HARI Kamis malam, 10 Oktober 2013, di kelas Tadabbur Ustadz Bachtiar Nasir selaku pimpinan Ar-Rahman Quranic Learning Islamic Center (AQLIC) mengumumkan ditutupnya pendaftaran kuota Kursus Pra Nikah Islami (KPNI).
Rupanya, pengumuman tersebut mengagetkan ratusan orang yang hadir di sana. Mereka merasa waktu yang diberikan sempit. Padahal kelas untuk batch (angkatan) 7 dimulai bulan November mendatang.
“Tanggal 3 pembukaan kami umumkan melalui blog apwa.wordpress.com, kemudian twitter, serta web AQL. Malam harinya pendaftar sudah 33 orang,”terang Siti Hajar Qadarinsyah, seksi acara KPNI.
Padahal, menurut perempuan yang akrab dipanggil Ririn itu, kuota yang dibutuhkan untuk peserta perempuan hanya sekitar 55 orang dari total peserta 85 orang. Dari setiap angkatan, peminat perempuan lebih tinggi dari pria.
Menurut Siti Hajar, kebijakan APWA lebih memprioritaskan kehadiran peserta pria.
“Sebetulnya kami ingin agar porsinya berimbang. Selama ini, hampir 90 persen peserta Ar-rahman Pre-Wedding Academy (APWA) adalah wanita. Jadi ketika ada pria yang ingin mendaftar, walaupun kuota sudah mepet, tetap kami berusaha mencarikan kursi,”ulasnya.
Jika terjadi keberimbangan antara jumlah pria dan wanita, maka kelas terasa lebih hidup. Pertanyaan yang dilontarkan pada pembicara tidak hanya bergulir seputar wanita tapi juga tentang pernikahan dari sudut padang pria.
“Itu terjadi pada saat batch 6 kemarin. Jumlah ikhwannya ada 30 orang. Sedangkan wanita 55 orang. Kelas jadi lebih hidup dan terutama pada saat outbond, banyak ide-ide kreatif datang,”ungkap wanita yang dipanggil Ririn.
Ririn mengatakan harus memperhatikan kondisi psikologis dalam memasarkan kegiatan ini pada pria. “Misalnya, kami baru SMS para ikhwan seminggu sebelum pendaftaran ditutup. Takutnya kalau jauh-jauh hari, mereka merasa diintimidasi,”tutur Ririn tersenyum.
Alhamdulillah, untuk Batch 7 kali ini, peserta pria hampir mendekati angka 20 orang. Hal itu salah satunya karena pada bulan April lalu APWA menyelanggarakan Seminar Pra-Nikah Islami (SPNI) di Gedung SMESCO, Jakarta.
Seminar tersebut dihadiri 2000 peserta. Seminar tersebut merupakan acara lainnya dibawah kepengurusan APWA. Orang-orang yang sudah mendaftar KPNI pada batch lalu tapi masuk daftar tunggu, akan diprioritaskan pada batch berikutnya. Peserta yang masuk daftar tunggu ada kemungkinan berhasil mengikuti perkuliahan dikarenakan ada calon peserta yang mengundurkan diri.
Selain memprioritaskan kehadiran peserta pria, KPNI juga mengutamakan pendaftar yang usianya lebih lebih mendesak untuk segera menikah.
KPNI telah diselenggarakan sejak tahun 2010. Tujuan diselenggarakannya KPNI untuk memberikan bekal pengetahuan yang memadai kepada umat Islam tentang pra nikah & pernikahan yang sesuai syariat Islam. Dimulai dengan 50 orang peserta, AQLIC penuh percaya diri menggaungkan kursus yang bertujuan untuk membentuk tatanan sosial ilahiah ini.
Biaya kursus selama tiga bulan, dengan 12 kali pertemuan itu hanya Rp.500 ribu saja. Perkuliahan berlangsung setiap hari minggu, mulai jam 08.00-12.00.
“Sudah termasuk murah jika kita bandingkan dengan kursus pra nikah lainya yang harganya bisa jutaan,”ungkap Ririn. Harga tersebut sesuai dengan materi-materi penting yang disampaikan.
Setiap tahun, harga kursus mengalami peningkatan. Mulai Rp. 600 ribu, Rp. 700 Ribu dan hingga kini mencapai Rp. 800 ribu. Bagi Widuri, calon peserta Batch 7, biaya kursus pra nikah termasuk masih terjangkau.
