Oleh: Dr. Adian Husaini
Hidayatullah.com | PADA Jumat, 10 Juli 2020, Pengadilan Tinggi Turki memutuskan untuk mengembalikan status Hagia Sophia (Ayasopfya) sebagai masjid. Keputusan itu sekaligus membatalkan Dekrit Pemerintah Kemal Attaturk tahun 1934 yang mengubah status Hagia Sophia dari masjid menjadi museum. Dengan itu, maka penggunaan Hagia Sophia dalam bentuk apa pun selain masjid, secara hukum tidak sah.
Keputusan Pengadilan Turki itu sesuai dengan amanah Sultan Muhammad al-Fatih yang pada tahun 1453 merebut Kosntantinopel dan mengubah namanya menjadi Istanbul. Hagia Sophia pun diubah menjadi masjid.
Keputusan Pengadilan Tinggi Turki itu disambut antusias dan rasa syukur di berbagai kalangan umat Islam Indonesia. Sebagian kemudian mengangkat harapan akan kembalinya kejayaan Islam sebagai pemimpin dunia, seperti di masa Muhammad al-Fatih. Di media sosial juga terbaca berbagai tulisan tentang kejayaan Islam di masa khilafah, sekaligus harapan akan kembalinya khilafah, sehingga umat Islam akan berjaya kembali.
Tentu saja, kembalinya Hagia Sophia sebagai masjid merupakan satu momentum penting dalam lintasan sejarah Islam. Peristiwa itu mengingatkan kita pada kehebatan seorang Sultan Muhammad al-Fatih atau Sultan Muhammad II, yang memimpin Daulah Turki Utsmani pada usia belia.
Perlu dicermati bahwa yang dipuji oleh Rasulullah ﷺ adalah “sosok pemimpinnya”. Dalam lintasan sejarah, khilafah Islamiyah pernah mengalami kejayaan – seperti di masa al-Khulafa’ al-Rasyidun dan banyak khalifah lainnya – dan juga pernah mengalami keterpurukan bahkan kehancuran, seperti di masa awal Perang Salib, kejatuhan Baghdad oleh Mongol, dan penjarahan Palestina oleh Zionis Yahudi.
Faktor-faktor kejayaan dan kejatuhan khilafah dalam sejarah Islam perlu dianalisis dengan cermat agar kita tidak salah strategi dan langkah dalam mewujudkan kebangkitan umat Islam. Sebagai lembaga politik Islam, khilafah memiliki sistem yang unik, yang berbeda dengan sistem politik lainnya. Para ulama Islam telah banyak membahas hal ini dalam kitab-kitab mereka. Intinya, khilafah mengakui kedaulatan Allah SWT dalam menentukan nilai dan sistem kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara.
Sebagai satu sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik – kekuasaan terpusat di satu tangan (khalifah) – maka kualitas seorang khalifah sangat menentukan. Sistem ini mirip dengan kerajaan dan kekaisaran. Dalam sistem semacam ini, negara akan cepat baik jika kepala negaranya baik. Sebaliknya, negara akan cepat hancur jika kepala negaranya buruk kualitasnya.
Intinya: Pendididikan
Karena itu, dalam kaitan dengan kejayaan Turki Utsmani di masa kepemimpinan Muhammad al-Fatih, maka lihatlah kualitas pemimpin atau khalifahnya. Dan itu adalah Muhammad al-Fatih. Tapi, jangan hanya berhenti pada kehebatan seorang al-Fatih ketika memimpin penaklukan Konstantinopel.
Lebih penting lagi, lihatlah proses pendidikannya. Bagaimana Muhammad al-Fatih menjalani proses pendidikan yang hebat sehingga menjadi pribadi dan pemimpin hebat. Muhammad al-Fatih tidak begitu saja tiba-tiba turun dari langit, laiknya seorang ‘Superman’ menjelma menjadi manusia hebat karena mendapat “jimat” tertentu!
Dalam buku “Pendidikan Islam, Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045” (Depok: YPI at-Taqwa, 2018), saya menulis bab khusus tentang Pendidikan Muhammad al-Fatih.
Kunci sukses pendidikan, menurut Ibrahim ibn Isma’il al-Zarnuji, dalam Kitabnya, Ta’lim al-Muta’allim, terletak pada kesungguhan tiga pihak: yaitu guru, murid, dan orang tua. Hal ini terlihat dalam proses pendidikan Muhammad al-Fatih.
Ayah Muhammad al-Fatih (Sultan Murad II) sangat peduli memilih guru yang hebat untuk anaknya. Mereka adalah Syeikh Ahmad ibn Ismail al-Kurani dan Syeikh Aaq Syamsuddin. Dialah ulama besar yang mendidik Muhammad al-Fatih dengan adab dan ilmu yang tinggi. Syeikh Aaq Syamsuddin menguasai berbagai bidang ilmu, baik ulumuddin maupun ilmu kedokteran.
Sang guru, disamping memberikan ilmu kepada muridnya, juga memberikan motivasi dan mendoakan keberhasilan muridnya dengan sungguh-sungguh, khususnya saat proses penaklukan Konstantinopel. Yang sangat ditekankan adalah “mujahadah ‘alan nafsi”, agar Muhammad al-Fatih memiliki jiwa yang bersih, seperti zuhud, ikhlas, dan jauh dari sikap sombong.
Jika ditelaah, pendidikan yang diterima oleh Muhammad al-Fatih memang bertumpu kepada proses penanaman adab dan kesungguhan dalam meraih ilmu. Adab terhadap ilmu dijalankan dengan sungguh-sungguh, diaplikasikan dalam bentuk penanaman nilai-nilai kebaikan, khususnya pemahaman terhadap Allah, diri, hakikat dunia dan akhirat.
Muhammad al-Fatih sukses menjalani mujahadah ala al-nafsi, sehingga jihad secara fisik yang dilakukannya menampakkan keagungannya. Proses pendidikan yang dijalani oleh Muhammad al-Fatih itu sama dengan proses yang dijalani oleh para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, dan juga pernah dijalani oleh Shalahuddin al-Ayyubi dan generasi sezamannya.
Jadi, menerapkan Pendidikan yang Benar dan Tepat! Inilah saat ini agenda kita yang terpenting. Tujuannya, agar kita bisa melahirkan generasi gemilang yang nantinya akan mengisi masjid kita, sekolah kita, kampus kita, rumah sakit kita, partai politik kita, dan institusi-institusi kita lainnya.
Jika pendidikan kita gagal melahirkan generasi hebat seperti generasi Muhammad al-Fatih, maka institusi-institusi peradaban Islam – termasuk institusi negara kita – akan berujung pada keterpurukan. Mungkin namanya saja yang masih menggunakan ”Islam”, tetapi isinya kosong dari nilai-nilai Islam!
Semoga kita sukses menerapkan pendidikan yang benar, sehingga kita menang (QS 91:9-10)! Aamiin. (Depok, 14 juli 2020).*
Pimpinan Pondok Pesantren At-Taqwa- Depok