Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Sultan Sulaiman Al-Qanuni dan Semut Istana

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 April 2016 06:34 6:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 April 2016 06:21
Bagikan
Sultan Sulaiman al Qanuni
Bagikan

Oleh : Zainal Mutaqin

 

SULTAN Sulaiman Al-Qanuni adalah sultan Turki Utsmani yang paling lama memerintah diantara para sultan-sultan lainnya. Ia bertahta selama 46 tahun dengan prestasi yang luar biasa. Salah satu jasanya adalah memperkuat peraturan (Qanun) Daulah Turki Utsmani (Ottoman)  dengan mengadaptasi  dari Al-Qur’an dan as Sunnah.  Karena jasanya itulah ia dijuluki Al-Qanuni.

Tayangan Film “KING SULAIMAN” yang sempat tayang di salah satu TV swasta di Indonesia -padahal presiden Turki Erdogan sudah melarangnya tayang di stasiun TV di Turki – sempat menjadi polemik  karena menggambarkan seorang  Sultan Sulaiman yang tergila-gila dengan tahta, mempunyai banyak selir , dan tenggelam hidupnya dalam kelezatan  dunia. Cukuplah sebagai bukti bahwa beliau seorang yang sholeh, alim, dan zuhud adalah delapan Mushaf Al-Qur’an yang beliau tulis dengan tangannya sendiri .

Ia dikenal beramal sholeh, banyak berpuasa, qiyamul lail, dan keadilannya terhadap masyarakat, termasuk kepada semut sekalipun. Perhatikanlah bagaimana ia mengakhiri hidupnya , karena akhir kematian sesorang adalah akumulasi dari  kehidupannya.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Pengamat Sejarah Islam: Film “King Suleiman” Timbulkan Misrepresentasi

Ketika ia mendengar salah satu Negara bagian kekuasaan Ottoman mendapatkan serangan dari raja Austria , maka ia memutuskan langsung  ekspansi ke jantung Austria Kota Wina (Ibu Kota Austria) sedangkan ia dalam keadaan sakit keras, para dokter istana menasihatinya agar ia mengurungkan niatnya untuk memimpin sendiri demi kesehatannya , namun Al-Qanuni menolaknya seraya berkata :

“إنني لأرجو الله أن أستشهد في ساحات الجهاد غازيًا في سبيله”

“Sungguh aku berharap mati Syahid di medan jihad.”

Maka tak ada pilihan lain kecuali mengikuti titah Sang Sultan, tentara memikul Al-Qanuni ke medan jihad karena ia nyaris tak bisa bergerak karena sakit keras.

Ketika pasukan Muslimin sampai ke Benteng  Szigetvar (sekarang di Hungaria) yang merupakan salah satu benteng terkuat di dunia saat itu, berkecamuklah perang antara kaum muslimin dengan pasukan Kristen. Kokohnya Benteng Szigetvar nyaris membuat tentara islam putus asa setelah berperang selama 5 bulan. Dalam suasana putus asa para tentara itu terdengar lantunan do’a Sultan Sulaiman Al-Qanuni agar Allah Subhanahu Wata’ala memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.

Kemudian para tentara Islam mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk menguasai benteng itu, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala dan semangat jihad yang tulus pasukan Islam akhirnya mampu memenagkan pertempuran dan menguasai Benteng Szigetvar yang legendaris itu.

Ketika Sultan Sulaiman Al-Qanuni mendengar kabar bahwa benteng sudah ditaklukan dan bendera Islam sudah berkibar di atasnya beliau berkata ;

، الآن طاب الموت ”  (Sekaranglah saatnya kematian yang menyenagkan itu datang). (100 Min udzamil Islam episode 8)

Kemudian suara itu hilang pelan-pelan dan sang Sultan “The Magnificent” Sulaiman meninggal ditempat dan susasan yang ia cintai,yaitu  Jihad Fi Sabilillah!

Ketika berita kematian Sultan Sulaiman sampai kepada Muslimin, maka seluruh penjuru Negara Islam  dihujani tangisan kesedihan, bukan karena tidak menerima ketentuan Allah Subhanahu Wata’ala, tapi karena cinta itu sudah memenuhi  jiwa mereka selama 46 tahun.

Suasana berbeda terjadi di Barat, mereka bersuka ria atas kematian  Sultan yang mereka sendiri memberikan julukan “The Magnificent”  atau sang fenomenal  kepadanya, lonceng-lonceng dibunyikan, dan mereka jadikan hari itu hari bersejarah buat mereka.

Di tengah-tengah pemakaman Sultan sulaiman, terdegar wasiat bahwa sebelum kematiannya beliau meminta dikuburkan dengan sebuah kotak yang terkunci miliknya, keluarga dan orang terdekatnya tidak berani membuka apa isi kotak itu gerangan.

Para ulama khawatir jika yang ada dalam kotak itu adalah intan berlian yang haram dikubur bersama jasad mayat, maka akhirlah sepakatlah para ulama untuk membuka kotak itu.

Setelah dibuka, ternyata yang ada dalam kotak itu adalah kumpulan kertas-kertas usang yang merupakan fatwa-fatwa para mufti dan ulama, karena ia dikenal tidak berani membuat suatu pelaturan kecuali meminta fatwa dari para mufti daulah dan para ulama.

Salah satu fatwa yang ada dalam kotak tersebut adalah permintaan Sultan Sulaiman kepada Mufti Daulah Utsmaniyah saat itu  Abi Sa’ud Afandi untuk menjelaskan tentang hukum meletakan kapur di ranting-ranting pohon di istana kekhalifahan agar semut tidak masuk, menyebar dan mengotori istana. Kapur-kapur ini bisa jadi membunuh semut-semut itu.

Maka Abi Sa’ud Afandi saat itu memfatwakan bolehnya pemakaian kapur itu agar semut-semut tidak menyebar ke Istana.

Setelah membaca lembaran fatwa itu Mufti Abi Sa’ud Afandi menangis tersedu-sedu seraya berkata:

“أنقذت نفسك يا سليمان،أنقذت نفسك يا سليمان، أي سماء تظلنا وأي أرض تقلنا إن كنا مخطئين في فتيانا”.

“Engkau telah menyelamatkan dirimu Wahai Sulaiman, Engkau telah menyelamatkan dirimu Wahai Sulaiman, langit yang mana yang akan menaungiku? Dan bumi yang mana yang menerima kami semua  jika kami  salah dalam fatwa –fatwa kami?”

Itulah  sosok sultan yang sholeh. Maka  bagaimana bisa orang-orang mengatakan dia dituduh tenggelam dalam eforia harta dan wanita?*

Penulis adalah anggota MIUMI Batam. Bahan diambil dari 100 Min Udzamail Islam, eps 8

Baca juga: Sulaiman al-Qanuni Versi Sejahrawan Muslim dan Orientalis

 

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:King SulaimanorientalisSulaiman Al-QanuniSultan SulaimanThe MagnificentTurkiUtsmani
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya FIS Jabar Dorong MUI Tuntaskan Kasus Penodaan Agama Bupati Purwakarta
Tulisan selanjutnya Bila Banjir Tiba

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Berita
12 Oktober 2026 23:35
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?