Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Salah Paham Tāhā Husain tentang Ibn Khaldūn

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Februari 2014 10:48 10:48 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Februari 2014 10:48
Bagikan
Bagikan

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

IBNU KHALDUN (732-808 H/1332-1406 M) adalah pemikir besar, sosiolog Muslim terkemuka. Nalarnya setara dengan Montesqueu dan Mably. Bahkan, ia merupakan “kakek” pemikiran para sosiolog modern sekelas Tarde dan orientalis Gobineau.

Posisinya sebagai pencetus ilmu sosiologi tidak ada seorang pun yang meragukannya. Lebih dari itu, sebelum menjadi seorang sosiolog terkenal, ilmu-ilmu agama telah dilahapnya sejak awal masa belajarnya di Tunisia. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri. Kemudian dari guru-gurunya yang lain dia mengambil berbagai cabang ilmu, seperti: Al-Quran, Tafsir, Hadits, Fiqh, Usūl al-Fiqh, Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Syair, Logika (al-Manthiq), Filsafat, bahkan musik.

Penguasaan Ibn Khaldūn terhadap ilmu-ilmu agama dari sana tampak jelas bahwa Ibn Khaldūn adalah seorang alim besar, karena banyak berguru kepada ulama besar di zamannya. Sehingga sekian banyak buku telah dilahapnya dari para gurunya tersebut.

Hanya Tāhā Husain saja yang sepertinya meragukan penguasaan buku-buku yang dikatakan oleh Ibn Khaldūn dalam autobiografinya, seperti Muktasar ibn al-Hājib dan kitab al-Aghānī.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan

Karena Ibn Khaldūn menyebutkan bahwa Mukhtasar Ibn al-Hājib sebagai kitab fiqh dalam madzhab Maliki, Tāhā Husain berkomentar bahwa itu keliru. Karena Mukhtasar Ibn al-Hājib adalah kitab “Usūl al-Fiqh”, bukan kitab Fiqh seperti yang ditulis oleh Ibn Khaldūn.

Dan mengenai kitab al-Aghānī, Tāhā Husain menyatakan bahwa Ibn Khaldūn dalam autobiografinya menyebutkan pernah melihat naskah buku tersebut. Dan dalam al-Muqaddimah-nya dia menyatakan bahwa mustahil untuk mendapatkan naskah buku tersebut. Ini jelas, kata Tāhā Husain bahwa Ibn Khaldūn hanya mengenal judulnya saja. (Lihat, Tāhā Husain, Falsafah Ibn Khaldūn al-Ijtimā‘iyyah: Tahlīl wa Naqd, Terj. Muhammad ‘Abd Allāh ‘Anān (Mesir: Matba‘ah al-I‘timād, cet. I, 1343 H/1925 M), hlm. 11-12).

Agaknya Tāhā Husain keliru memahami pernyataan Ibn Khaldūn. Karena dia belum tuntas menghafal kitab tersebut. Dengan tegas Ibn Khaldūn menyatakan ketika berbicara tentang gurunya Muhammad ibn Sa‘d ibn Burrāl seperti berikut:((ودرست عليه كتبا جمة مثل كتاب التسهيل لابن مالك مختصر ابن الحاجب في الفقه ولم أكملهما بالحفظ))
(Aku belajar kepadanya tentang banyak buku, seperti kitab al-Tashīl karya Ibn Mālik dan Mukhtasar Ibn al-Hājib dalam bidang Fiqh, yang belum hafal secara tuntas). (Ibn Khaldūn, Tārīkh Ibn Khaldūn (Kitāb al-‘Ibar), Jilid VII (Beirut-Lebanon: Dār al-Fikr, 1421 H/2001 M), hlm. 511).

Artinya, Ibn Khaldūn hanya menyebutkan contoh level buku-buku yang dipelajarinya di masa itu. Konon lagi banyak terdapat buku-buku ringkasan dari kitab-kitab besar itu, yang khusus dipelajari oleh para pemula. Ini tentu tidak layak untuk dibanggakan ketika masih dalam masa talaqqī kepada para syaikh.

Selain itu, sejatinya Ibn Khaldūn tengah memberi pelajaran penting kepada kita, yaitu: dalam belajar dan menuntut ilmu itu harus jeli nan teliti dalam mencatat (al-diqqah). Sehingga dia menyampaikan dengan detail bagian kitab mana yang belum dipelajarinya secara tuntas.

