Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Meraih Derajat Tinggi dengan Akal Pikiran (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Januari 2016 12:37 12:37 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Januari 2016 12:37
Bagikan
Bagikan

WAHAB bin Munabbih’ –seorang tabiin– mengatakan, “Saya mendapati kandungan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berisi: setan tidak pernah menghadapi musuh terberat, selain daripada orang beriman yang berakal. Setan bisa saja menggiring seratus orang bodoh dan mengendalikan mereka hingga mereka benar-benar tunduk patuh mengikuti kehendaknya. Namun, setan akan merasa kesulitan dan berjuang keras menghadapi orang beriman yang berakal. Dia sangat kesulitan menaklukkan hamba Ilahi yang seperti ini meski hanya sedikit saja.”

Wahab melanjutkan, “Melenyapkan gunung setapak demi setapak jauh lebih mudah bagi setan ketimbang menghadapi orang beriman yang berakal. Dan, jika setan tidak mampu menaklukkannya, maka dia akan beralih kepada orang bodoh. Terhadap orang ini, setan akan berupaya keras untuk menawannya sehingga dia berhasil memperbudaknya. Dia mampu menjerumuskannya menuju kebinasaan dan kehinaan dunia, yaitu berupa dicambuk, dirajam, dipotong, disalib, dan dipermalukan di khalayak ramai. Sementara di akhirat kelak, orang ini akan menerima kehinaan, api neraka, dan bencana besar.”

Nilai kebaikan antara dua hamba Ilahi bisa saja sama, tetapi mengenai keutamaan akal pikiran di antara keduanya bagaikan antara timur dan barat. Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang paling baik selain dengan akal.

Mu’adz bin Jabal –termasuk seorang sahabat pilihan dan ahli fikih– mengatakan, “Seandainya orang yang berakal mempunyai dosa berlipat seperti bilangan pasir di kala pagi dan sore hari, maka dia dapat dengan cepat menyelamatkan dan membebaskan dirinya dari semua dosanya itu. Seandainya orang yang bodoh mempunyai kebaikan dan amal saleh sejumlah bilangan pasir, namun bisa saja nanti tak tersisa sedikit pun untuknya.”

Kemudian ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Mu’adz menjawab, “Jika orang yang berakal bersalah dan melakukan dosa, dia akan menghapusnya dengan segera bertobat dan meminta ampun kepada Allah. Sementara, orang yang bodoh, dia laksana pekerja yang membuat bangunan lalu merobohkannya kembali, karena dengan kebodohannya dia merusak amal salehnya.”

Al-Hasan mengungkapkan, “Agama seseorang tidak akan sempurna hingga akalnya sempurna. Tidaklah Allah menganugerahkan akal kepada seseorang melainkan pada suatu saat nanti Dia akan menyelamatkannya berkat akal yang dianugerahkan-Nya itu.”

Seorang ulama menuturkan, “Seseorang yang tidak memanfaatkan akal pikirannya secara optimal, maka kebinasaan dan kehancuran akan senantiasa menyertainya.”

Yusuf bin Asbath mengatakan, “Akal pikiran adalah lentera bagi yang terselimuti, perhiasan bagi yang terlihat, komandan bagi tubuh, dan pemantau bagi urusan manusia. Kehidupan tak akan berarti tanpanya, dan segala sesuatu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya kecuali dengan menyertainya.”

Seseorang pernah bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, “Setelah Islam, perkara apakah yang paling utama yang dianugerahkan kepada seseorang?” Abdullah lalu menjawab, “Akal pikiran.”

Orang itu terus-menerus bertanya padanya, “Kalau itu tidak ada?”

“Budi pekerti yang terpuji”

“Kalau itu tidak ada?”

“Saudara yang saleh, yang selalu menasihatinya.”

“Kalau itu tidak ada?”

“Berdiam yang lama.”

“Kalau itu juga tidak ada?”

“Kematian yang segera menjemputnya.”*/Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, dari bukunya Bercinta dengan Allah.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akal pikiran
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Meraih Derajat Tinggi dengan Akal Pikiran (1)
Tulisan selanjutnya Paus Fransiskus: Hubungan Umat Yahudi dan Kristen Ikatan yang Tak Terputuskan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?