Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Ajip Rosidi dan Warisan Keteladanan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Juli 2020 09:44 9:44 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Juli 2020 08:00
Bagikan
Sastrawan Ajip Rosidi meninggal dunia pada Rabu (29/07/2020).
Bagikan

Oleh: Artawijaya

 

Hidayatullah.com | Meski hidup tanpa gelar, nama Ajip Rosidi di kalangan penulis-penulis besar bidang kesusastraan, sangat terkenal. Sejak usia belasan tahun, Ajip Rosidi yang tak tamat sekolah, tulisan-tulisannya dimuat di majalah-majalah terkemuka di Indonesia.

Ia membuat takjub para penulis dan sastrawan-sastrawan besar ketika itu. Bagaimana mungkin, seorang bocah masih mengenakan celana pendek, namun tulisan-tulisannya sangat baik dan diminati pembaca.

Ajip lahir pada tahun 1938. Lebih dari seratus karya buku sudah ia lahirkan. Meski tak pernah mengenyam bangku kuliah, ia justru diminta menjadi dosen luar biasa di Jepang. Selama belasan tahun, Ajip mengajar di Negeri Sakura.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Kedekatannya dengan tokoh-tokoh Islam, terutama tokoh-tokoh Masjumi, bermula dari pertemuannya dengan Endang Saefuddin Anshari (ESA), anak salah seorang tokoh besar Masjumi, KH Isa Anshari, di salah satu toko buku di kota Bandung.

Dari pertemuannya dengan Endang, Ajip kemudian sering diajak untuk kumpul-kumpul dengan para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Atas jasa Endang Saefuddin Anshari pula, Ajip bisa bertemu lebih dekat dengan para tokoh Partai Masjumi, seperti; Moh.Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, dll.

Karena kedekatannya dengan Endang Saefuddin Anshari pula, banyak orang yang menduga bahwa Ajip banyak belajar Islam dan dekat dengan para tokoh dan aktivis Islam karena ‘bimbingan’ dan kedekatan dengan ESA tersebut.

Tak heran jika Ajip kemudian menulis biografi Mohammad Natsir, salah satu biografi terbaik tentang Natsir yang ditulis oleh seorang sastrawan yang hebat. Ajip juga pernah mengumpulkan tulisan-tulisan Natsir yang kemudian dibukukan lewat penerbit yang ia kelola.

Suatu ketika, Ajip yang sudah sangat dekat dengan ESA kemudian berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren. Lalu diantarlah Ajip oleh ESA ke Pesantren Persatuan Islam (Persis) Bangil, Jawa Timur. Di pesantren itu, ia bertemu dengan Ustadz Abdul Qadir Hassan, putra Tuan A.Hassan, yang mengelola pesantren tersebut.

ESA sudah sangat kenal dengan Ustadz Qadir, karena ayahnya, KH. Isa Anshari, adalah sahabat karib ustadz tersebut. Ajip sendiri mengenal Tuan Hassan, lewat buku-buku karyanya yang ia baca.

“Aku sendiri banyak membaca buku-buku A.Hassan yang sangat keras dalam menghadapi pihak-pihak yang dianggap keluar dari Al-Qur’an dan hadits,” kenang Ajip.

Dari Bangil, Ajip dan ESA lalu pergi ke Pesantren Darussalam Gontor, dalam rangka mencari pesantren yang pas untuk anaknya. Di PP Gontor, ia disambut oleh Kiai Zarkasyi dan Kiai Sahal, yang juga sudah kenal baik dengan ESA.

Takdir Allah berkata lain, setelah dari Bangil dan Gontor, Ajip akhirnya memasukkan anaknya di Pesantren Pabelan, Jawa Tengah. Bahkan di usia senjanya saat ini, ia juga tinggal dan menghabiskan waktu di Pebelan.

Selain dengan ESA, Ajip juga dikenal dekat dengan sastrawan dan budayawan Taufiq Ismail. Ketika sastrawan dan dramawan WS Rendra bersyahadat memeluk Islam, yang membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat itu adalah KH. Abdul Gaffar Ismail, ayah dari Taufiq Ismail. Dalam surat keterangan saksi masuk Islamnya Rendra, tertera tandatangan Ajip dan Taufiq.

Buku “Hidup Tanpa Ijazah” adalah otobiografi yang sangat inspiratif. Dari Ajip kita belajar, bahwa dengan ketekunan, rajin membaca dan belajar, Anda yang tak memiliki gelar, bisa menjadi orang besar. Ini bukan berarti gelar akademik itu tidak penting, tetapi yang lebih penting dari gelar yang melekat itu adalah kontribusinya bagi masyarakat luas, sehingga gelar yang didapat bisa melahirkan manfaat.

Rabu, 29 Juli 2020, Ajip Rosidi meninggal dunia. Ia mewariskan berbagai keteladanan, di antaranya bahwa meski tanpa ijazah, hidup harus terus terasah; dengan kerja keras dan semangat untuk terus belajar. Inna lillahi wa Inna ilaihi raaji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu Anhu. Aamiin.*

Wartawan dan penulis buku-buku sejarah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. HassanAjip Rosidimasyumipenulissastrawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Adab dan Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban [3]
Tulisan selanjutnya Parlemen Turki Mengesahkan Undang-undang yang Mengatur Media Sosial

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’

Berita
13 Oktober 2026 13:01
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?