Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Kita Perlu Menulis Ulang Sejarah Kejayaan Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Februari 2022 21:31 9:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2022 08:00
Bagikan
Bagikan

Di masa Majapahit, masyarakat Hindu Majapahit gagal mempertahankan eksistensinya, gara-gara lebih banyak terlibat konflik internal bikinan elite Majapahit ketika itu

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | SEJARAH kejayaan Indonesia perlu dirumuskan ulang. Khususnya, bagi umat Islam. Sebab, selama ini, anak-anak sekolah sudah diberikan informasi tentang sejarah Kejayaan Majapahit. Padahal, menurut sejarawan Dr. Muhammad Isa Anshary, sejarah kebesaran Majapahit ditulis bukan berdasarkan data sejarah yang kuat.

Di kalangan umat Hindu, ada diskusi menarik tentang sejarah kebesaran Majapahit. Majalah Media Hindu tercatat sangat aktif dalam menyuarakan kebesaran Majapahit dan mengajak bangsa Indonesia untuk kembali ke Hindu dan meninggalkan agama mayoritas saat ini (Islam).

MEDIA HINDU (edisi Oktober, 2011) menulis dalam laporan utamanya: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju.”

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Tetapi, ajakan untuk kembali menjadi Hindu, juga mendapatkan kritik dari Majalah Hindu lalinnya, yaitu Majalah RADITYA. Pada edisi September 2008, majalah ini menurunkan laporan utama bertajuk: “Majapahitisme atau keterpesonaan terhadap Hindu di zaman Majapahit tidaklah ideal.”

Menurut RADITYA, di masa Majapahit, masyarakat Hindu Majapahit gagal mempertahankan eksistensinya, gara-gara lebih banyak terlibat konflik internal bikinan elite Majapahit ketika itu. Siwa-Budha kala itu pun tidak bisa berperan banyak dalam mewujudkan masyarakat yang rukun, tat twam asi dan sejenisnya.

Majapahit selain berhasil menundukkan banyak daerah bawahan, juga sibuk perang saudara. Agama di dalam   masyarakat seperti ini lebih menjadi bersifat gaib, eksklusif, hanya untuk berhubungan dengan dewa-dewa yang abstrak.

Agama Siwa Budha meskipun sudah menjadi agama kerajaan tidak bisa diamalkan oleh elite di sana yang lebih dikuasai motif politik, motif perebutan kekuasaan. Agama gagal menginspirasi kehidupan sehari-hari tentang hal-hal lebih praktis menyangkut pola interaksi antar individu.

“Jika Majapahit meninggalkan hal-hal pahit bagi penganut Hindu ketika itu, lantas apa enaknya mengenang hal-hal pahit?” demikian tulis Majalah RADITYA.

Jadi, menurut majalah RADITYA, impian untuk kembali ke Majapahit justru merugikan kaum Hindu sendiri?

***

Itulah contoh kontroversi yang muncul seputar sejarah kebesaran Kerajaan Majaphit. Secara umum bisa dikatakan bahwa Majapahit memang satu kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara ini. Tetapi, kerajaan ini kemudian runtuh digantikan Kerajaan Islam Demak yang dipimpih oleh salah satu keturunan Raja Majapahit,  yaitu Raden Patah.

Selama ini, diberikan gambaran sejarah, bahwa Majapahit runtuh karena diserang Kerajaan Demak. Bahkan, sebagian kalangan menulis, bahwa Majapahit runtuh karena dikhianati oleh Wali Songo dan muridnya, Raden Patah. Cerita semacam ini tentu ditujukan untuk menanamkan kebencian kepada Wali Songo dan juga Islam.

Sebagai contoh, dalam buku Pendidikan Sejarah di Indonesia, untuk tingkat SMA, dikatakan: “Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai kerajaan nasional setelah Kerajaan Sriwijaya. Selama hidupnya, Patih Gajah Mada menjalankan politik persatuan Nusantara.  Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan Peristiwa Sunda yang terjadi tahun 1351 M.”  (hlm. 48).

Tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit, ditulis dalam buku Pelajaran Sejarah di sekolah itu: “Suatu tradisi lisan yang terkenal di Pulau Jawa menyatakan bahwa Kerajaan Majapahit  hancur akibat serangan dari pasukan-pasukan Islam di bawah pimpinan Raden Patah (Demak).”  (hlm. 49).

Penulisan sejarah semacam ini akan terus melestarikan semangat permusuhan pada generasi berikutnya, sehingga perlu ditinjau kembali. Tidak dapat dipungkiri, bahwa selama ini ada upaya untuk mengecilkan peranan Islam dalam penulisan sejarah Indonesia. Hal itu terutama dilakukan oleh pihak kolonial, sebab mereka memandang Islam sebagai ancaman bagi pemerintah jajahan.

Dalam disertasinya berjudul “Politik Islam Hindia Belanda”, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto — mengutip pengakuan Alb C. Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum – yang menyatakan: “Bagaimanapun juga Islam harus dihadapi, karena semua yang menguntungkan Islam di Kepulauan ini akan merugikan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Dalam hal ini diakui bahwa kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses penjajahan dan zending Kristen merupakan rekan sepersekutuan bagi pemerintah kolonial, sehingga pemerintah akan membantu menghadapi setiap rintangan yang menghambat perluasan zending.”

Mohammad Natsir juga menyatakan bahwa salah satu tantangan dakwah Islam di Indonesia adalah “nativisasi”. Yakni, usaha mengecilkan Islam, dengan cara mengagung-agungkan kejayaan zaman pra-Islam. Cara ini juga dilakukan oleh penjajah di berbagai negeri muslim. Tujuannya agar umat Islam tidak memiliki kebanggaan terhadap keagungan sejarah Islam.

Dengan gambaran tentang Majapahit dan Kerajaan Islam seperti itu, maka bisa dipahami, jika anak-anak sekolah tidak memiliki persepsi positif terhadap tokoh-tokoh Muslim, seperti Raja Muslim pertama di Tanah Jawa, yakni Raden Patah, salah satu murid utama Sunan Ampel di Surabaya.

Itulah sejumlah contoh tentang kontroversi sejarah Kejayaan Indonesia di masa lalu. Karena itu, perlu ditulis satu sejarah baru tentang Kejayaan Indonesia di masa lalu, dengan motivasi utama untuk membangun keberasamaan dan kejayaan Indonesia di masa depan. Meskipun sangat tidak mudah, sejarah harus ditulis seobjektif mungkin. Sekaranglah saatnya para sejarawan muslim mengambil inisiatif merumuskan masa lalu dan masa depan Indonesia. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 16 Januari 2022).*

Penulis Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HinduindonesiaislamKerajaan Mahapahit
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perbanyaklah Istighfar, Hidup Lebih Berkah, Dosa Luntur
Tulisan selanjutnya Peneliti: Minum Tiga Cangkir Kopi Sehari Membantu Memperpanjang Usia?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?