Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Meraih Derajat Tinggi dengan Akal Pikiran (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Januari 2016 12:40 12:40 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Januari 2016 12:31
Bagikan
Bagikan

SESEORANG yang menggunakan akal pikirannya dengan baik, maka dia akan dapat mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbagai hal yang terkait dengan nama serta sifat-sifat-Nya yang agung. Melalui akal, seseorang dapat beriman pada sejumlah kitab, rasul, dan malaikat-Nya, serta hari akhir.

Selain itu, melalui akal, seseorang akan dapat mengetahui tanda-tanda keagungan dan keesaan Allah, serta mukjizat para rasul-Nya. Dan berkat akal pula, seseorang dapat menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Akal pikiran inilah yang selalu menilai segala risiko buruk sehingga ia terus mewaspadainya; yang berupaya menjalankan segala hal yang sesuai dengan kemaslahatan, yang menentang keinginan hawa nafsu sehingga mampu mengalahkan bala tentaranya dengan penuh kehinaan. Selain itu, akal pula yang membantu kesabaran hingga berhasil mengalahkan hawa nafsu, setelah sebelumnya ia nyaris terpukul dengan anak panah hawa nafsu.

Akal pikiran senantiasa menganjurkan untuk meraih segala kemuliaan, menghindari segala kehinaan, menyingkap segala tabir makna kebaikan yang tersembunyi, dan mengukuhkan ketekadan sehingga ia berdiri tegak di bawah kendalinya. Akal pula yang menopang ketetapan hati hingga ia berhasil meraih taufik dari Allah, memperoleh kebaikan, dan menyingkirkan kejelekan.

Apabila akal dan bala tentaranya turun dengan kekuatan penuh, maka ia akan menawan bala tentara hawa nafsu dan memasukkannya dalam jeruji penjara. Seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Dia akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Bila akal dimanfaatkan secara baik, maka ia akan membawa pemiliknya beranjak menuju derajat para raja yang mampu mengendalikan hambanya, dalam hal ini hawa nafsunya.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Hawa nafsu laksana pohon. Akarnya adalah pikiran segala risiko buruk yang bisa terjadi. Batangnya adalah kesabaran. Rantingnya adalah ilmu pengetahuan. Daunnya adalah budi pekerti yang luhur. Buahnya adalah hikmah. Seharusnya, bermula dan berakhirnya hawa nafsu adalah oleh akal pikiran. Jika memang seperti ini, maka sangat tidak pantas kalau musuh akal berhasil menaklukkan dan menguasainya, sehingga musuhnya itu menyingkirkannya dari daerah kekuasaannya; menurunkan derajatnya yang mulia dan melengserkan kedudukannya.

Seandainya itu terjadi, maka akal akan menjadi tawanan setelah sebelumnya sebagai pemimpin. Menjadi terdakwa setelah sebelumnya sebagai hakim, dan menjadi pengikut setelah sebelumnya sebagai yang diikuti.

Seseorang yang bersabar berdasarkan kebijakan akal, niscaya dia akan meraih kenikmatan dan kesenangan. Sebaliknya, seseorang yang berpaling dari kebijakannya, niscaya dia akan terjerumus menuju jurang kebinasaan dan kehinaan.

`Ali bin Abu Thalib mengungkapkan, “Banyak sekali kaum yang masuk ke dalam surga, padahal mereka bukan termasuk golongan yang sering salat, puasa, haji, ataupun umrah. Namun, mereka itu senantiasa menggunakan akal pikiran mereka guna memikirkan pesan dan nasihat Allah sehingga hati mereka bergetar, jiwa mereka merasa tenang, dan anggota badan mereka tunduk mematuhi. Dengan cara ini, mereka menjadi kelompok yang mulia. Bahkan, mereka memperoleh derajat tertinggi di tengah-tengah manusia saat di dunia dan di sisi Allah saat di akhirat kelak.”

‘Umar bin Khaththab mengatakan, “Orang yang berakal bukanlah orang yang hanya mengetahui yang baik dan yang buruk, tetapi orang yang mengetahui yang terbaik di antara dua hal yang buruk.”

‘Aisvah mengatakan, “Sungguh beruntung orang yang dianugerahi akal pikiran oleh Allah.”

Abdullah bin `Abbas mengatakan, “Ketika Raja Kisra (Raja Persia) dikaruniai anak, dia menghadirkan seorang ulama dan meletakkan sang bayi di hadapan mereka. Kemudian, Sang Raja bertanya, ‘Apakah perangkat paling berharga yang dimiliki bayi ini?’ Ulama itu menjawab, ‘Akal yang dianugerahkan sejak dia lahir.’

‘Kalau itu tidak ada?’ tanya Sang Raja melanjutkan.

‘Budi pekerti luhur saat dia hidup di dunia.’

‘Kalau itu tidak ada?’

`Malapetakalah yang akan menghantamnya,’ jawab ulama itu dengan tegas.”

Sejumlah ulama pernah mengungkapkan, “Ketika Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, Malaikat Jibril pun menghampirinya dengan membawa tiga perkara: agama, budi pekerti, dan akal pikiran. Malaikat Jibril kemudian berkata, `Allah swt menyuruhmu untuk memilih di antara ketiga perkara ini.’

Nabi Adam lantas berkata, ‘Jibril, saya tidak melihat sesuatu yang lebih baik daripada semua itu selain yang ada di surga.’ Lalu dia menjulurkan tangannya pada akal dan merengkuhnya ke dalam dirinya.

Malaikat Jibril kemudian berkata kepada agama dan budi pekerti, ‘Naiklah kamu berdua ke langit.’ Keduanya pun berkata, ‘Kami diperintahkan untuk senantiasa bersama akal kapan pun dan di mana pun ia berada.’ Akhirnya, ketiga perkara ini dianugerahkan kepada Adam.”

Ketiga perkara ini merupakan anugerah terbesar dan teragung yang telah Allah berikan kepada sejumlah hamba-Nya. Di samping itu, Allah juga menciptakan tiga perkara lain yang akan menjadi musuh bebuyutannya: hawa nafsu, setan, dan jiwa buruk. Peperangan dan perseteruan di antara kedua kubu ini senantiasa bergolak. Allah berfirman,

“Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu merasa tenteram karenanya. Kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ali `Imran: 126).*/Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, dari bukunya Bercinta dengan Allah. [Tulisan selanjutnya] 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akal pikiran
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Oxfam: Harta 62 Orang Terkaya Sama Dengan Kekayaan Setengah Orang Termiskin Sedunia
Tulisan selanjutnya Meraih Derajat Tinggi dengan Akal Pikiran (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?