Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
RamadhanSejarah

Inilah Tradisi Ramadhan Para Khalifah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Maret 2023 11:21 11:21 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Maret 2023 11:20
Bagikan
Khalifah Utsmaniyah memfasilitasi bulan Ramadhan untuk ibadah dan pesta malam bersama penduduk kotanya
Bagikan

Para pemimpin Muslim memuliakan bulan Ramadhan dengan berbagai aktivitas. Apa contohnya?

Hidayatullah.com | BAGI umat Islam, kehadiran bulan Ramadhan merupakan anugerah. Hal itu dikarenakan banyaknya keutamaan di dalam bulan turunnya Al-Quran tersebut.

Sangat layak jika kaum Muslimin menyambut datangnya bulan mulia itu dengan penuh suka-cita. Juga mengisinya dengan aktivitas yang mulia.

Hal ini dilakukan mulai dari rakyat jelata, hingga para penmimpinnya.  Para pemimpin Muslim yang bertanggung jawab atas terjaganya ajaran agama  menyambut bulan mulia dengan berbagai macam aktivitas.

Bagi mereka, Ramadhan adalah bulan yang harus diberi prioritas perhatian.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Kajian Keilmuan

Salah satu kegiatan di istana yang semarak di bulan Ramadhan adalah kajian ilmu-ilmu keislaman. Hal ini misalnya digalakkan oleh Khalifah al-Qadir Billah, salah satu penguasa di era Bani Abbasiyah.

Khalifah al Qadir Billah dikenal sebagai pemimpin yang mencintai ilmu. Dalam fiqih, al Qadir yang bermazhab Asy-Syafi’i berguru kepada seorang ulama besar di masanya, Abu Bisyr Ahmad al-Harawi. (Styar A’lam An-Nubala’, 15/ 127).

Tidak cuma berguru

Khalifah al-Qadir Billah juga manpu menghasilkan beberapa karya. Di antaranya adalah kitab yang berisi tentang berita wafatnya Rasulullah ﷺ.

Khalifah juga menulis kitab bantahan terhadap kaum Mu’tazilah serta kitab yang menerangkan perselisihan antara Abdul Azizi dan Bisyr al-Marisi. Ketiga kitab tersebut biasa dibacakan oleh Abu al-Hasan bin al-Hajib di hadapan para ulama dan para qadhi di istana Kekhalifahan Baghdad ketika bulan Ramadhan. (Tarikh

Islam, 28/ 268).

Kitab-kitab itu juga dibaca di Istana Malik al-Asyraf yang berada di Syam. Kala itu yang menjadi penasihat istana adalah Syeikh Syamsuddin, yang merupakan cucu dari Ibnu al-Jauzi.

Nasihat-nasihat Syeikh Syamsuddin memang amat dirindukan oleh umat ketika itu. Bahkan ketika ia menyampaikan nasihat di atas mimbar, jamaah yang hadir akan terbawa suasana hingga menangis tersedu-sedu dan berdiri dari majelis dengan mata sembab.

Majelis tersebut biasanya digelar setiap hari Sabtu di bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan.  Suatu saat, Syeikh Syamsuddin masuk ke istana Malik al-Asyraf kemudian memintanya untuk membaca kitab Maqasid ash-Shalat karya Imam Izuddin bin Abdissalam.

Kitab itu dibaca hingga selesai dan ia pun memujinya. Syeikh Syamsuddin kemudian menyampaikan kepada khalayak agar kitab tersebut dijadikan bahan bacaan.  Setelah itu, kitab Maqashid ash-Shalat pun tersebar dan banyak disalin. (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, 8/239).

Sya’ban bin Husain Qalawun yang berkuasa di Mesir juga menginisiasi pembacaan kitab selama bulan Ramadhan.  Misalnya yang dibaca adalah

Shahih al-Bukhari, dimulai pada bulan Rajab, berlanjut hingga Sya’ban, diakhiri di bulan Ramadhan. Pembacaan kitab hadits yang masyhur itu juga dihadiri oleh sultan, para ulama, serta para pejabat tings pemerintahan di kala itu. (an

Nujum az-Zahirah, 14/267).

