Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Sarekat Islam dan Pembela Peluh Buruh (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 April 2014 21:28 9:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 April 2014 14:10
Bagikan
Organisasi Sarekat Islam (SI)
Bagikan

Oleh: Beggy Rizkyansyah

MENINGKATNYA pertumbuhan perekonomian di Jawa dengan cepat pada awal abad ke 20, dan terjadinya krisis di pedesaan, menciptakan kondisi baru yang mendorong urbanisasi di perkotaan. Makin meningkatnya penduduk di pedesaan yang tak memiliki tanah, mendorong petani yang menjadi buruh (tani) upahan.

Di lain sisi, perluasan ekspor hasil panen dari Jawa Tengah dan Timur, serta tumbuhnya pelabuhan,perusahaan dagang,dan  bank, membuka gerbang urbanisasi lebih besar. Khususnya di Surabaya, Semarang dan Batavia, di mana pelabuhan menjadi titik pengangkutan hasil panen dari Jawa ke seluruh dunia. Pelabuhan-pelabuhan tersambung dengan jaringan kereta api untuk mengangkut hasil gula dari Jawa tengah dan Timur untuk di ekspor. Maka tak mengherankan di kedua daerah tersebut tumbuh penduduk-penduduk yang awalnya berasal dari desa untuk mengadu nasib di perkotaan. Sebuah komunitas pekerja yang seringkali disebut kaum buruh. (Baca: “Perkotaan Masalah Sosial dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial”,  Pengarang/Editor: John Ingleson & Iskandar P Nugraha, Penerbit: Komunitas Bambu)

Buruh perkotaan tidaklah seragam. Ada buruh yang tidak terampil mengisi berbagai pekerjaan dengan bayaran rendah, tanpa jaminan pekerjaan dan kontrak kerja. Contohnya sepert sejumlah besar buruh yang bekerja di galangan kapal di Semarang. Mereka meninggalkan keluargaanya di kampung, dan hidup di pondok kecil diatas perahu, dengan Sembilan buruh lainnya, berhimpit-himpitan tiap malam atau tidur dengan beratapkan langit.   Di perkotaan, buruh-buruh lainnya tinggal di lingkungan yang buruk, pemukiman padat, diantara gang-gang yang tidak dapat masuk sinar matahari, sehingga menjadi sarang tikus. Rumah-rumah itu umumnya beratapkan rumbia dan berdinding bambu.

Selain buruh tidak terampil, ada pula buruh-buruh terampil, yang  mendapat nasib lebih baik. Mereka antara lain pegawai administrasi, juru ketik, montir, operator mesin, masinis, dan lainnya. Mereka dibayar dengan upah yang lebih baik, kadang-kadang disediakan perumahan dan sejumlah dana pensiun. Merekalah yang nantinya menjadi tulang punggung serikat  buruh di Hindia Belanda.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Para buruh pribumi mulai memiliki kesadaran untuk berserikat ketika melihat ketimpangan upah dan perlakuan dengan buruh-buruh Eropa dilingkungan mereka. Ketimpangan ini terlihat dalam keluhan yang dimuat Majalah Volharding.

“Mengapa buruh Eropa menerima gaji lebih besar daripada yang diterima koleganya yang Pribumi dan mengapa para buruh Pribumi menduduki posisi yang sangat tidak terpilih dalam menuntut hak pensiunnya? Bahkan jika mereka melakukan pekerjaan yang sama.”

Perubahan sosial yang terjadi di Jawa, perkembangan media cetak berbahasa Melayu dan daerah, serta kesadaran para lulusan dari pendidikan ala Barat yang dijalankan pemerintah colonial, turut mendorong berkembangnya serikat buruh yang mulai bermunculan di tahun 1910-an.

Membuka kembali lembaran penulisan sejarah buruh saat ini, lebih banyak mencatat peranan gerakan kiri dalam awal perjalanan pembelaan buruh dan cenderung meminggirkan peranan gerakan Islam. Padahal gerakan Islam, khususnya Sarekat Islam (SI), memainkan peranan penting  dalam pembelaan nasib buruh di Hindia Belanda (Indonesia). Bahkan begitu besarnya pengaruh Sarekat Islam, sehingga, pada awal mulanya, gerakan kiri pun menumpang dalam bahtera Sarekat Islam (SI) dalam perjalanan mereka bersama buruh.

Pengaruh Sarekat Islam begitu besar dalam hal sosial, ekonomi dan politik di Indonesia. Hal ini tidak mengherankan mengingat turut sertanya ratusan ribu petani dan buruh di Jawa yang mendukung mereka, hanya dalam beberapa tahun setelah berdirinya SI.

Pembelaan SI pada nasib buruh tidak terbatas di tanah Jawa, di mana banyak terdapat serikat buruh. Tetapi juga di Sumatera, dimana buruh (Kuli Kontrak) perkebunan di Deli, menerima perlakuan buruk dan cenderung tidak manusiawi. Melalui tokoh SI Jawa Barat, Goenawan, yang melakukan perjalanan ke Sumatera, ia menulis tentang nasib buruk kuli kontrak di Deli.

Majalah Pantjaran Warta yang dipimpin seorang tokoh SI, Abdul Muis, menamakan sistem kuli kontrak di Deli sebagai ‘Perbudakan Industrial.’

Pada awal tahun 1914, Kaoem Moeda menuliskan serangkaian kecaman tentang keadaan kerja di Deli; terutama soal kemerosotan moral. Hal ini mereka anggap sebagai akibat dari politik pengusaha perkebunan yang mendorong perjudian dan menolak dilakukannya perkawinan yang sah di perkebunan. Kecaman juga dilontarkan sehubungan denga rendahnya upah serta pegawai perkebunan yang ringan tangan memberi pukulan.  (Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil?, .P.E Korver,  Grafitipers (Jakarta).

Begitu rendahnya upah mereka, sehingga Buya Hamka menyindirnya dengan; “…pukul lima diterimanya uang, pukul tujuh musnah semuanya. “ [Merantau Ke Deli, HAMKA, Bulan Bintang, 1977 (Jakarta)]

Kongres SI di Bandung, tahun 1916 juga membahas nasib buruh di Deli. Mereka menyoroti soal kerja kontrak dan mengecam calo-calo yang bermain dalam merekrut kuli kontrak tersebut. Calo-calo itu, yang dalam prakteknya sering memberikan janji palsu dan banyak dibela oleh polisi. Buya Hamka dalam roman Merantau Ke Deli, menyingkap adanya praktek penipuan para calo ini;

“Kuli-kuli itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, ada yang bersuami isteri dan ada yang datangnya tidak beristeri, tidak bersuami, datang oleh karena ditipu oleh tengkulak-tengkulak pencari kuli, yang dinamai wervers. Mereka ditipu, dikatakan bahwa pekerjaan di tanah Deli itu amat senang, berteduh tidak kena panas, memang tidak kena panas di dalam rimba karet. Lampunya tidak lampu minyak tanah, melainkan listrik; memang listrik lampu di pondok panjang itu.”

Melihat kenyataan tersebut, SI dalam kongresnya di Bandung memutuskan untuk memohon kepada pemerintah agar mengizinkan wakil-wakil SI untuk meneliti terlaksananya kontrak tersebut secara sukarela dan melarang dikurungnya kuli kontrak ini dalam gudang penerimaan tenaga kerja, sehingga tidak bisa berhubungan dengan dunia luar.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Komisioner KPAI Desak JIS perhatikan Pelajaran Agama
Tulisan selanjutnya Sarekat Islam dan Pembela Peluh Buruh (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Berita
13 Oktober 2026 05:30
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?