RAFI Chalijah, ibu muda yang tinggal di Depok, Jawa Barat sangat panik. Bagaimana tidak, suhu tubuh anak keduanya, Hafsah (9 bulan), mencapai angka 40 derajat Celcius. Pada suhu tersebut anak mengalami panas yang sangat tinggi. Yang dikhawatirkan ibu kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini, buah hati kesayangannya itu mengalami kejang.
Betul saja. Hari kedua, meski suhu tubuhnya turun satu tingkat, justru Hafsah mengalami tanda-tanda kejang; tubuh kaku, gigi rapat, bibir membiru, dan mata mendelik. Mereka langsung memutuskan membawa Hafsah ke rumah sakit terdekat. Alhamdulillah, kejang itu tidak berlangsung lama, setelah para medis memberikan oksigen, infus, dan obat melalui anus.
“Ini pengalaman pertama saya, anak pertama tidak pernah mengalami hal demikian,” ujar Rafi. Saran dokter kepada Rafi, agar segera memberikan obat penurun panas jika Hafsah mengalami sakit panas. “Apalagi Hafsah sudah mempunyai riwayat kejang,” tambah Rafi.
Menurut dr Haidar Bawazier, Sp.PD dari Rumah Sakit Al-Qadr Tangerang, Banten, penyakit panas terjadi akibat banyaknya virus, bakteri, atau parasit di dalam tubuh. “Bisa juga karena infeksi yang terjadi dalam tubuh, bisa di bagian apa saja,” kata Haidar kepada Suara Hidayatullah melalui sambungan telepon.
Nah, pada kasus anak-anak, jika peningkatan suhu mencapai lebih dari 38 derajat, kemungkinan terjadinya kejang sangat besar. Karenanya, Haidar sangat menganjurkan, “Jika sudah ada tanda-tanda panas, harus segera diberi obat penurun panas. Bila punya riwayat kejang, orangtua sebaiknya punya persediaan obat anti kejang di rumah.”
Peristiwa kejang yang kerap terjadi pada anak di bawah 5 tahun, kata Haidar, perlu segera mendapatkan penanganan medis. Pasalnya, saat seorang anak mengalami kejang, terjadi kekurangan asupan oksigen ke otak. “Jika ini berlangsung lama, bisa menyebabkan kelainan pada otak,” tegasnya. Karena itu, ada baiknya setiap orangtua mewaspadai jika sang buah hati mengalami panas tinggi.
Tangani Segera
Sementara itu, dr Sri Septriyani, menambahkan, selain adanya infeksi, mungkin ada kuman yang masuk ke dalam tubuh. Penyebab lain dari meningkatnya suhu tubuh adalah kondisi lingkungan yang terlalu panas, aktivitas fisik, dan sebab lainnya.
Peningkatan suhu, jelas dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, diatur oleh hipotalasmus yang terletak di otak. Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, hipotalasmus akan mengatur suhu tubuh menjadi lebih tinggi dari normal. Lantas mengapa harus terjadi demam atau panas tinggi?
“Suhu yang tinggi merupakan cara tubuh berperang melawan kuman dan membuat lingkungan hidup kuman menjadi tidak nyaman. Selain itu, demam akan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh akan memproduksi lebih banyak sel darah putih, antibodi dan zat lain yang digunakan untuk melawan kuman,” ujar dokter yang juga mendalami pengobatan ala Nabi (thibbun nabawi) ini.
Jadi sebenarnya, demam yang disebabkan infeksi adalah tanda bahwa tubuh sedang bekerja melawan kuman dan sistem imun sedang bekerja maksimal. “Biarkan tubuh bekerja secara alami tanpa gangguan dari luar. Yang perlu dilakukan hanya menurunkan demam, terutama jika terjadi pada anak agar anak merasa nyaman dan dapat beristirahat dengan baik,” terang wanita yang biasa disapa dokter Yani ini.
