Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Nusaibah, Wanita Sebanding Seribu Laki-laki (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Februari 2016 21:29 9:29 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2016 21:29
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

MANAKALA Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam melihat luka Ummu Umarah mengalirkan darah, beliau memanggil putranya seraya berkata, “Hai putra Ummu Umarah, ibumu… ibumu! Balutlah lukanya! Semoga Allah memberkahi kalian wahai keluarga. Ibumu lebih baik daripada si fulan dan si fulan.”

Dan ketika putranya Abdullah terluka, darah mengalir deras. Maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Balutlah lukamu!” Ummu Umarah mendengar ucapan Rasulullah dan ia membawa beberapa helai perban yang ia gantungkan di perut. Ummu Umarah mengambilnya, kemudian membalut luka putranya. Selanjutnya ia berkata, “Bangkitlah, gempurlah musuh-musuh itu.”

Dengan penuh kekaguman, Nabi bersabda kepadanya, “Siapa yang mampu melakukan apa yang telah engkau lakukan ini, wahai Ummu Umarah?” Tidak lama setelah itu, Rasulullah melihat orang yang telah melukai putra Ummu Umarah. Beliau menuding orang tersebut sembari berkata kepada Ummu Umarah, “Ia yang melukai putramu.”

Ummu Umarah segera berusaha mendekati orang tersebut dan memukul betisnya. Musuh itu jatuh tersungkur, kemudian Ummu Umarah menuntaskan kematiannya. Rasulullah bersabda kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanmu, membahagiakanmu dengan kematian musuhmu dan memperlihatkan terbalasnya dendammu pada kedua matamu.”

Ummu Umarah menuturkan apa yang ia alami dalam perang ini, “Aku melihat orang-orang berhamburan meninggalkan Rasulullah –mereka lari meninggalkan beliau karena sangat takut–. Dan hanya tersisa kira-kira 10 orang. Aku, dua putraku, dan suamiku, berdiri di depan beliau. Kami melindungi Rasuiuilah dari incaran musuh, sedang orang-orang hanya melewati beliau. Mereka terdesak mundur.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Beliau melihatku tidak memegang perisai. Ketika beliau melihat seorang prajurit yang lari dan ia membawa perisai, beliau berteriak, “Lemparkan perisaimu pada orang yang berperang itu.” Prajurit itu melemparkannya, lantas aku mengambilnya. Kemudian aku pergunakan sebagai perisai untuk melindungi Rasulullah.

Sungguh yang bisa membuat kami kerepotan hanya pasukan kuda. Andai mereka berjalan seperti kami, insya Allah kami sanggup mengalahkan mereka. Seseorang datang dengan menunggang kuda. Ia memukulku dan aku menangkisnya dengan perisai. Ia tidak dapat berbuat apa-apa dan berbalik. Aku segera memukul tumit kudanya, sehingga ia terjatuh dari punggung kuda. Spontan Nabi berteriak, “Ibumu… ibumu..” Lantas putraku membantuku mengalahkan orang itu hingga aku berhasil mengantarkannya menuju ajalnya.

Abdullah bin Zaid berkata, “Di hari itu aku mendapat luka mendalam dan darah tidak mau berhenti mengalir. Nabi bersabda, “Balutlah lukamu.” Ibu menghampiriku dengan membawa beberapa perban di pinggangnya. Ia membekap lukaku, sedang Nabi berdiri. Setelah selesai, ibu berkata, “Bangkitlah putraku, kalahkan orang-orang itu!”

Nabi bersabda, “Siapa yang sanggup memperbuat apa yang engkau perbuat, wahai Ummu Umarah?!”

***

Hari-hari terus berjalan dengan manis dan pahitnya, sedang Nusaibah binti Ka’ab setia berjihad di jalan Allah dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Rasulullah wafat, kemudian kaum muslimin membai’at Abu Bakar sebagai khalifah, dan kelompok murtadin berbalik meninggalkan agama Islam.

Di bawah pimpinan Musailamah Al-Kadzdzab, mereka menyuarakan peperangan terhadap kaum muslimin. Maka Abu Bakar menyiagakan beberapa gempuran pada kelompok murtad di semenanjung jazirah Arab tersebut.

Pertempuran Yamamah merupakan pertempuran terdahsyat bagi kaum muslimin, tapi mereka memperlihatkan keberanian yang tidak tertandingi.

Di antara para pejuangg di jalan Allah ini adalah Nusaibah binti Ka’ab dan kedua putranya, Hubaib dan Abdullah. Hubaib tertawan oleh Musailamah. Ia disiksa dan menerimanya dengan sabar.

Musailamah berkata pada Hubaib, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah?” Dengan tegas ia menjawab, “Ya”

Musailamah bertanya lagi, “Apakah engkau mengakui aku utusan Allah?” Ia menjawab, ‘Aku tidak mendengar.” Lantas Musailamah mencincang tubuh Hubaib hingga meninggal.

Nusaibah mengetahui kematian putranya. Ia bernazar tidak akan mandi hingga Musailamah mati. Ia pun menuju medan laga bersama putranya yang lain, Abdullah. Ia sangat ingin menghabisi nyawa Musailamah dengan tangannya. Tapi takdir menghendaki orang yang membunuh Musailamah adalah putranya, Abdullah, yang membalaskan dendam saudara kandungnya, Hubaib.

Ummu Umarah menuturkan, “Dalam pertempuran Yamamah, tanganku terputus padahal aku ingin membunuh Musailamah. Namun tidak ada yang mengendurkan keinginanku hingga aku melihat orang busuk tersebut terkapar tidak bernyawa. Ternyata putraku, Abdullah bin Zaid, tengah mengusap pedangnya dengan bajunya. Aku menanyainya, “Engkau telah membunuhnya?” Ia menjawab, “Ya.” Lantas aku sujud syukur kepada Allah.

Dalam membunuh Musailamah, Abdullah dibantu Wahsyi bin Harb –pembunuh Hamzah di perang Uhud. Ia telah masuk Islam dan bersungguh-sungguh menjalankan ajarannya.

Dalam berbagai palagan perang, Nusaibah sebanding dengan 1.000 lelaki. Ia memenggal tengkuk pasukan musyrikin dan tidak peduli dengan keselamatannya selagi demi membela Allah.

Nusaibah adalah teladan bagi setiap mukmin dan mukminah, dan figur perjuangan serta pengorbanan. Kiranya Nusaibah binti Ka’ab dan wanita-wanita mukminah mujahidah lainnya cukup menjadi teladan bagi setiap wanita beriman yang mampu memberi kontribusi berarti dalam membela agama, melindungi tanah air dan merealisasikan kemajuan serta kesejahteraan. Semoga Allah membimbing dan meluruskan langkah mereka.*/Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail, terangkum dalam bukunya Bidadari 2 Negeri.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:mujahid wanitaNusaibah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Nusaibah, Wanita Sebanding Seribu Laki-laki (1)
Tulisan selanjutnya Maksimalkan Potensi Dakwah, IKADI Gelar Munas ke-2

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah

Berita
16 Oktober 2026 14:56
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’
Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?