKI. Namun, jangan harap ada ancaman untuk serangan balik. Satu-satunya ancaman yang muncul adalah dari pemerintah Taliban yang sedang delegitimate akibat pendudukan AS. Mereka pun sedang sibuk dengan urusannya merebut kembali negaranya dari penjajah.

Artinya, kecaman dan ancaman, dua senjata diplomasi itu ternyata diabaikan oleh pemerintah-pemerintah muslim. Padahal hal itu ada selemah-lemahnya pembelaan.

Sebagai perbandingan, sebuah teater yang menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam di Inggris di awal abad lalu berhasil dibatalkan untuk digelar hanya karena Sultan Abdul Hamid II. Penguasa Khilafah Utsmani saat itu, mengeluarkan pernyataan ancaman akan mengumandangkan jihad jika teater tersebut tetap digelar. Waktu itu ia mewakili kemarahan ratusan juta umat Islam sedunia.

Fakta ketiga, pemerintah Bangladesh, tetangga Muslim paling dekat Myanmar, sangat membatasi pengungsi masuk ke wilayah mereka. Sebuah tanda-tanya besar adalah mengapa umat Islam Bangladesh tidak mendesak habis pemerintah mereka untuk membuka pintu pengungsian?

Pertanyaan serupa ditujukan untuk kaum Muslim di negeri-negeri lain, termasuk Indonesia. Tidakkah kita harus mendesak habis pemerintah kita untuk melakukan sesuatu yang riil untuk Rohingnya?

Kalau Saja Sistem Jamaah Berjalan

Sejatinya memang kaum kuffar selalu membenci umat Islam. Al-Quran sudah banyak menyitir masalah ini. Maka defensif paling efektif seharusnya ada di kaum Muslim sendiri. Jika sistem jamaah umat Islam berjalan baik, maka kasus ini akan lebih sederhana. Para pengungsi itu akan diterima oleh tetangga Muslim yang terdekat.

Umat Islam, lewat penguasanya, akan memberikan gertakan berupa ancaman jihad jika aksi itu dilanjutkan. Jika tetap dilanjutkan, umat Islam lewat penguasanya akan mengorganisir pasukan untuk memberikan balasan atas darah umat Islam.

Bahkan, jika sistem berjalan baik, negeri umat Islam akan menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh umat Islam yang lain. Hatta, sebelum kasus pembantaian itu terjadi, umat Islam Rohingya sudah berhijrah ke tempat di mana mereka bisa hidup nyaman dan sejahtera bersama saudara-saudara muslim lainnya.

Namun, fakta ini tidak terjadi. Negeri-negeri Muslim bukan tempat yang nyaman bahkan bagi sesama Muslim dan berhijrah ke negeri sesama Muslim juga masih menjadi perkara yang tidak mudah.

Inilah disfungsi jamaah, saat di mana sistem kesatuan jamaah umat sebagai “jasadil wahid” (tubuh yang satu) tidak berjalan sebagaimana semestinya.

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (Shahih Muslim No.4685)

Tentu kita menaruh hormat pada elemen-elemen umat Islam yang kini sudah mempersiapakan segala macam program untuk membela dan membantu saudara Rohingya, dari demonstrasi sampai mengirim relawan. Ya, hal itu sangat membantu, namun sayangnya, “kasa”nya masih robek. Saat ini kita tidak menghentikan masalah, kita hanya meringankan masalah. Inilah fakta kelemahan kita sebagai umat akibat disfungsi jamaah. Maka, sekali kita menepuk seekor nyamuk, nyamuk-nyamuk lain akan terus berdatangan selama kasanya tidak diperbaiki. Begitu pula umat ini, kaum kuffar akan terus menindas kaum Muslimin selama sistem jama’ah kita mengalami disfungsi dan kita tidak melakukan perubahan.

Dengan demikian, jalan menuju terbentuknya jama’atul Muslimin menjadi urgen bagi masa depan umat ini. Tentu saja, sebagaimana wasiat Umar r.a., sebuah jamaah mestilah memiliki seorang imam, sedang Rasul SAW mengatakan,

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ»

“Sesungguhnya Imam adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim).

Resep dari Nabi untuk membela umat sudah jelas. Jika kita tidak ingin harus menulis nomor berikutnya setelah Rohingya dalam daftar penindasan terhadap umat Islam, keberadaan “perisai” tersebut menjadi wajib hukumnya. Wallahu a’lam.*/Reza Ageung S, sedang menyelesaikan studi di STIS Hidayatullah, Balikpapan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sehari Bersama Manhaj di PIP PKS Malaysia
Tulisan selanjutnya Antara Rohingya dan Disfungsi Jama’ah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?