Hidayatullah.com– Kementerian Infrastruktur Belanda menaikkan status penilaiannya terhadap pasokan air negeri kincir angin itu menjadi “kekurangan air aktual” disebabkan temperatur udara tinggi dan kurangnya curah hujan.
“Akibat kekeringan yang berkepanjangan, air yang masuk ke negeri kita melalui hujan dan sungai-sungai semakin berkurang, sementara permintaan terhadap air terus meningkat,” kata Kementerian Infrastruktur dan Pengelolaan Air dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari Kamis (17/7/2026) seperti dilansir Dutch News.
Sejak awal Juli, Belanda menetapkan status Level 1 atau “kekurangan air yang akan segera terjadi”, tetapi sekarang statusnya ditingkatkan menjadi Level 2 atau “kekurangan air yang sebenarnya”.
Otoritas air Belanda mengatakan bahwa pasokan air minum tidak terdampak dan badan-badan penanganan urusan air sedang bekerja sama untuk mendistribusikan air bersih ke seluruh pelosok negeri.
Bidang pelayaran ikut terdampak dengan masa tunggu kapal dan perahu yang akan melintasi di pintu-pintu air menjadi lebih lama. Tidak hanya itu, pihak kementerian juga melihat adanya peningkatan kehadiran algae biru-kehijauan dan tingkat kematian ikan.
Pihak-pihak berwenang sudah memberlakukan pembatasan pemakaian air tanah dan penyedotan air dari kanal-kanal dan anak sungai. Beberapa pintu air sudah ditutup guna mencegah masuknya air asin.
Limburg, daerah yang paling parah terdampak kekeringan, akan mulai hari Jumat memperketat aturan penggunaan air. Lapangan-lapangan sepakbola tidak lagi boleh disirami air dan sebagian petani juga wajib mematuhi peraturan pembatasan penggunaan air.
Terakhir kali Belanda memberlakukan status Level 2 adalah saat terjadi penyusutan pasokan air tahun 2022. Apabila kekeringan kali ini berkepanjangan, pihak berwenang kemungkinan akan menaikkan status menjadi Level 3, yang berarti terjadi krisis air nasional, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2003.*