Menurut Yani, selagi demam itu masih ringan dan tidak ada masalah yang berat tidak diperlukan obat-obatan. Cukup minum air yang banyak dan istirahat cukup, serta kompres dengan air biasa. “Penanganan demam tidak melulu dilakukan dengan obat-obat kimia sintetik,” kata dokter yang bertugas di Griya Sehat Jawi, Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat.
Kecuali, jelas Yani, pada situasi-situasi seperti: bayi dengan temperatur lebih dari 39,5 derajat Celsius, anak kurang dari 2 tahun dengan demam lebih dari 2 hari, demam yang berlangsung lebih dari 72 jam pada anak yang lebih tua dan orang dewasa. Apalagi, tambahnya, jika terdapat gejala-gejala lain yang mengkhawatirkan seperti gelisah, dan kesadaran menurun. Atau tampak sakit berat, sulit bernapas, kaku kuduk, lengan dan tungkai tidak dapat digerakkan, dan timbul bintik-bintik merah.
Menurut Yani, ada beberapa herba yang dapat digunakan untuk menurunkan demam.
Pertama, madu. Di dalam madu terdapat banyak zat bermanfaat yang dapat membantu tubuh untuk meningkatkan sistem imun. Berikan madu yang dicampur air matang sebagai minuman harian selama demam. Kedua, kaca piring (gardenia jasminoides). Daunnya dapat digunakan untuk kompres saat demam.
Selain itu, bisa juga digunakan asam jawa untuk membalur tubuh saat demam. “Asam jawa jika dibalurkan ke tubuh berfungsi membantu mendinginkan tubuh,” katanya. Cara penggunaannya, asam jawa dimasukkan ke dalam sedikit air hingga larut, lalu dibalurkan ke seluruh tubuh. “Jika kepala terasa panas, bisa digunakan untuk kompres,” ujarnya. Baluran asam jawa ini bisa digunakan selama tubuh masih terasa panas.
Untuk herba minum, bisa menggunakan pegagan (centella asiatica) atau akar alang-alang (imperata cylindrica). Pegagan merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di ladang, pematang sawah, dan taman. Tanaman ini biasanya berkembang baik dalam suhu dingin. Berdasarkan penelitian Prof Dr Ir Latifah K Darusman, MS, Kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB, pegagan bermanfaat untuk kesehatan, di antaranya menyembuhkan penyakit campak, hepatitis, demam, radang amandel, dan banyak lagi. Saat ini pegagan sudah banyak diproduksi menjadi teh celup. Jadi tak perlu repot-repot lagi untuk membuatnya secara tradisional.
Sedangkan akar alang-alang yang mengandung manitol, glukosa, sakharosa, malic, simiarenol, asam kersik, serta kandungan lainnya mempunyai sifat antipiretik (menurunkan panas), diuretik, hermostatik, dan menghilangkan haus. Sifat diuretik yang mengeluarkan cairan tubuh tak berguna ini bermanfaat mengontrol tekanan darah yang cenderung tinggi. “Cara membuatnya, akar alang-alang segar sebanyak 30 gram direbus dengan dua gelas air hingga mendidih, sisanya satu gelas air diminum dengan madu,” terang Yani.
Semua tindakan itu, tegas Yani, merupakan perawatan pertama sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang penyebab demam tersebut.*
Tips: Hadapi Anak Kejang
Demam tidak menyebabkan kejang pada anak. Jika saat demam anak mengalami kejang, maka ketika demam berikutnya harus segera diturunkan agar tidak terjadi kejang. Jika anak demam kemudian kejang, menurut dokter Sri Septriyani, ada hal sederhana yang dapat dilakukan orangtua:
a. Longgarkan pakaian anak.
b. Posisikan anak dalam keadaan miring.
c. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau di hidung.
d. Jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
e. Dampingi anak selama kejang.
f. Bawa ke pusat perawatan jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit. Kejang yang berlangsung lama (> 15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan otak.*