Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Baik-Buruknya nilai Pancasila Bergantung Siapa Perawatnya

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Februari 2014 06:53 6:53 am
Ahmad
Dipublikasikan 25 Februari 2014 06:51
Bagikan
Habib M Rizieq Syihab
Bagikan

Hidayatullah.com–Pancasila telah mengalami perubahan signifikan, terutama pada sila pertama. Tafsir sila pertama Pancasila, selalu tergantung pada perawatnya, tergantung rezim yang berkuasa.

Sebagai contoh, pada era Orde Lama, Pancasila dirawat oleh Soekarno yang pengagum Karl Marx. Karena itu sila pertama kemudian ditafsirkan supaya bisa menerima sosialisme.

“Pada zaman Orde Baru, Pancasila dirawat oleh Soeharto seorang penganut kejawen, yang kehidupannya penuh mistik. Soeharto menafsirkan sila pertama juga untuk menguntungkan pemahamannya,”demikian disampaikan  Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab saat menjadi pemateri Pengajian Politik Islam (PPI), di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Ahad lalu.

“Tafsir Pancasila seperti apa, tergantung siapa yang merawatnya. Pancasila zaman Soekarno, maka Pancasila yang lebih sosialis-Komunis. Pancasila zaman Soeharto, maka mengarah pada mitologi karena Soeharto kejawen dan menyukai hal-hal mistis, sampai akhirnya Pancasila dimitologikan sehingga lahir Hari Kesaktian Pancasila,”ucapnya.

Lebih lanjut peraih gelar sarjana jurusan Studi Agama Islam (Fikih dan Ushul), King Saud University, Riyadh, Arab Saudi itu memaparkan, jika di zaman Soekarno melalui Pancasila lahir Partai Komunis Indonesia (PKI), maka di zaman Soeharto lahir aliran kebatinan (kepercayaan) yang disahkan oleh TAP MPR. Padahal kebatinan tidak masuk dalam Ketuhanan Yang Maha Esa.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Kini, di era reformasi, ternyata Pancasila ditafsirkan dengan selera liberal. Sebab menurut Habib rizieq, kaum liberal-lah yang kini berkuasa. Karena itu, sila pertama Pancasila selalu ditafsirkan untuk melindungi aliran sesat.

Mengisi Pembangunan

Penulis buku “Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah” juga menyinggung bawah dasar negara Indonesia dibingkai dalam Piagam Jakarta berupa lima dasar.

Pertama, ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kedua,  kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga. persatuan Indonesia.  Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Malah sebelumnya, bunyi sila pertama adalah ‘ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam’, tanpa diikuti kalimat ‘bagi pemeluk-pemeluknya’. Tetapi kemudian muncul kompromi dengan menambah kalimat ‘bagi pemeluk-pemeluknya’,”ungkapnya.

Perubahan  sila pertama, menurut Habib, karena ada tarik-menarik pendapat antara para ulama yang masuk dalam Panitia Sembilan sidang BPUPKI dengan orang-orang sekuler.

Menurut mantan Ketua Umum FPI itu, sidang BPUPKI berjalan alot. Pendapat terbelah antara kelompok sekuler dengan kelompok Islam. Kelompok Islam sudah tentu menginginkan negara berdasarkan aturan Islam. Namun itu ditentang kelompok sekuler.

Ia juga menyebut keterlibatan para ulama; KH Abdul Wahid Hasyim (NU), KH Abdul Qohar Muzakkir (Muhammadiyah), KH Agus Salim dan Abikoesno Tjokrosoejoso-keduanya dari Syarikat Islam, yang merupakan nama-nama ulama yang ikut merumuskan dasar negara versi Piagam Jakarta.

Malangnya, pada 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang tanpa melibatkan wakil-wakil Islam sebagaimana sidang BPUPKI sebelumnya.

Dalam sidang itu diputuskan ada tujuh kata dalam sila pertama yang dicoret: ‘kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’.

Belajar dari sejarah bangsa, pria kelahiran Jakarta 1965 itu menegaskan, umat Islam sebagai pelaku sejarah di negeri ini seharusnya mengisi pembangunan republik dengan landasan syariat Islam.

Sebelumnya, ia juga sempat mengatakan Indonesia telah menerapkan 75 % nilai-nilai syariat Islam. Terbukti diperbolehkannya menjalani ibadah shalat, haji dan umroh, hadirnya lembaga pendidikan Islam, berdirinya pengadilan agama, penggunaan hukum waris Islam, serta menjamurnya bank syariah, sebagai bukti syariat Islam telah ditegakkan.

Ia juga mengingatkan umat Islam tidak sibuk mempedebatkan boleh tidaknya demokrasi dan sebagaiknya berfokus merebut kekuasaan melalui Pemilu.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:pancasila
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Raja Yordania Kunjungi Indonesia
Tulisan selanjutnya Stanford Larang Merokok dan Menjual Produk Tembakau di Kampus

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?