“Sekalipun kalau bicara materi, belum tentu-uang sebesar itu- ada, tapi Ari selalu berprinsip ternyata ilmu Allah begitu murah meriah. Kitanya saja yang selalu berat,”ulas perempuan yang akrab dipanggil Ari itu.
Selain bobot materi, Ia melihat kesesuaian harga dengan narasumber yang menyampaikan materi tersebut. Beberapa diantaranya seperti Ustadz Khalid Basalamah dan Bendri Jaisyurrahman. Ustadz Khalid dikenal dengan kajiannya yang mendalam tentang fikih nikah dan Hadits. Sedangkan Ustadz Bendri, psikolog yang dikenal publik lewat materi keayahan (fathering), yakni berusaha mengajak kaum pria untuk lebih berperan dalam rumah tangga.
KPNI berusaha membahas semua pernak-pernik pernikahan dilihat dari sudut pandang Islam termasuk kesehatan dan keuangan keluarga.
KNPI adalah salah-satu kegiatan yang diselenggarakan lembaga Ar-rahman Pre-Wedding Academy (APWA), sebuah lembaga pendidikan yang fokus pada pendidikan rumah tangga Islami dengan sasaran membangun komunitas pembinaan keluarga Islami bagi muda-mudi yang siap menikah dan usai menikah.
Program APWA biasanya bertumpu pada Kursus Pra Nikah Islami (KPNI), Seminar Pra Nikah Islami. Materi-materinya berupa; Agama Islam, akhlaq & etika pra nikah & pernikahan islami, manajemen rumah tangga islami, hukum perkawinan bagi orang Islam di Indonesia, psikologi keluarga islami, parenting (pola asuh) islami, keuangan keluarga hingga kesehatan pra nikah. Termasuk outbond yang dilakukan di akhir perkuliahan setelah semua teori sudah diberikan.
APWA berusaha menampilkan narasumber yang memiliki jam terbang dalam bidangnya. Seperti Prof. Wahyuning Ramelan, SP.And yang merupakan Androlog dari RSCM. Juga dengan Neng Djubaedah, SH, MH yang merupakan Anggota Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Seiring berjalannya waktu, peminat KPNI yang diselenggarakan APWA justru meningkat.
Menurut Ririn, sampai yang paling banyak setelah seminar pra nikah bulan April lalu. Di mana yang mendaftar bisa sampai 300 orang.
Bahkan pada bulan April lalu mampu mengumpulkan 2000 peserta dengan persiapan hanya hitungan bulan saja.
“Dari sana gaung APWA dan KPNI mulai terdengar. Banyak yang daftar KPNI,”jelas Ririn.
Setiap tahunnya jumlah peserta mengalami peningkatan. Tahun 2011 peserta meningkat menjadi 65 orang. Jumlah kuota tetap dipertahankan dengan jumlah yang sama sampai dengan batch III. Jumlah tertinggi 85 orang dan terus dipertahankan sampai batch 7. Sampai saat ini telah diselenggarakan sebanyak 6 (enam ) batch (angkatan) dengan jumlah alumni sebanyak 390 orang.
KPNI memang semakin banyak peminatnya. Namun Ririn mengakui keterbatasan tempat membuat pihaknya hanya mampu membatasi kuota sampai 85 orang. Jumlah tersebut dikatakan Ririn adalah jumlah maksimal yang saat ini bisa diberikan.
“Sebetulnya jika melihat kapasitas kelas, peserta bisa mencapai 120 orang. Tapi kami tidak mau hanya karena kuantitas, kemudian mengurangi kualitas materi peserta,”ulasnya.
Ari merasakan pentingnya mengikuti seminar ini. Perempuan berusia 29 tahun itu sudah menunggu kehadiran APWA sejak tahun 2012. Ia mengaku baru tahu bahwa ternyata ada juga pihak yang memfasilitasi pernikahan Islami.
“Kasus pernikahan dan rumah tangga datang silih berganti. Ada banyak kasus disekitar kehidupan pribadi, baik orangtua ataupun saudara-saudara, tapi sedikit solusi yang Islami,”katanya.
Ia senang sekali ketika mendapat kabar dirinya terdaftar dalam perkuliahan KPNI batch 7. Begitu kirim SMS. langsung dapat balasan jawaban dari panitia kalau kelas sudah full. Ia mengaku pasrah saja. Tapi selasa kemarin ia mendapat info bahwa ada yang mengundurkan diri, dan Ari yang sudah masuk waiting list.
“Alhamdulillah rezeki,”ungkap perempuan dengan panggilan akrab Ari ini.*
Berlanjut artikel berikutnya APWA akan goes to campus..