HANYA amanah dan silaturahim yang akan “berdiri” di atas kedua sisi shirath, bukan amalan-amalan lainnya. Hal ini disebabkan karena keagungan kedua amal tersebut di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Hudzaifah r.a. meriwayatkan, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Lalu, mereka mendatangi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, lantas ia pun berdiri. Maka diizinkanlah untuknya, dan diutuslah amanah serta silaturahim, lalu keduanya berdiri di kedua tepi shirath, kanan dan kiri. Maka yang pertama di antara kalian melewatinya seperti kilat.”
Dalam riwayat Al-Jubair bin Muth’im r.a. ditegaskan lagi. Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim.”
Al-Mulla Ali Qari r.a. berkata, “At-Turabasyti r.a. berkata, “Yang beliau maksudkan kedua tepi sirath ialah kedua sisi shirath yang kanan dan kiri.”
Keagungan serta kemuliaan amanah dan silaturahim mengharuskan hamba-hamba-Nya memperhatikan hak amanah dan silaturahim itu. Di sana keduanya akan tampil di hadapan orang yang amanah dan orang yang khianat serta orang yang menyambung silaturahim dan orang yang memutuskannya.
Amanah dan silaturahim pun akan membela orang yang benar-benar telah menjaga keduanya. Selain itu, keduanya juga menjadi saksi atas orang yang meninggalkan dan menyia-nyiakan keduanya agar tampak perbedaan antara kedua golongan tersebut.
Ath-Thibi r.a. berkata, “Diutusnya amanah dan silaturahim disebabkan kemuliaan dan keagungan keduanya. Sehingga, amanah dan silaturahim itu menggambarkan dua sosok makhluk berdasarkan sifat yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Amanah dan silaturahim itu akan berdiri meminta hak dan pertanggungjawaban pada setiap orang yang akan melewati shirath. Siapa saja yang menunaikan hak amanah dan silaturahim, tentulah keduanya membantu orang itu untuk melewati shirath. Jika tidak, tentulah amanah dan silaturahim akan meninggalkannya.
Diriwayatkan secara mauquf (jalur yang periwayatnya hanya sampai sahabat) bahwa Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Berperang di jalan Allah dapat menghapus seluruh dosa, kecuali amanah.” Ia berkata lagi, “Didatangkanlah lagi seorang hamba pada hari kiamat, meskipun ia telah berperang di jalan Allah, lantas dikatakan (kepadanya), ‘Tunaikanlah amanahmu!’ Hamba itu berkata, ‘Ya Rabbku, bagaimana saya dapat menunaikannya, sementara dunia telah berlalu?’
Maka dikatakan, ‘Bawalah ia ke neraka Hawiyah.’ Lalu, hamba itu dibawa pergi ke neraka Hawiyah. Lantas amanah itu tampil di hadapannya sebagaimana bentuknya pada saat amanah itu diserahkan kepadanya. Kemudian hamba itu melihatnya dan mengenalinya, lalu ia mengejar dan mencari amanah itu hingga ia pun mendapatinya.
Kemudian ia memikul amanah itu di atas kedua pundaknya sampai ia yakin akan keluar (dari neraka), tetapi tergelincirlah amanah itu dari pundaknya sehingga ia terus mencari amanah itu selama-lamanya.”
Selanjutnya Ibnu Mas’ud r.a. berkata:
“Shalat adalah amanah, wudhu adalah amanah, timbangan adalah amanah, takaran adalah amanah, dan banyak lagi. Sedang amanah yang paling berat dari semua itu adalah barang-barang titipan.”
Zadzan berkata, “Lalu, aku mendatangi Barra’ bin Azib dan kukatakan, ‘Tidakkah engkau perhatikan apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud? Apakah memang seperti itu?’ Barra’ berkata, ‘Ya benar. Tidakkah engkau mendengar Allah berfirman:
“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58 ).
Sungguh memprihatinkan, kaum musliin banyak melalaikan amanah dalam berbagaai urusan, terutama dalam hal ibadahnya serta dalam menjaga anak-anak dan keluarganya. Selain itu, dalam hal pekerjaan dan tugas-tugasnya, mereka meninggalkan kejujuran dan tidak menjaga komitmen terhadap tugas dan pekerjaan itu.
Mereka juga meninggalkan ketaatan terhadap para pimpinannya, padahal, semua itu termasuk amanah.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Di Atas Titian Jahannam, penulis: Dr. Muhammad An-Nuaim)