Misalnya dia mengatakan, “Aku membacakan kitab Sahih Muslim ibn al-Hajjāj kepada ‘Alī Muhammad ibn Jābir al-Qaisī, dan aku hanya meninggalkan sebagian kecil dari bab buruan (kitāb al-said).” (Ibn Khaldūn, Kitāb al-‘Ibar, VII: 512. Lihat juga, Ibn Khaldūn, al-Ta‘rīf bi Ibn Khaldūn wa Rihlatuhu Gharban wa Syarqan (Dār al-Kitāb al-Lubnānī, 1979), hlm. 19).

Tentang kitab Ibn al-Hājib sendiri, yang dikutip juga oleh Tāhā Husain, Ibn Khaldūn menyatakan ولم أكملهما بالحفظ (keduanya belum tuntas aku hafal). Ini artinya Ibn Khaldūn sangat detail dan teliti dalam meriwayatkan apa yang tengah dipelajarinya ketika itu.

Maka, tidak benar apa yang dikatakan oleh Tāhā Husain dalam bukunya itu. (Dr. ‘Alī ibn ‘Abd al-Wāhid Wāfī, ‘Abd al-Rahmān ibn Khaldūn: Hayātuhu wa Ātsāruhu wa Mazhāhir ‘Abqariyyatihi (Kair: Maktabah Misr, ttp), hlm. 29-30).

Semestinya, Tāhā Husain jeli melihat apa yang dikatakan oleh Ibn Khaldūn dalam pernyataan keduanya belum tuntas aku hafal.

Artinya: ada dua kitab Mukhtasar Ibn al-Hājib, yang memang berkaitan. Karena ternyata Ibn Hājib memiliki kitab ringkasan dalam Fiqh Imam Mālik yang dikenal dengan al-Mukhtasar al-Fiqhī atau al-Far‘ī, atau al-Jāmi‘ baina al-Ummahāt. Kitab ini banyak disyarh (dijelaskan) oleh ulama Maghrib, seperti al-Qādī Ibn ‘Abd al-Salām al-Tūnisī (guru Ibn Khaldūn) dan ‘Īsā ibn Mas‘ūd al-Munkilātī. (Dr. ‘Abd al-Wāhid Wāfī, ‘Abd al-Rahmān ibn Khaldūn, hlm. 31).

Dan mengenai kitab Mukhtasar Ibn al-Hājib ternyata dua-duanya – baik dalam Fiqh maupun Usūl al-Fiqh – telah dipelajari oleh Ibn Khaldūn. Dua-duanya disebutkan di dalam al-Muqaddimah. (Lihat, Ibn Khaldūn, al-Muqaddimah (Beirut-Lebanon: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. IX, 1427 G/2006 M), hlm. 36. Lihat juga, lihat Ibn Khaldūn, Kitāb al-‘Ibar, VII: 511, 512).

Begitu juga halnya dengan kitab al-Aghānī yang ternyata telah dipelajarinya, dan sebagian besar syair yang ada di dalamnya telah dihafalnya. (Lihat, Dr. ‘Alī ‘Abd al-Wāhid Wāfī,‘Abd al-Rahmān ibn Khaldūn, hlm. 33-36).

Dengan demikian, apa yang dikatakan oleh Tāhā Husain tak lebih dari tuduhan belaka. Karena ternyata pembacaannya terhadap penjelasan Ibn Khaldūn sendiri belum tuntas. Kesimpulan seperti itu tentu saja kontraproduktif sekaligus tidak ilmiah. Wallāhu a‘lamu bi al-shawāb.*

Penulis adalah guru di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia (Jakarta: Cakrawal Publishing, 2012)”

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gara-Gara 4 Jari Diplomat Bosnia Diprotes Mesir
Tulisan selanjutnya Penyebab Akhir Kehidupan yang Menyedihkan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Audiensi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dalam membahas potensi dan tata kelola pelaksanaan dam Haji di Indonesia, termasuk peluang pemanfaatan daging dam bagi masyarakat yang membutuhkan di Jakarta, Rabu (292026). ANTARAHO-Baznas RI
Berita

Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Berita
3 September 2026 15:08
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

Terbaru

  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

5 Januari 2023 14:30
ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?