Oleh Brandon Turbeville
4) Apakah Monis Mencinta Istri dan Takut dengan Keselamatan Istrinya, atau Apakah Dia Membunuh Istrinya?
Perhatikan pada pernyataan Monis sebelumnya, salah satu keluhan Monis terhadap pemerintah Iran bahwa ia secara pribadi tidak hanya dianggap berbahaya karena mengajarkan “liberal”, tapi keluarganya juga berada dalam bahaya. Ia menyatakan, keluarganya sedang disandera oleh rezim Iran. Namun, merujuk ke tahun 2013, Monis menghadapi tuduhan “upaya dan tindakan pembunuhan [mantan istrinya] Noleen Hayson Pal, 30, yang ditikam 18 kali dan dibakar di luar Sydney barat pada bulan April.”
Dengan demikian perhatian Monis terhadap keselamatan diri istrinya di tangan pemerintah Iran, tidak cocok dengan ulahnya yang dituduhkan kepadanya di Australia. Jika Monis belakangan digambarkan media sebagai “Syeikh yang dibenci” terkait pembunuhan mantan istrinya, lalu mengapa media yang sama dulu menggambarkan dia sebagai pecinta liberal?
Hal yang juga harus dicatat bahwa Monis baru-baru ini membuat reputasi untuk dirinya dengan mengirimkan surat kebencian kepada keluarga tentara Australia yang tewas di Afghanistan. Surat Monis ini menimbulkan ketegangan antara faksi-faksi pro dan anti-perang di masyarakat Australia dan cukup menimbulkan kontroversi publik.
5) Ulama Syiah di Australia tidak percaya Monis
Pada tahun 2008, para pemimpin agama Syiah di Australia telah meminta agen keamanan Federal Australia untuk menyelidiki Monis dan aktivitasnya. Satu artikel di Australia melaporkan,
Agen Federal didesak oleh pemimpin senior Syiah, Kamal Mousselmani, untuk menyelidiki seorang pria Iran yang mengaku ulama Islam terkemuka.
Mousselmani kepada The Australian mengungkapkan, misteri ulama –yang diidentifikasi sebagai Ayatollah Boroujerdi Manteghi di websitenya, yang tampil dengan nama Syeikh Haron– bukanlah pemimpin spiritual Syiah sesungguhnya.
Dia mengatakan, tidak ada ayatullah –jabatan tertinggi Syiah– di Australia, dan tidak seorang pemimpin spiritual Syiah di Australia tahu siapa Ayatollah Boroujerdi atau yang mengaku Syeikh Haron.
“Kami tidak tahu dia dan kita tidak punya hubungan dengan dia,” kata Mousselmani. “Polisi federal harus menyelidiki siapa dia. Ini menjadi tanggung jawab mereka.”
Cartalucci menambahkan dalam artikelnya,
“Media Australia itu sendiri yang memperkenalkan Monis secara terbuka sebagai “Ayatollah” dan pemerintah Australia mengetahui dia dan diduga seseorang yang mendapat suaka politik. Dia diduga berhubungan dengan PBB dan digunakan untuk membangkitkan sentimen anti-Iran di Australia. Patut dicurigai jika saat ini media Australia dan pemerintah Australia tidak memiliki pengetahuan tentang siapa dia atau dari mana dia berasal.
Kesimpulan:
Apapun gambaran sosok Monis sesungguhnya –seorang penderita sakit mental, orang yang menjadi kambing hitam, atau alat badan-badan intelijen Barat—tampak ada banyak gambaran sesungguhnya tentang Monis dibanding apa yang disajikan oleh media.
Paling tidak, satu-satunya hal yang dapat ketahui dengan pasti, “Pengepungan Sydney” ini akan digunakan sebagai propaganda untuk efek maksimal oleh semua pemerintah Barat dan NATO guna mendorong perang lebih lanjut di luar negeri dan menerapkan kesiapsiagaan tinggi di dalam negeri.*
Penulis tinggal di Florence, Carolina Selatan, Amerika Serikat. Dia memiliki gelar sarjana dari Francis Marion University dan merupakan penulis dari enam buku: Codex Alimentarius — The End of Health Freedom, 7 Real Conspiracies, Five Sense Solutions and Dispatches From a Dissident, volume 1and volume 2, and The Road to Damascus: The Anglo-American Assault on Syria. Tulisannya ini dimuat di Global Research.