Pambacaan Shahih al-Bukhari dilaksanakan di istana yang berada di dalam

Qal’ah Jabal (Benteng Gunung Bangunan ini sebelumnya dibangun oleh Shalahuddin al-Ayyubi di puncak Gunung Muqaththam. (Tarikh al- Khulafa, hal 430).

Tradisi di Istana Utsmaniyah

Di masa Daulah Utsmaniyah, tibanya bulan Ramadhan disambut oleh istana dengan berbagai macam kegiatan mulia.  Sultan yang berkuasa kala itu mengundang para duta besar negara-negara lainnya ke istana dalam rangka menyampaikan ucapan selamat atas datangnya bulan mulia.

Pihak istana juga mengundang masyarakat, baik yang Muslim mapun yang bukan, untuk berbuka puasa bersama di istana.  Diharapkan dengan langkah

Di istana Utsmaniyah juga didirikan shalat tarawih yang dihadiri oleh sultan.

Sedangkan di waktu akhir Ramadhan, maka sultan, para menteri, serta para pejabat tinggi pemerintahan menghadiri shalat tarawih di Masjid Aya Shofiyah. Pihak istana juga memerintahkan agar dipasang lampu-lampu berbagai warna di jalanan-jalan untuk menyemarakkan suasana Ramadhan.

Di masa berkuasanya Sultan Musthafa III, diadakan tradisi baru semasa bulan

Ramadhan, yakni pembacaan kitab tafsir karya lmam al-Baidhawi yang dikuti oleh sultan. Tatsir yang satu ini merupakan kitab yang dipandang istimewa oleh para penganut Mazhab Hanafi, yang merupakan mazhab fiqih resmi

Utsmaniyah saat itu.

Tradisi pembacaan tafsir al-Baldhawi ini terus berlangsung hingga berakhirnya kekuasaan Daulah Utsmaniyah. (at-Tarikh Kama Kana, hal 203). Pembacaan tafsir tidak mesti berurutan sesual urutan surat-surat pada mushaf. Pada tahun 1785 M, pembacaan tafsir dimulai dari Surat al-Fatihah.

Sedangkan pada tahun 1755 M, pembacaan dimulai dari Surat al- Isra’ hingga berlangsung sampai Ramadhan tahun 1778. Sedangkan pada Ramadhan tahun 1779-1784, dibaca Surat al-Fath. (Madzhahir al-Hadharah min ats-T’saqafah al-Utsmaniyah, hal 88).

Bulan Ramadhan juga menjadi kesempatan bagi sultan untuk bertemu rakyat secara langsung dalam jamuan buka puasa bersama. Sebagai timbal balik, hadirin kemudian mendoakan kebaikan untuk sultan. Tradisi ini disebut sebagai masabih murjaniyah.

Adapun para menteri dan pejabat lainnya, mereka membuka lebar-lebar rumahnya tiap hari Senin dan Jumat sepanjang Ramadhan.Masyarakat dijamu untuk berbuka puasa dengan berbagai macam hidangan, semisal buah-buahan, minuman, kacang-kacangan, serta berbagai jenis makanan lainnya.

Acara buka puasa bersama itu biasanya diiringi dengan bacaan Al-Qur an yang merdu. (at-Tarikh Kama Kana, hal 203, 204).*/Thoriq, Suara Hidayatultah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bulan RamadhanHeadlineKhalifahKhilafahPilihan RedaksiRamadhanTradisi Ramadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tiga Predator Asusila Anak Ditangkap Pihak Bareskrim Polri
Tulisan selanjutnya Bulan Ramadhan Ini, Menteri Iran dan Arab Saudi akan Bertemu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera

Berita
16 Oktober 2026 15:36
Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?