Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Setelah Hahia Sophia Kembali jadi Masjid: Apa Agenda Kita?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Juli 2020 12:59 12:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Juli 2020 10:10
Bagikan
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

www.adianhusaini.id

 

Hidayatullah.com | PADA Jumat, 10 Juli 2020, Pengadilan Tinggi Turki memutuskan untuk mengembalikan status Hagia Sophia (Ayasopfya) sebagai masjid. Keputusan itu sekaligus membatalkan Dekrit Pemerintah Kemal Attaturk tahun 1934 yang mengubah status Hagia Sophia dari masjid menjadi museum.  Dengan itu, maka penggunaan Hagia Sophia dalam bentuk apa pun selain masjid, secara hukum tidak sah.

Keputusan Pengadilan Turki itu sesuai dengan amanah Sultan Muhammad al-Fatih yang pada tahun 1453 merebut Kosntantinopel dan mengubah namanya menjadi Istanbul. Hagia Sophia pun diubah menjadi masjid.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Keputusan Pengadilan Tinggi Turki itu disambut antusias dan rasa syukur di berbagai kalangan umat Islam Indonesia. Sebagian kemudian mengangkat harapan akan kembalinya kejayaan Islam sebagai pemimpin dunia, seperti di masa Muhammad al-Fatih. Di media sosial juga terbaca berbagai tulisan tentang kejayaan Islam di masa khilafah, sekaligus harapan akan kembalinya khilafah, sehingga umat Islam akan berjaya kembali.

Tentu saja, kembalinya Hagia Sophia sebagai masjid merupakan satu momentum penting dalam lintasan sejarah Islam.  Peristiwa itu mengingatkan kita pada kehebatan seorang Sultan Muhammad al-Fatih atau Sultan Muhammad II, yang memimpin Daulah Turki Utsmani pada usia belia.

Perlu dicermati bahwa yang dipuji oleh Rasulullah ﷺ adalah “sosok pemimpinnya”. Dalam lintasan sejarah, khilafah Islamiyah pernah mengalami kejayaan – seperti di masa al-Khulafa’ al-Rasyidun dan banyak khalifah lainnya – dan juga pernah mengalami keterpurukan bahkan kehancuran, seperti di masa awal Perang Salib, kejatuhan Baghdad oleh Mongol, dan penjarahan Palestina oleh Zionis Yahudi.

Faktor-faktor kejayaan dan kejatuhan khilafah dalam sejarah Islam perlu dianalisis dengan cermat agar kita tidak salah strategi dan langkah dalam mewujudkan kebangkitan umat Islam. Sebagai lembaga politik Islam, khilafah memiliki sistem yang unik, yang berbeda dengan sistem politik lainnya. Para ulama Islam telah banyak membahas hal ini dalam kitab-kitab mereka. Intinya, khilafah mengakui kedaulatan Allah SWT dalam menentukan nilai dan sistem kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara.

Sebagai satu sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik – kekuasaan terpusat di satu tangan (khalifah) – maka kualitas seorang khalifah sangat menentukan. Sistem ini mirip dengan kerajaan dan kekaisaran. Dalam sistem semacam ini, negara akan cepat baik jika kepala negaranya baik. Sebaliknya, negara akan cepat hancur jika kepala negaranya buruk kualitasnya.

Intinya: Pendididikan

Karena itu, dalam kaitan dengan kejayaan Turki Utsmani di masa kepemimpinan Muhammad al-Fatih,  maka lihatlah kualitas pemimpin atau khalifahnya. Dan itu adalah Muhammad al-Fatih.  Tapi, jangan hanya berhenti pada kehebatan seorang al-Fatih ketika memimpin penaklukan Konstantinopel.

Lebih penting lagi, lihatlah proses pendidikannya. Bagaimana Muhammad al-Fatih menjalani proses pendidikan yang hebat sehingga menjadi pribadi dan pemimpin hebat. Muhammad al-Fatih tidak begitu saja tiba-tiba turun dari langit, laiknya seorang ‘Superman’ menjelma menjadi manusia hebat karena mendapat “jimat” tertentu!

Dalam buku “Pendidikan Islam, Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045” (Depok: YPI at-Taqwa, 2018), saya menulis bab khusus tentang Pendidikan Muhammad al-Fatih.

Kunci sukses pendidikan, menurut Ibrahim ibn Isma’il al-Zarnuji, dalam Kitabnya, Ta’lim al-Muta’allim,  terletak pada kesungguhan tiga pihak: yaitu guru, murid, dan orang tua.  Hal ini terlihat dalam proses pendidikan Muhammad al-Fatih.

Ayah Muhammad al-Fatih (Sultan Murad II) sangat peduli memilih guru yang hebat untuk anaknya.  Mereka adalah Syeikh Ahmad ibn Ismail al-Kurani dan Syeikh Aaq Syamsuddin. Dialah ulama besar yang mendidik Muhammad al-Fatih dengan adab dan ilmu yang tinggi. Syeikh Aaq Syamsuddin menguasai berbagai bidang ilmu, baik ulumuddin maupun ilmu kedokteran.

Sang guru, disamping memberikan ilmu kepada muridnya, juga memberikan motivasi dan mendoakan keberhasilan muridnya dengan sungguh-sungguh, khususnya saat proses penaklukan Konstantinopel. Yang sangat ditekankan adalah “mujahadah ‘alan nafsi”, agar Muhammad al-Fatih memiliki jiwa yang bersih, seperti zuhud, ikhlas, dan jauh dari sikap sombong.

Jika ditelaah, pendidikan yang diterima oleh Muhammad al-Fatih memang bertumpu kepada proses penanaman adab dan kesungguhan dalam meraih ilmu. Adab terhadap ilmu dijalankan dengan sungguh-sungguh, diaplikasikan dalam bentuk penanaman nilai-nilai kebaikan, khususnya pemahaman terhadap Allah, diri, hakikat dunia dan akhirat.

Muhammad al-Fatih sukses menjalani mujahadah ala al-nafsi, sehingga jihad secara fisik yang dilakukannya menampakkan keagungannya. Proses pendidikan yang dijalani oleh Muhammad al-Fatih itu sama dengan proses yang dijalani oleh para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, dan juga pernah dijalani oleh Shalahuddin al-Ayyubi dan generasi sezamannya.

Jadi, menerapkan Pendidikan yang Benar dan Tepat! Inilah saat ini agenda kita yang terpenting. Tujuannya, agar kita bisa melahirkan generasi gemilang yang nantinya akan mengisi masjid  kita,  sekolah kita, kampus kita, rumah sakit kita, partai politik kita, dan institusi-institusi kita lainnya.

Jika pendidikan kita gagal melahirkan generasi hebat seperti generasi Muhammad al-Fatih, maka institusi-institusi peradaban Islam – termasuk institusi negara kita – akan berujung pada keterpurukan. Mungkin namanya saja yang masih menggunakan ”Islam”, tetapi isinya kosong dari nilai-nilai Islam!

Semoga kita sukses menerapkan pendidikan yang benar, sehingga kita menang (QS 91:9-10)!  Aamiin. (Depok, 14 juli 2020).*

Pimpinan Pondok Pesantren At-Taqwa- Depok

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hagia SophiaislamKebangkitanMuhammad al FatihPendidikanpendidikan islamTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Banyak Bantuan untuk Korban Banjir, Lalu Lintas ke Masamba Padat
Tulisan selanjutnya Lagi, Ormas-ormas Demo DPR Desak Cabut RUU HIP dari Prolegnas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?