Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Hidayatullah.com | Demi Allah, aku tulis ini untuk menunjukkan kepada kalian tentang peristiwa yang para ulama ahlussunnah tidak mengingkari kesedihan atas wafatnya Al-Husain radhiyaLlahu ‘anhuma yang telah dinistakan oleh ‘Ubaidullah bin Ziyad.
Tengoklah sikap Zaid bin Arqam radhiyaLlahu ‘anhu tatkala melihat Ubadillah bin Ziyad menusuk-nusukkan pedangnya ke mata, bibir dan hidung Al-Husain. Perhatikan juga sikap jelas Anas bin Malik radhiyaLlahu ‘anhu yang ketika itu juga berada di sana dan memberi teguran kepada ‘Ubaidullah bin Ziyad. Apakah yang dapat kalian katakan tentang para sahabat Nabi yang mulia ini? Demi Allah Anas bin Malik radhiyaLlahu ‘anhu adalah ahlussunnah. Tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang bodoh.
Bekali diri kalian dengan ilmu berdasarkan riwayat yang shahih tentang perkara ini agar tidak mudah lisan berkomentar, padahal tidak memahami kedudukannya. Sesungguhnya di antara sebab rusaknya agama adalah mudahnya menebar tuduhan, padahal itu semata karena ketidaktahuan. Sesungguhnya, ahlussunnah wa jama’ah tidak bersikap seperti Mukhtar bin Abi ‘Ubaid yang melampaui batas dalam sikapnya kepada Al-Husain radhiyaLlahu ‘anhuma, tidak pula mengikuti Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi maupun Ubaidullah bin Ziyad yang menghinakan cucu Nabi ini. Ahlussunnah wal jama’ah mencintai cucu Nabi ini dan memuliakan. Para sahabat radhiyaLlahu ‘anhum ajma’in mencintai dan menghormati Al-Husain karena ia adalah ahlul-bayt yang paling besar.
Siapa yang mengingkari keutamaan Al-Husain radhiyaLlahu ‘anhu, hanya dua kemungkinannya: ia bodoh tentang agama ini atau ia seorang nashibi (pembenci ahlul bayt). Dan siapa yang karena kecintaannya kepada Al-Husain membenci para sahabat radhiyaLlahu ‘anhum ajma’in, maka dua pula kemungkinannya: ia bodoh tentang agama ini atau ia seorang rafidhi.
Ingatlah, ada dua golongan yang celaka karena kecintaannya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyaLlahu ‘anhu:
لِيُحِبُّنِيْ رِجَالٌ يُدْخِلُهُمُ اللهُ بِحُبِّيْ النَّارَ وَيُبْغِضُنِيْ رِجَالٌ يُدْخِلُهُمُ اللهُ بِبُغْضِيْ النَّار
“Sungguh akan ada orang-orang yang dimasukkan oleh Allah ke neraka karena kecintaan mereka kepadaku. Dan sungguh akan ada orang-orang yang dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka karena kebencian mereka kepadaku.”
Siapakah mereka? Rafidhah dan Nashibah.
Ada dua orang yang sangat tercela dari suku Tsaqif, dan kelak kita mengetahui bahwa keduanya muncul di masa Sayyidina Husain radhiyaLlahu ‘anhuma syahid di Karbala. Kata Rasulullah ﷺ:
سَيَكُوْنُ فِي ثَقِيْفٍ كَذَّابٌ وَمُبِيْرٌ
“Akan ada di Suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak.” (HR. Muslim).
Siapakah mereka? Para ulama menyebutkan bahwa pendusta dari suku Tsaqif itu adalah Mukhtar bin Abi ‘Ubaid. Sedangkan yang disebut perusak adalah Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang sangat terkenal kekejamannya.
Dan kelak akan muncul dua bid’ah yang sangat menakutkan berkaitan dengan peristiwa Karbala ini. Bid’ah pertama ialah ritual meratap-ratap, menyakiti diri sendiri, menampar-nampar diri dan melaknati para sahabat radhiyaLlahu ‘anhum ajma’in. Sedangkan bid’ah yang kedua adalah membuat pesta kesenangan dan merayakan Hari Asyura. Padahal ini adalah hari terbunuhnya Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma secara zalim, dan cucu Rasulullah ﷺ ini syahid pada peristiwa tersebut. Padahal inilah kematian secara zalim orang yang kita wajib mencintainya, sesuai keyakinan ahlussunnah wa jama’ah. Pada saat yang sama, kita tetap menjaga penghormatan kita dan kecintaan kepada para sahabat radhiyaLlahu ‘anhum ajma’in.*
Penulis buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah